Brilio.net - Gejala umum terkena virus corona Covid-19 adalah batuk, demam, pilek, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas. Namun ada pula si penderita tidak menunjukkan gejala-gejala tersebut. Padahal ia terinfeksi Covid-19, bahkan orang tersebut terlihat sangat sehat.

Mereka yang tidak mengalami gejala disebut silent carrier. Penderita Covid-19 tanpa gejala mungkin menjadi salah satu penyebab virus sulit dikendalikan. Pasalnya mereka merasa aman dan tak mengkhawatirkan hal-hal seperti penularan dan sebagainya.

Hal ini juga disampaikan langsung oleh dokter penyakit menular di Penn Medicine dan direktur medis Penn Global Medicine, Stephen Gluckman seperti yang dilansir brilio.net dari huffpost.com, Rabu (8/4).

"Ada beberapa orang yang benar-benar terinfeksi, tetapi mereka tidak sakit. Ini "pembawa asimtomatik" yang tidak memiliki gejala sama sekali (atau yang gejalanya sangat ringan sehingga tidak diketahui)," kata Gluckman.

Belum jelas berapa banyak orang yang merupakan pembawa penyakit tanpa gejala. Selain itu juga tidak jelas seberapa besar kontribusi mereka terhadap penyebaran epidemi, meskipun penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa mereka mungkin memainkan peran penting. Demikian pula, tidak diketahui berapa lama pembawa tersebut dapat menular.

Loading...

"Tidak ada jawaban yang mudah dan sederhana," kata Dr. Faheem Younus, kepala penyakit menular di University of Maryland Upper Chesapeake Health, kepada HuffPost.

Hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang adalah bertindak seperti apa yang dianjurkan oleh pemerintah dan para medis agar penularan virus corona dapat dicegah.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit percaya bahwa orang yang telah terinfeksi Covid-19 adalah yang paling patut diwaspadai. Mereka akan mengalami perubahan dengan gejala yang ada, seperti batuk, demam, kondisi seperti itu sangat mudah menularkannya ke orang lain.

Orang-orang yang sudah tertular Covid-19 bisa menularkannya ke orang lain hingga masa periode inkubasi sebelum mereka menunjukkan gejala. Pada umumnya dari dua hingga 14 hari setelah paparan awal mereka.

Satu model baru-baru ini menemukan bahwa masa inkubasi rata-rata untuk Covid-19 adalah lima hari. Ada sekitar 98 persen orang yang mengalami gejala setelah terinfekfi dalam 11,5 hari.

Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien Covid-19 terus melepaskan virus selama berhari-hari setelah gejalanya hilang. Secara umum, individu yang dicurigai memiliki Covid-19 diminta untuk tetap isolasi selama setidaknya tiga hari setelah mereka pulih dan setidaknya seminggu setelah gejala mereka pertama kali muncul.

Younus menunjukkan bahwa anak-anak sering menjadi pembawa Covid-19 yang asimptomatik dan dapat menimbulkan risiko tertentu bagi orang-orang sekitar mereka.

"Semakin lama durasinya, semakin dekat kontak, semakin rendah kekebalan inang, semakin tinggi risiko tertular infeksi," kata Younus.

Gluckman mengatakan kepada HuffPost bahwa dia memperkirakan para peneliti akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang penularan Covid-19 tanpa gejala pada bulan berikutnya. Jika tidak lebih cepat, ini akan mempersulit pembasmian virus corona.

Sudah banyak penelitian yang datang dari China, Korea Selatan, Eropa dan Amerika Serikat untuk mencari tahu mengenai hal ini. Tetapi penelitian semacam itu bergantung pada pengujian virus, yang merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kasus terusebut.

"Kami akan belajar lebih banyak tentang virus corona ini karena lebih banyak penelitian dilakukan dengan cara yang ditinjau oleh rekan sejawat," ujar Younus.

Untuk saat ini, ketidakpastian tentang berapa banyak pembawa asimptomatik yang mungkin ada dan berapa lama pembawa tersebut menimbulkan risiko bagi orang lain, adalah alasan mengapa kita harus mematuhi langkah-langkah social distancing.

Jika kamu bertemu dengan seseorang yang terinfeksi virus corona, kamu bisa menyebarkan virus itu lagi ke orang lain. Bahkan jauh sebelum kamu mengalami gajala-gejala yang ada. Tanpa disadari kamu telah menyebarkan banyak virus corona ke orang-orang sekitar.

"Orang harus waspada tentang menghindari kontak dekat dengan orang lain dan tidak berasumsi bahwa hanya karena seseorang tidak sakit, mereka tidak membawa virus. Kita harus sangat, sangat, sangat tegas tentang isolasi diri," pungkasnya.