Brilio.net - Hingga saat ini pemanasan global masih jadi topik hangat yang dibicarakan oleh seluruh masyarakat di dunia. Banyak poster global warming yang dikampanyekan oleh para aktivias peduli lingkungan.

Dengan keadaan Bumi yang sudah semakin tua, dampak terbesar dari pemanasan global saat ini adalah climate change atau perubahan iklim yang mengakibatkan suhu bumi menjadi lebih panas. Akibatnya, kekeringan akan terjadi di mana saja.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengkampanyekan mengenai pemanasan global, salah satunya yang dilakukan oleh Katingan Mentaya Project dengan membuat kampanye bertajuk Journey to Zero (JTZ).

Communication Manager Katingan Mentaya Project (KMP), Syane Luntungan, mengatakan kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca melalui aktivitas sehari-hari.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

“Ini juga bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia yang jatuh pada tangal 21 November, kita buat aksi menarik untuk menyuarakan kepedulian terhadap bumi,” ujar Syane kepada media dalam konferensi pers Launching & Talkshow video musik Lestari (Life We Can’t Waste), Rabu (24/11).

Lewat kampanye itu, Syane juga bekerjasama dengan beberapa musisi muda untuk merilis single berjudul Lestari (Life We Can’t Waste). Lantas seperti apa yah lagu tersebut? Berikut ulasannya.

1. Angkat isu global warming

Lagu lestari Journey to Zero

foto: Journey to Zero

Semangat project lagu Lestari (Life We Can’t Waste) adalah kolaborasi dalam memerangi efek perubahan iklim sekaligus ingin mendekatkan diri kepada generasi muda sebagai penerus.

“Kami ingin mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam upaya global ini,” tegas Syane.

2. Gandeng musisi muda

Lagu lestari Journey to Zero

foto: Journey to Zero

JTZ meluncurkan video musik baru berjudul Lestari (Life We Can’t Waste), lagu tersebut hasil kolaborasi musisi-musisi muda Indonesia, yaitu Nikita Dompas, Anda Perdana, Faye Risakotta, dan Herald Genio.

Lewat projek ini, Nikita Dompas mengaku ingin ikut terlibat aktif dalam menjaga bumi. Sebagai musisi ia juga tidak bisa tinggal diam dan ingin ikut melakukan pencegahan terhadap pemanasan global dan climate change ini.

“Dan kami tuangkan melalui lagu agar semua orang terutama generasi muda mulai start action dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan dalam keseharian kita,” tutur Nikita

3. Menggunakan tiga bahasa

Lagu lestari Journey to Zero

foto: Journey to Zero

Salah satu yang menarik dari lagu ini adalah menggunakan tiga bahasa, yaitu Bahasa Dayak Ngaju, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia, untuk menunjukkan bahwa kearifan lokal kita bisa menjadi solusi permasalahan global.

4. Gunakan teknologi canggih dalam pembuatan video klip

Lagu lestari Journey to Zero

foto: Journey to Zero

Sementara itu, Video Director Lestari (Life We Can’t Waste), Upie Guava, bersemangat mendukung project ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap isu global climate change. Dengan mengusung teknologi berupa gambar dan suara 360, upie ingin mengajak semua penonton untuk menjadi bagian dari video itu sendiri.

“Saya ingin video ini selain bisa menghibur penonton dengan pengalaman unik, juga berbagi informasi mengenai isu global yang sedang kita hadapi serta upaya penanggulangannya dalam aktivitas keseharian kita”, ujar upie.

5. Berkolaborasi dengan aktivis lingkungan

Lagu lestari Journey to Zero

foto: Journey to Zero

Project Lestari (Life We Can’t Waste) ini tidak hanya melibatkan para musisi saja, beberapa kolaborator yang terdiri dari Praktisi Circular Fashion, Waste Management, dan Waste Processor turut mendukung pembuatan video klip ini.

Para Kolaborator seperti Ensemble, Bluesville, Pijak Bumi, Pable, dan Rekosistem mempunyai perhatian yang sama dan ikut memberikan dukungannya untuk project ini melalui bidang mereka.

(brl/guf)