Sukardi menuturkan, saat itu orang Aceh berusaha untuk mengumpulkan dana dan mencari tanah untuk membangun masjid ini. "Kebetulan ini ada tanah wakafnya Muhammadiyah, kemudian orang Aceh itu nemui orang Muhammadiyah untuk meminta izin untuk membangun masjid," tambahnya.

Pembangunan masjid ini memakan waktu sekitar satu tahun, 2008-2009. “Mulai dipakai itu 2010 dan peresmiannya itu pas Gunung Merapi meletus," kata Sukardi.

Masjid kembaran Masjid Raya Aceh © 2023 brilio.net

foto: mg/aulia shifa

Sukardi bercerita, awalnya peresmian direncanakan dengan mengundang Wakil Gubernur Aceh dan DIY. “Tetapi karena pas gunung merapi meletus jadi, beliau-beliaunya jadi tidak hadir. 

Makanya prasasti di situ tidak jadi ditandatangani," ujarnya sembari menunjukkan jari ke arah luar, tempat prasasti berada.

Sukardi yang juga dosen di salah satu universitas swasta ini menambahkan, awalnya area masjid tidak seluas saat ini. ”Yang utara tempat parkir itu kita beli semua. Dan yang utara ujung sana itu tanah wakaf, tukar guling,” lanjut dia.

Ketika Ramadan, masjid ini mengadakan kajian umum dan pembagian takjil berbuka puasa. Takjil yang dibagikan keseluruhannya merupakan sedekah dari masyarakat. "Itu karena kesadaran umat Islam dan umat Islam seneng bersedekah untuk kepentingan umat," tukas dia.

Reporter: mg/Aulia Shifa