Brilio.net - Covid-19 tengah menghantui hampir semua masyarakat di dunia. Kondisi ini membuat banyak perubahan pada kehidupan manusia. Tidak hanya soal sosial, kehidupan pribadi mereka pun cukup terganggu terutama mengenai mata pencaharian.

Tak sedikit orang harus menelan kepahitan karena kehilangan pekerjaan. Kondisi ini jelas bukan suatu yang mudah bagi siapapun, terlebih jika mereka memiliki tanggungan besar untuk keluarganya.

Tidak hanya itu, tingkat kesedihan seseorang pun kian meningkatkan karena harus kehilangan anggota keluarganya. Seperti diketahui, Covid-19 telah merenggut banyak nyawa. Kondisi yang terus berlangsung ini dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan dan depresi di kalangan masyarakat.

Dokter Zulvia Oktanida Syarif SpKJ, baru-baru ini memperlihatkan angka kecemasan dan depresi yang terus meningkat di Indonesia selama pandemi Covid-19.

Disebutkan bahwa 67,3 persen orang mengalami gejala ansietas (kecemasan) sejak pandemi Covid-19 di Indonesia. Data ini diperoleh dari pdskji.org. Tak hanya itu, 67,2 persen orang di masyarakat mengalami depresi sejak pandemi Covid-19.

penyebab meningkatnya depresi dan kecemasan © 2021 brilio.net

foto: Instagram/@dr.vivisyarif

Kondisi ini terjadi hampir di seluruh dunia yang terdampak Covid-19. Kasus yang dialami hampir sama, stres dengan kondisi yang tak kunjung membaik, harus menghadapi keluarganya yang meninggal dunia, serta hilangnya mata pencaharian.

Kondisi kesehatan mental ini tentu saja memperburuk keadaan, di mana mereka yang depresi akan kehilangan semangat, menjadi lemah dan mudah terserang penyakit. Padahal dalam keadaan seperti sekarang, Covid-19 harus dilawan dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat. Jelas ini suatu yang cukup mengkhawatirkan.

Namun tahukah kamu, penyebab meningkatnya depresi dan kecemasan di kalangan masyarakat bukan karena Covid-19?

Menurut Dokter Zulvia Oktanida Syarif SpKJ, melalui akun Instagram @dr.vivisyarif, hal itu disebabkan oleh sikap kita terhadap Covid-19. Bukan karena Covid-nya, tapi karena cara pandang manusianya sendiri.

"Ya, attitude atau sikap kita dalam menghadapi situasi pandemi inilah yang menimbulkan kecemasan dan depresi," tulis dokter Zulvia Oktanida Syarif.

penyebab meningkatnya depresi dan kecemasan © 2021 brilio.net

foto: Instagram/@dr.vivisyarif

Menurutnya, cara mengubah situasi ini orang harus mengenali banyak hal, terutama mengenai kondisi yang sedang dihadapinya.

"Kenali dan akui bahwa ada hal negatif yang terjadi dan yang berubah karena situasi ini," sambungnya.

Melakukan hal-hal positif dan menanamkan pikiran positif pada diri merupakan cara untuk bisa menghadapi situasi pelik ini dengan baik.

"Kemudian fokuslah pada hal-hal positif dari situasi yang ada. Pusatkan pikiran dan energimu untuk hal yang bisa kamu kendalikan. Just focus on that," ujar Zulvia.

Dokter Zulvia juga mengatakan, seseorang harus bisa menerima kenyataan bahwa ada hal yang tidak bisa dikendalikan. Dia pun meminta agar setiap orang bisa fokus pada hal-hal yang sekiranya bisa mereka kendalikan.

"Karena sikapmu menentukan kondisi kesehatan mentalmu. Let's stay strong together!" pungkas dokter Zulvia Oktanida Syarif.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by dr Zulvia Oktanida Syarif SpKJ (@dr.vivisyarif)

(brl/gib)

(brl/gib)