Brilio.net - Sejak adanya wabah virus corona membuat masyarakat lebih menjaga kesehatan diri. Virus yang memiliki gejala mirip dengan sakit flu biasa ini menjadikan masyarakat lebih peduli dengan kebersihan tangan.

Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebenarnya sudah dianjurkan sejak kita kecil. Namun dengan adanya virus ini kita diingatkan kembali untuk lebih memperhatikan kebersihan tangan.

Menutup mulut dan hidung ketika bersin dan batuk juga menjadi etika yang tepat agar tidak menularkan virus pada orang lain. Maka dari itu sudah sebaiknya kita meneruskan kebiasaan baik ini meskipun sudah tidak ada virus corona.

Selain itu menghindari penggunaan rokok juga bisa meminimalisir terjangkit virus corona atau Covid-19. Seperti yang kamu tahu, merokok bisa memicu berbagai permasalahan serius pada kesehatan khususnya pada pernapasan.

Gangguan kesehatan pada pernapasan masih menjadi salah satu permasalahan yang cukup serius. Beragam penyakit dapat muncul dari permasalahan ini, mulai dari sesak napas, TBC, hingga kanker paru-paru. Tentu hal ini harus menjadi perhatian untuk kamu dan sekitar agar menghindari rokok. Berikut penjelasannya.

Loading...
2 dari 3 halaman


Penjelasan Kementerian Kesehatan.

foto: freepik.com



TBC atau tuberkulosis merupakan penyakit yang cukup sering ditemukan pada masyarakat Indonesia. Apalagi di tengah pandemi virus corona ini, pasien TBC harus lebih menjaga diri agar tidak tertular Covid-19.

Perlu diketahui, beberapa golongan yang mudah tertular virus corona adalah orang yang memiliki penyakit serius dan juga orang lanjut usia. Maka untuk kamu yang mengidap TBC disarankan agar lebih waspada selama wabah virus corona.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun sudah mengimbau masyarakat khususnya yang mengidap TBC agar lebih menjaga diri. TBC dan Covid-19 merupakan dua penyakit yang bisa menularkan melalui droplet atau tetesan yang keluar dari tubuh manusia, seperti pada batuk dan bersin. TBC dan Covid-19 juga memiliki beberapa gejala yang mirip yaitu, batuk, demam, dan merasa lemas.

''Covid-19 menyadarkan kita betapa rentannya jika pasien TBC tidak berobat, karena daya tahan tubuh dan kondisi paru mereka juga lebih rentan terinfeksi,'' kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr Wiendra Waworuntu saat telekonferensi pada web resmi Kemenkes, beberapa waktu lalu.

Maka untuk kamu yang mengidap TBC pahami beberapa pencegahan dalam menghadapi wabah virus corona ini. Sehingga kamu akan lebih paham dan tepat dalam melindungi diri dari penularan Covid-19. Melalui dr Wiendra, Kemenkes memberikan beberapa panduan pencegahan yang bisa kamu pahami.

3 dari 3 halaman


Pencegahan.

foto: freepik.com



Untuk pasien TBC yang sedang dalam masa pengobatan, disarankan dr Wiendra Waworuntu agar selalu rutin mengonsumsi obat. Menjaga imun agar selalu kuat juga perlu dilakukan sebagai salah satu bentuk pertahanan diri.

Maka dikatakan peran lingkungan sangat diperlukan untuk mendukung proses pengobatan pasien, terutama bagi pasien TBC resisten obat (TBC RO).

''Kami sedang menyiapkan skema tersebut agar pasien TBC RO tidak harus ke RS setiap hari untuk berobat,'' ujarnya.

Untuk mengatasi TBC selama wabah ini, saat pasien batuk datang ke rumah sakit perlu dilakukan triase saat penerimaan awal berdasarkan gejala utama TBC. Ketika batuk sudah terjadi lebih dari dua minggu, maka pasien akan diberi masker dan edukasi mengenai etika batuk.

Selanjutnya, untuk pencegahannya pasien harus menunggu di ruang terpisah degan ventilasi yang baik sebelum mendapatkan pelayanan. Selain itu, riset implementasi juga dikatakan memberikan dampak penting dalam penanggulangan penyakit.

Penanganan TBC dan Covid-19 dikatakan dapat saling menunjang satu sama lain. Meskipun saat ini dunia sedang terfokus untuk mengatasi virus corona, namun Komite Ahli Tuberkulosis, dr Pandu Riono, MPH, PhD, mengatakan pengobatan untuk pasien TBC harus terus berjalan.

''Pengobatan pasien TBC harus tetap berjalan dengan teratur sampai sembuh meski dengan munculnya Covid-19. Saya tentunya khawatir akan situasi Covid-19, tetapi, peran warga untuk menjaga kesehatan masyarakat justru semakin diperlukan sekarang. Terutama untuk pasien TBC resistan obat,'' ungkap dr Pandu.

TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh bateri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru. Penyakit ini menyebar melalui udara ketika orang dengan TBC batuk, bersin, atau meludah. Bahkan disebutkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada 10 juta orang yang jatuh sakit TBC setiap tahunnya.

Meskipun menjadi penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, namun ada 1,5 juta orang meninggal karena TBC pada setiap tahunnya. Maka penting untuk kamu selalu menjaga kesehatan paru-paru. Karena TBC dikenal sebagai pembunuh infeksius yang populer di dunia.