Brilio.net - Tsunami menerjang pantai sekitar Selat Sunda pada Sabtu (22/12) pukul 21.27 WIB. Awalnya tsunami ini hanya diperkirakan sebagai gelombang pasang. Hal tersebut disampaikan oleh Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho. Namun ia merevisi informasinya tersebut dan menyatakan permohonan maaf melalui akun Twitter.

"Mohon maaf jika di twit awal saya menyampaikan bukan tsunami tapi gelombang pasang. Adanya perubahan dan perbaikan informasi karena sesuai dengan data dan analisis terbaru. Jadi, benar ada tsunami di Selat Sunda. Kita semua mengacu BMKG," cuitan akun Twitter @Sutopo_PN.

Saat tsunami berlangsung, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengaku tidak mengeluarkan peringatan dini akan terjadi tsunami. BMKG hanya memiliki alat pendeteksi tsunami akibat aktivitas tektonik.

"Alat early warning yang kita punya saat ini untuk diakibatkan tektonik, bukan vulkanik. Jadi, karena ini vulkanik, maka tidak ada early warning," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam jumpa pers di Gedung BMKG, Jakarta, Minggu (23/12).

Adapun yang memiliki alat tersebut ialah Badan Geologi. "Itu Badan Geologi ya yang sensornya, Badan Geologi," ujar Rahmat Triyono.

Loading...

Selain itu Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Tiar Prasetya menyatakan alat pendeteksi tsunami (Buoy) di Selat Sunda telah lama hilang.

"11 tahun yang lalu sejak 2007, enggak tahu kemana. Buoy itu dari Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT)," ujar Tiar Prasetya dilansir dari merdeka.com.

"Ada atau tidak ada Buoy, kalau ada gempa dan kita yakin potensi tsunami kurang dari 5 menit kita berikan warning ke masyarakat," tambah Tiar Prasetya.

Sementara itu, dalam penjelasannya Senin (24/12) pagi, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat Twitter @Sutopo_PN menyatakan bahwa jaringan buoy tsunami di perairan Indonesia sudah tidak beroperasi sejak 2012. Vandalisme, terbatasnya anggaran, kerusakan teknis menyebabkan tidak ada buoy tsunami saat ini. Perlu dibangun kembali untuk memperkuat Indonesia Tsunami Early Warning System.

alat deteksi tsunami berbagai sumber

Titik persebaran letak buoy/foto: BPPT via Twitter/@Sutopo_PN

Menanggapi hal ini, Presiden Jokowi memerintahkan BMKG untuk mengecek dan mengganti semua alat peringatan dini atau early warning system (EWS) yang rusak.

"Ya nanti akan segera kita perintahkan. Sebetulnya sudah saya perintahkan juga untuk mengecek semua peralatan itu dan mengganti apabila ada yang rusak. Tapi saya kira ini nanti masuk di anggaran baru 2019 awal Januari akan saya perintahkan agar mengganti peralatan-peralatan yang rusak atau yang sudah lama tidak bisa dipakai," ujar Jokowi dilansir brilio.net dari merdeka.com.