Brilio.net - Noktah Merah Perkawinan bisa dibilang sinetron 90-an yang fenomenal. Kisah cinta Cok Simbara, Ayu Azhari dan Berliana Febrianti dalam sinetron tersebut berhasil mengundang emosi penonton pada saat itu. Bukan hanya pemain utamanya, ada juga pemeran asisten rumah tangga (ART) yang aktingnya juga melekat dihati pemirsa.

Ia adalah Mien Brodjo yang berperan sebagai pembantu keluarga Priambodo. Siapa sangka dirinya seorang aktris, pelukis, dan atlet berkebangsaan Indonesia. Tak hanya di Noktah Merah Perkawinan, Mien Brodjo juga membintangi film di era 90-an lainnya. Mulai Misteri dari Gunung Merapi III (1990), Sekretaris (1991), Setetes Noda Manis (1994) dan masih banyak lagi.

Karier Mien Brodjo di bidang seni peran mulai menunjukan perkembangan pesat saat ia pertama kalinya ikut dalam sebuah film layar lebar. Ia menandai debutnya sebagai aktris film pada tahun 1963 dalam sebuah film garapan sutradara Sunjoto yang berjudul "Tangan Tangan Jang Kotor". Meski hanya mendapat bagian sebagai pemeran pembantu, Mien Brodjo tampil cukup meyakinkan sebagai seorang artis pendatang baru di dunia perfilman Indonesia pada masa itu.

 

 

 

 

 

 

Bakat seni perannya tidak hadir begitu saja, Mien Brodjo ternyata sudah banyak bergaul dengan sejumlah seniman teater kenamaan, di antaranya ialah W.S. Rendra, Koesno Soedjarwadi, Putu Wijaya, dan masih banyak lagi.

ART di Noktah merah Perkawinan © 2023 brilio.net

foto: YouTube/ TotoAndromeda Pictures

Sejak masih belia, ketertarikan dan bakat dalam hal seni peran pada diri Mien Brodjo sudah disadarinya. Hal ini membuat dirinya berkeinginan untuk masuk ke sekolah seni. Namun, orang tuanya tidak mengizinkan Mien Brodjo untuk masuk ke sekolah seni dikarenakan kekhawatiran akan masa depan yang suram jika berkarier sebagai seniman.

Mien Brodjo termasuk orang beruntung. Meski lahir saat masih masa kolonial Belanda pada 1937, ayahnya adalah seorang mantri pamicis untuk Pemerintah Kolonial Belanda kala itu. Mantri pamicis ialah sebuah jabatan setingkat kepala dinas perpajakan dan itu membuat Mien Brodjo dan keluarganya dapat hidup berkecukupan.

Namun saat Jepang datang dan menjajah Indonesia, kehidupan keluarga Mien Brodjo yang semula berkecukupan menjadi berubah drastis. Ayahnya kehilangan pekerjaan. Untuk menambah nafkah keluarga, ibunda Mien Brodjo berjualan kain batik dengan ikhlas dan tanpa keluh kesah.

Seperti diketahui, Mien Brodjo meninggal dunia di Rumah Sakit Bethesda, Kota Yogyakarta pada tanggal 12 Juli 2021. Ia meninggal akibat penyakit yang dideritanya di dalam usia 84 tahun.