Brilio.net - Siapa sangka penulis cerdas sekelas Dee Lestari bisa "halusinasi" melihat batuan adalah bakso dan sukro? Melalui unggahan jenaka di Instagram pribadinya, Dee membagikan pengalaman unik saat menjalani puasa panjang (long fasting). Masuk ke jam ke-48, Dee mengaku dunianya mulai dipenuhi bayangan lautan bakso, tumis kangkung, hingga kue gabin.
Meski terlihat jenaka, apa yang dialami Dee sebenarnya adalah fase biologis yang nyata saat tubuh beralih mode energi. Mari kita bedah mengapa jam ke-48 terasa sangat berat dan bagaimana tips menghadapinya.
Fase Kritis 48 Jam: Antara Lapar dan Halusinasi
Manfaat puasa 48 jam
foto: Instagram/@deelestari
Dee Lestari menyebutkan bahwa fase 24 hingga 48 jam adalah momen terberat baginya. Secara medis, ini adalah masa transisi di mana cadangan glikogen (gula otot) sudah benar-benar habis, dan tubuh sedang berusaha keras masuk ke mode ketosis—kondisi di mana lemak dibakar menjadi energi.
foto: Instagram/@deelestari
Pada jam-jam ini, hormon lapar yakni ghrelin sedang bergejolak tinggi. Tidak heran jika Dee merasa "tinggal seinci lagi" dari merampok makanan orang lain.
“Hah, sesuai prediksi, ini memang hari yang paling berat. Mulai halusinasi, segalanya adalah makanan. Saya tinggal seinci lagi dari tindakan kriminal seperti merampok makanan orang, merampok etalase yang isinya makanan. Tapi memang beginilah suka duka dari puasa panjang. Reaksi badan orang berbeda-beda, tapi buat saya, 24 menuju 48 yang paling berat. Dan ini tepat yang ke-48,” jelasnya seperti dikutip brilio.net dari Instagram @deelestari, Jumat (9/1).
foto: Instagram/@deelestari
Halusinasi makanan yang dialami Dee sebenarnya adalah cara otak memberikan sinyal kuat agar tubuh segera mencari asupan energi cepat. Namun, uniknya, setelah melewati ambang 48 jam ini, tubuh biasanya akan merasa lebih stabil karena sudah mulai beradaptasi membakar lemak secara efisien.
Harapan di Jam Ke-72: Menanti "Tenaga Baru"
foto: Instagram/@deelestari
Meski sedang berjuang melawan godaan, Dee tetap optimis menatap angka 72 jam.
“… Harusnya sih habis ini sedikit lebih ringan ya menuju 72. Besok biasanya sudah lebih bertenaga, jadi saya ingin sekali hari ini cepat berlalu dan saya tiba di hari esok, lalu mulai kembali makan,” lanjutnya.
Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa pada hari ketiga puasa panjang, tubuh sering kali mengalami peningkatan fokus mental dan energi karena stabilnya kadar keton dalam darah.
foto: Instagram/@deelestari
Selain itu, puasa panjang seperti ini sering dikaitkan dengan proses autofagi, yakni mekanisme "pembersihan sel" di mana tubuh mendaur ulang komponen sel yang rusak menjadi protein baru. Jadi, meski sekarang Dee sedang membayangkan bakso, tumis kangkung sukro, tubuhnya sebenarnya sedang melakukan renovasi besar-besaran di tingkat seluler.
Tips Melewati Fase Berat Saat Puasa Panjang
Belajar dari pengalaman Dee, berikut beberapa langkah agar tetap selamat melewati jam ke-48:
1. Alihkan Fokus: Seperti Dee yang menuangkan keluh kesahnya lewat video medsos, mengalihkan pikiran dari makanan sangat membantu menjaga kewarasan.
2. Hidrasi yang Tepat: Pastikan asupan air dan elektrolit tetap terjaga karena pusing atau lemas sering kali disebabkan oleh kekurangan mineral, bukan hanya sekadar lapar.
3. Sabar Menunggu Esok: Seperti prediksi Dee, hari esok biasanya akan terasa lebih ringan karena tubuh sudah tidak lagi kaget dengan absennya makanan masuk.
FAQ: Seputar Puasa Panjang (Long Fasting)
1. Apakah normal mengalami halusinasi makanan saat puasa panjang?
Sangat normal. Secara psikologis, ini disebut food preoccupation. Saat tubuh kekurangan energi, otak akan memprioritaskan segala informasi yang berkaitan dengan makanan sebagai mekanisme bertahan hidup.
2. Mengapa Dee Lestari merasa lebih bertenaga setelah jam ke-48?
Karena tubuh telah sepenuhnya masuk ke fase ketosis. Pada fase ini, otak mendapatkan pasokan energi yang stabil dari keton, yang sering kali memberikan efek "kejernihan mental" dan energi yang lebih konstan dibanding gula.
3. Apa perbedaan puasa biasa dengan puasa 72 jam?
Puasa 72 jam bertujuan untuk memicu autofagi yang lebih dalam dan regenerasi sistem imun. Namun, ini tergolong ekstrem dan sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan medis atau oleh mereka yang sudah berpengalaman.
4. Bolehkah minum kopi atau teh saat menjalani water fasting seperti ini?
Banyak praktisi memperbolehkan kopi hitam atau teh tanpa gula karena kalorinya sangat minim dan tidak memicu respon insulin, sehingga tidak membatalkan fase ketosis atau autofagi.
5. Siapa yang tidak disarankan mengikuti puasa panjang seperti Dee Lestari?
Ibu hamil, menyusui, orang dengan riwayat gangguan makan (eating disorder), anak-anak, serta penderita diabetes tipe 1 atau kondisi medis kronis tertentu sangat tidak disarankan tanpa konsultasi dokter.
Recommended By Editor
- Niat buka puasa Rajab sesuai sunnah Rasulullah, lengkap dengan arti dan keutamaannya
- Niat puasa Rajab, bacaan lengkap, keutamaan, tata cara mengamalkan, serta jadwalnya
- Puasa sunnah sebelum Idul Adha tarwiyah dan arafah, lengkap dengan niat dan keutamaannya
- Panduan lengkap puasa 1 Dzulhijjah lengkap dengan niat, tata cara, dan keutamaannya
- Doa mustajab di penghujung Ramadhan, raih ampunan dan keberkahan
- Mengenal fidyah puasa, hukum dan cara tepat membayarnya





































