Brilio.net - Sudah menjadi hal lumrah jika kita tertawa melihat orang lain terjatuh, entah karena terpeleset atau tersandung. Ya meski tak bermaksud untuk mengolok-olok, namun ada juga yang menganggap 'kesialan' orang lain itu lucu bahkan menggelikan.

Meski selera humor setiap individu berbeda-beda, tapi mengapa ya ada orang yang tertawa melihat seseorang terjatuh?

Dikutip brilio.net dari Medical Daily, Rabu (22/2), menurut Dokter William Fry, psikiater dari Standford University mengungkapkan tidak semua peristiwa orang jatuh memicu tawa orang lain.

Jika konteksnya serius, misalnya kita melihat seseorang yang jatuh dari gedung berlantai 20 dan kemudian tewas hal tersebut tidak akan memicu tawa melainkan kengerian. Namun jika konteksnya tidak berdampak serius seperti melihat seseorang jatuh tersandung di jalan, maka ini yang biasanya membuat orang lain tertawa. Semua tergantung bagaimana otak kita membingkai peristiwa itu dalam konteks.

Orang yang tiba-tiba terjatuh, baik karena terpeleset atau tersandung, biasanya dikaitkan dengan keganjilan. Dikatakan ganjil lantaran dinilai tidak mungkin peristiwa itu terjadi secara logika atau tidak sesuai dengan keadaan. Sebagai contoh, banyak sekali komedian yang membuat materi humor dari kekurangan dirinya, seperti hidung pesek atau badan pendek. Dan ini dianggap lucu karena anggapan kemustahilan logis.

Penjelasan lainnya dari sisi kedokteran, menertawakan orang yang jatuh bisa jadi secara natural 'diatur' oleh salah satu syaraf yang ada di otak. Beberapa neurolog mengatakan adanya saraf yang membuat efek 'cermin', yang membuat kita membayangkan hal tersebut terjadi di otak dan memancing untuk tertawa.

Selain itu jarak psikologis juga disebut-sebut terlibat dalam munculnya tawa saat melihat orang lain jatuh. Dalam studi di tahun 2010, Psikolog dari University of Colorado menjelaskan bahwa melihat seseorang menderita, akan menjadi lucu jika kita tak merasakan empati. Jika orang yang jatuh itu tidak kita kenal dan tidak dekat secara personal, maka lebih mudah memicu tawa dan bahkan tidak memicu empati.

Namun, beda halnya jika kita melihat sendiri kesialan yang menimpa orang terdekat kita, seperti ayah, ibu bahkan anak sendiri. Sederhananya, makin dekat kita dengan seseorang makin besar peluang ancaman dan perasaan tidak aman yang kita rasakan, sehingga tawa tak akan semudah itu muncul dari mulut kita.