Brilio.net - Cerita tentang pendakian memang sangat beragam, suka dan duka menjadi pengalaman yang sangat berharga dan menjadi cerita indah bagi para pendaki untuk dikenang. Salah satunya Pandu Laksono Rajawali (24), pemuda asal Malang ini terlihat kedua matanya berkaca-kaca saat menceritakan bagaimana pendakian ke Gunung Argopuro, Situbondo bersama ketiga temannya.

Meskipun ketinggian dari Gunung Argopuro 3.088 meter di atas permukaan laut (Mdpl), masih di bawah Gunung Semeru, jalur pendakian Argopuro termasuk jalur terpanjang di Jawa, mengingat biasanya para pendaki melakukan start pendakian dan turun dengan jalur berbeda. Bila berangkat melalui jalur Bremi, kebanyakan pendaki turun melewati jalur Baderan.

Pandu, begitu sapaan akrabnya, melakukan pendakian ke Gunung Argopuro pada liburan Natal, 25 Desember 2014 bersama ketiga temannya. Mendaki gunung bukan hal yang baru bagi Pandu, karena ia sudah terbiasa mendaki beberapa gunung di Jawa Timur seperti Semeru dan Arjuna. "Saya berangkat dari Pos Pendakian Bremi, rencana awal pendakian yang akan kami lakukan selama lima hari," kata Pandu kepada brilio.net, Senin (22/2).

Segala persiapan untuk pendakian sudah disiapkan sebaik mungkin. Pendakian pun dimulai, selama tiga hari awal mendaki, Pandu bersama tiga temannya selalu basah kuyup kehujanan. Tentu cuaca seperti ini sangat berat bagi mereka. "Siang hari ketika kita trecking, hujan turun. Baru reda menjelang malam, dan itu pun berlalu tiga hari," ujarnya.

Tiga hari berturut-turut Pandu diguyur hujan, ia merasakan kelelahan yang sangat dan ia pun terpaksa berhenti berjalan karena merasa tak kuat lagi. Beban berat di punggungnya membuat ia memperlambat langkah kakinya dan kemudian merebahkan badannya di tanah. Seluruh badannya terasa sulit untuk digerakkan, badannya menggigil kedinginan dan ia berusaha bertahan agar tetap terjaga di tengan cuaca ekstrim. Padahal saat itu Pandu sudah merasa sudah tak sanggup lagi dan ia merasa hampir mati.

Loading...

Beban di punggung dan langkah yang semakin berat saat mendaki menjadi awal cobaan yang harus Pandu hadapi. Ia harus bertahan dari kondisi tubuh yang drop dan badan yang kedinginan. "Itu pendakian terberat bagi saya, saat itu cuaca benar-benar ekstrem. Selama tiga hari saya basah kuyup karena hujan berturut-turut dan kedinginan, saat itu tenaga serasa sudah tak ada dan hampir mati," kata Pandu.

Namun, ketiga teman Pandu sigap menanganinya yang kala itu harus berjuang agar kondisinya tak bertambah parah. Mereka memutuskan untuk memperlambat pendakian sambil mengembalikan kondisi Pandu pulih kembali.

Pandu kemudian berusaha melepas semua baju basahnya, ia kemudian membungkus tubuhnya dengan emergency blanket atau selimut darurat untuk menghangatkan tubuhnya. "Membuat suhu tubuh tetap stabil, saya mencoba untuk selalu bergerak biar cepat beradaptasi kembali dengan suhu dingin, dan ketika teman-teman hampir selesai mendirikan tenda saat hujan deras, saya segera menyiapkan peralatan memasak yang skaligus dapat menghangatkan diri karena berada di dekat api," ceritanya.

Setelah tiga hari kehujanan, dua hari setelahnya cuaca sangat cerah dan pendakian Pandu bersama tiga temannya berjalan lancar. Pandu dan temannya pun banyak belajar dari pendakian tersebut. Bagi Pandu, fisik yang terlatih pun belum tentu dapat diandalkan tanpa mental yang kuat juga.