Brilio.net - Memasuki masa new normal di tengah pandemi ini setiap orang wajib untuk menjaga kebersihan tubuh. Salah satu bagian tubuh yang harus diperhatikan adalah telapak tangan. Kenapa? Hampir setiap waktu telapak tangan menyentuh wajah, mulut, mata, bahkan telinga. Dengan begitu risiko penularan virus menjadi meningkat.

Salah satu upaya untuk menjaga kebersihan telapak tangan adalah menggunakan hand sanitizer. Cairan pembunuh kuman dan bakteri ini menjadi salah satu barang yang perlu dibawa ke mana saja. Hal ini menjamin tangan tetap bersih. Apalagi jika tempat cuci tangan dengan sabun sulit ditemukan.

Hal ini dilakukan oleh hampir semua orang termasuk pelajar di Pondok Pesantren Roudlotus Shibyaan, Yogyakarta. Salah satunya Najwa Ula Fitria (16), ia mengaku selalu membawa hand sanitizer ke mana pun ia pergi. Gadis penghafal Alquran ini selalu membawa alat pelindung diri untuk menanggulangi penularan virus.

"Kalau mau ke pasar atau cuma mau ngaji aku pasti bawa hand sanitizer, masker. Kalau hand sanitizer sih wajib. Buat jaga-jaga kalau nggak nemu tempat cuci tangan pakai sabun. Bawanya kadang nggak cuma satu, dua, kadang tiga. Buat jaga-jaga aja kalau pas ada orang yang membutuhkan, papar Najwa.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk membersihkan tangan dari kuman dan bakteri bisa dengan hand sanitizer. WHO menambahkan, hand sanitizer pada dasarnya adalah isopropil alkohol, plus gel, ditambah minyak esensial. Pada awalnya, rumah sakit dan pusat layanan kesehatan lainnya menggunakan solusi ini untuk dokter yang tidak sempat pergi ke kamar kecil untuk mendisinfeksi diri sebelum bertemu pasien.

Hand sanitizer bekerja melalui kekuatan alkohol. Alkohol dipercaya dapat membunuh banyak jenis bakteri dan virus. Cara kerjanya, dengan menghancurkan lapisan terluar mereka dan membuat mereka tidak dapat mengambil alih inang. Ini tidak efektif dengan virus dengan kulit luar yang keras, seperti norovirus. Namun, dalam keadaan darurat, sanitizer akan melindungi dari virus tak kasat mata yang mungkin ada di transportasi umum atau toilet umum.

Tren pakai hand sanitizer © 2020 brilio.net

foto: Brilio.net/Farika Maula

Kesalahan dalam penggunaan hand sanitizer yang belum diketahui.

Selain ampuh membunuh kuman dan bakteri, hand sanitizer sangat praktis dibawa ke mana saja. Dengannya, kita bisa memastikan tangan bersih setiap detik. Namun, penggunaan hand sanitizer harus jeli dan tepat. Kita tidak hanya menuangkan setetes lalu menggosok-gosokkan ke tangan dengan sembarangan.

Salah satu kesalahan menggunakan hand sanitizer adalah menuangkan cairan yang terlalu sedikit. Meskipun mengandung alkohol yang dapat mengurangi jumlah kuman dengan cepat, penggunaannya harus di situasi yang tepat. Terlalu banyak menuangkan cairan hand sanitizer lebih baik dibandingkan terlalu sedikit.

Dokter umum Rumah Sakit Condong Catur, Yogyakarta ,dr. Evie Indrasanti menjelaskan cara menggunakan hand sanitizer yang tepat. Ia membeberkan cara yang tepat menggunakan hand sanitizer agar efektif dan tidak sia-sia.

"Ketika kita dalam perjalanan kadang tidak mudah menemukan tempat cuci tangan dengan sabun. Nah, hand sanitizer ini menjadi alternatif. Jadi saya sarankan menggunakan hand sanitizer saat tidak menemukan air mengalir. Kalau orang dewasa menggunakan hand sanitizer menyesuaikan dengan ukuran tangan", kata Evie kepada brilio.net, Selasa (15/12).

Tren pakai hand sanitizer © 2020 brilio.net

foto: Brilio.net/Farika Maula

Mengapa hand sanitizer? Evie menjelaskan, jika Covid-19 mudah menular melalui droplet yang terkena pada individu lain secara langsung atau menempel pada benda. Oleh karenanya, penting untuk selalu menjaga higienitas tangan saat beraktivitas. Hand sanitizer dirasa lebih praktis serta memungkinkan digunakan ketika saat sulit mencuci tangan.

