Brilio.net - Sempat muncul fenomena unik dan aneh ketika seorang gadis yang telah dinyatakan meninggal dunia, hidup dan kemudian meninggal kembali di Probolinggo, Jawa Timur. Terkesan kejadian langka, fenomena ini ternyat dapat dijelaskan oleh ilmu kedokteran, apakah si gadis tadi memang benar-benar meninggal atau sebenarnya masih hidup.

Dihimpun brilio.net dari merdeka.com pada Rabu(19/8), Dr Edi Suyanto SpF SH MH Kes, selaku Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr Sutomo FKUA Unair memaparkan, bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu Tanatologi. Ilmu ini berisi tentang penjelasan perubahan manusia secara fisik jika sudah benar-benar meninggal.

Ia menyebutkan ada 3 sistem yang dapat menjadi tolak ukur tentang hidup atau matinya seseorang. Ketiga sistem tersebut antara lain, sistem pembuluh darah atau kardiovaskuler, sistem pernapasan dan sistem saraf pusat.

"Tiga sistem itu lah yang menentukan orang dikatakan hidup atau mati. Yakni, berhentinya sistem pembuluh darah, berhentinya sistem pernafasan dan berhentinya sistem saraf pusat," ujarnya seperti yang brilio.net lansir dari merdeka.com.

Ia juga menambahkan, ada tanda lain juga yang dapat dilihat dengan kasat mata. Tanda lebam adalah tanda yang bisa dilihat dengan kasat mata, karena jasad manusia akan timbul lebam setelah 30 menit dinyatakan meninggal. Namun dijelaskan pula, bahwa lebam yang terjadi pada orang meninggal sangat berbeda dengan lebam memar.

"Orang kalau sudah meninggal tetap itu, dalam waktu 30 menit akan keluar yang namanya lebam mayat. Lebam tersebut timbul setelah sistem pembuluh darah mati, sistem pernapasan mati, dan sistem sarafnya mati," ucapnya

Dr Edi Suyanto juga menjelaskan yang dimaksud perbedaan antara lebam yang terjadi pada jasad dan lebam bengkak adalah letaknya. Bila lebam memar bisa terletak di mana saja sesuai dengan di mana letak benturan, sedangkan letak lebam pada jasad letaknya hanya akan terjadi di bagian tubuh yang paling dekat dengan tanah.

"Kalau warnanya bisa mirip, biru kehitam-hitaman," tandasnya.

Terkait dengan fenomena yang sempat terjadi di Probolinggo, ia menyebut dirinya sudah mengajarkan para tenaga kesehatan secara rutin bagaimana tanda jika seseorang telah wafat atau memang masih hidup. Sehingga, ia cukup menyesalkan fenomena unik ini bisa terjadi di Probolinggo.

"Kalau belum 30 menit memang tidak bisa (keluar tanda lebam), harus lebih dari 30 menit. Kalau kurang 30 menit, itu memang harus punya keahlian khusus, atau pakai stetoskop. Atau pakai reflek matanya, pupilnya melebar atau tidak. Itu tenaga kesehatan semua harus bisa. Kalau nggak tahu yok opo iso mengetahui pasiennya mati atau tidak," tegasnya.

ia juga menjelaskan bahwa fenomena di Probolinggo bukanlah mati suri, karena mati suri bisa saja terjadi karena pasien masih ada bantuan untuk tetap hidup dari alat medis, namun bila sudah dilepas, maka pasien tersebut akan wafat.

Belum lama ini memang dikabarkan ada seorang gadis berumur 12 tahun bernama Siti Masfufah Wardah asal Probolinggo dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan di RSUD dr Mochammad Saleh. Namun, Ia sempat hidup lagi dari kematian, namun setelah 1 jam hidup lagi ternyata gadis ini kembali dinyatakan meninggal dunia.