Brilio.net - Tidak pernah terpikirkan dalam benak Sumanto (54) untuk menjadi seorang pustakawan. Apalagi mengingat karirnya di Jakarta yang sudah cukup mapan di sebuah perusahaan otomotif internasional yang sudah ditekuninya selama 13 tahun. Sumanto pun berkisah lika-liku perjalanannya menjadi seorang pustakawan.

Setelah mundur dari perusahaan tersebut, dia mencari pekerjaan yang relatif tidak terlalu mengikat dari segi waktu. Pilihan berikutnya jatuh di bidang asuransi. Bekerja di bidang asuransi tidak berlangsung lama, mengingat kondisi orangtuanya di Bantul, Yogyakarta, Sumanto memutuskan pulang ke Bantul untuk mendampingi orangtuanya sebagai bentuk pengabdian seorang anak.

"Sesampainya di sini sempat bingung, karena tidak memiliki pekerjaan tetap dan sisi finasial saya mengalami penurunan. Saya menjalani dengan ikhlas, karena bagi saya berbakti kepada orangtua tidak bisa ditukar dengan apa pun," ujar Sumanto, Rabu (19/8).

Untuk menghidupi keluarganya, pria berkumis ini menerima semua tawaran kerja, termasuk menjadi anggota tim survei Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Bermuka dari pekerjaan inilah, Sumanto banyak berinteraksi dengan dunia kemiskinan. Secara langsung ia melihat kemiskinan itu berkolerasi dengan rendahnya minat baca masyarakat. Di sinilah ide mendirikan perpustakaan itu muncul.

Dengan koleksi sekitar 500 buku, Sumanto lalu mendirikan perpustakaan swadaya di rumahnya di Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul. Perpustakaan itu diberinya nama Mitra Tema. Memanfaatkan ruangan berukuran 2 x 6 meter, dia menata koleksi buku-bukunya.

Loading...

Namun, Sumanto tak hanya berharap pada pengunjung yang mau datang ke rumahnya. Dia juga menjajakan buku-bukunya berkeliling ke berbagai tempat dengan sepeda onthelnya.

"Saya harus berkeliling untuk 'menjemput bola'. Tidak mungkin saya hanya mengandalkan pembaca yang mau datang ke rumah. Kan, saya yang ingin mengajak masyarakat agar banyak membaca," ceritanya.

Sumanto berkeliling dengan sepeda onthelnya ke 58 titik di tujuh kecamatan di Bantul. Semua itu dikerjakan Sumanto nyaris tanpa pamrih apa pun. Dia tidak dibayar oleh siapa pun, dan dia juga meminjamkan koleksi buku-bukunya secara gratis.

Untuk mencukupi kebutuhannya, dia membudidayakan pisang dan singkong. "Saya tetap harus menghidupi istri dan anak-anak saya. Selain bertani, saya juga harus bekerja di bidang bangunan," kata Sumanto.

Tumbuhkan minat baca warga, Sumanto rela jadi 'perpustakaan keliling'

Lambat laun usaha Sumanto mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sumbangan buku kemudian terus mengalir. Kini, koleksinya sekitar 20.000 judul buku. Kondisi itu membuat dia makin bersemangat untuk mengajak masyarakat gemar membaca.

Namun naas, saat gempa menimpa Bantul pada 27 Mei 2006, sebagian rumah Sumanto hancur, termasuk bangunan perpustakaan. Sekitar 3.000 buku rusak. Keterpurukannya itu mengundang simpati seorang distributor buku.

Tumbuhkan minat baca warga, Sumanto rela jadi 'perpustakaan keliling'

"Beliau membantu saya membangun kembali perpustakaan, saya juga mendapatkan bantuan sepeda motor beroda tiga untuk berkeliling. Sehingga jangkauan keliling jadi lebih luas mencapai 89 titik," ujar bapak empat anak ini.

Titik-titik kunjungan perpustakaan kelilingnya berupa masjid, panti asuhan, toko-toko, dan kantor-kantor pemerintahan. Untuk lokasi yang pembacanya anak-anak, Sumanto memilih berkeliling seusai jam sekolah.

Jerih payah dan semangat Sumanto untuk menarik masyarakat agar gemar membaca, membuahkan hasil. Usahanya mengembangkan perpustakaan swadaya mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Dia antara lain menerima piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo, sebagai seorang pejuang literasi bangsa.