Selain itu, Evie menyebutkan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen sangat disarankan agar digunakan segera setelah tangan menyentuh benda yang kemungkinan telah tertempel virus, terutama benda-benda yang dipegang orang banyak, seperti tombol lift, meja, dan lain sebagainya.

Evie menegaskan, penggunaan hand sanitizer bukan hanya sekadar asal semprot atau meneteskan saja. Jari-jari dan sela-sela tangan juga harus dibasuh atau dibaluri dengan baik seperti mencuci tangan pakai sabun.

"Jadi, caranya bukan sekadar disemprot. Sesuai dengan kaidah cara mencuci tangan juga coba lihat di YouTube udah banyak. Jadi hand sanitizer dituangkan ke telapak, harus dipastikan semua bagian celah mendapatkan cairan yang cukup," tegas dokter yang praktik di Rumah Sakit Condong Catur, Yogyakarta.

Tren pakai hand sanitizer © 2020 brilio.net

foto: Facebook/Evie Indrasanti

Saat melakukannya, Evie menyarankan paling tidak membutuhkan waktu 20-30 detik untuk memastikan semua virus dan bakteri menghilang. Seperti halnya mencuci tangan dengan sabun, cairan pembersih berbahan dasar alkohol ini juga butuh waktu untuk melakukan tugasnya.

Selain itu, jangan gunakan hand sanitizer jika tangan sedang kotor atau berminyak. Kamu harus lebih memilih mencuci tangan dengan sabun dan air saat kondisi tersebut terjadi. Saat menggunakan hand sanitizer dengan benar, hal tersebut dapat menjadi cara yang efektif untuk memperlambat potensi penyebaran virus.

Air mengalir dengan sabun dan hand sanitizer, mana yang lebih efektif membunuh kuman?

Kebutuhan masyarakat akan gaya hidup sehat, berimbas pada produksi hand sanitizer yang kian meningkat. Hampir seluruh hand sanitizer atau cairan pembersih tangan habis diburu di beberapa pusat perbelanjaan dan swalayan. Namun perlu diketahui, tidak semua hand sanitizer memiliki kemampuan untuk membunuh virus penyebab Covid-19.

Merujuk pada pernyataan Centers for Disease Control and Prevention, hanya hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60 persen yang bisa secara efektif membunuh virus penyebab Covid-19. Namun, antara mencuci tangan dengan hand sanitizer atau air biasa dengan sabun, mana yang lebih baik?

Evie Indrasanti mengatakan sebagaimana anjuran World Health Organization (WHO) ada dua cara cuci tangan yakni hand-rub atau hand-wash. Ia menjelaskan hand-rub adalah kegiatan cuci tangan menggunakan cairan berbasis alkohol seperti hand sanitizer dengan durasi 20 detik sampai 30 detik. Sementara, hand-wash yaitu cuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun dengan batas lama waktu minimal 40 detik hingga 20 detik.

Tren pakai hand sanitizer © 2020 brilio.net

foto: Brilio.net/Farika Maula

Kata Evie, dua langkah ini sama-sama baik dan bisa membersihkan tangan. Tapi ia menegaskan hand-wash harus diutamakan. Selama sulit mendapatkan air mengalir maka boleh hand-rub. Tapi hand-rub ini maksimal delapan kali sehari. Penting untuk diingat, Evie bilang apabila saat menggunakan hand sanitizer, tangan masih terasa kotor, maka cepat-cepat lah cari air mengalir untuk segara cuci tangan.

Dokter umum ini juga menegaskan sangat tidak dianjurkan cuci tangan menggunakan air di dalam wadah seperti air di dalam baskom, karena tidak efektif. Saat air yang ada di dalam wadah bersatu dengan tangan, maka kotoran di tangan malah akan terkumpul jadi satu dan masih menempel.

"Paling tidak umpama air di kamar mandi, di gayung misalnya dibuat mengalir supaya kotorannya juga ikut terbuat bersama aliran air itu," kata dia.

Evie Indrasanti pun menyimpulkan, mencuci tangan dengan air mengalir lebih baik. Karena lebih efektif menghilangkan kotoran di tangan. Menggunakan sabun hingga berbusa juga dinilai bisa membantu menangkal virus lainnya. Namun, ia tetap menegaskan bahwa mencuci tangan merupakan langkah yang perlu dilakukan. Baik menggunakan air mengalir atau hand sanitizer.

"Sabun dan air, dan pembersih tangan berbahan dasar alkohol, dapat membunuhnya," ujar Evie.

(brl/guf)