Brilio.net - Anak adalah anugerah bagi kedua orangtuanya. Kehadiran seorang anak bisa menambah kehangatan di dalam keluarga. Apalagi kalau ternyata anak tersebut sudah sangat dinanti-nanti kehadirannya.

Pasti akan sangat bahagia bagi orangtua untuk merawat sang buah hati. Setiap perkembangan anak juga menjadi sebuah kejutan yang bisa melengkapi kebahagiaan pasangan suami istri.

Namun nggak sedikit harapan orangtua melihat perkembangan anaknya harus terhalangi oleh beberapa hal. Seringkali sibuknya pekerjaan menjadi alasan utama orangtua tidak memiliki banyak waktu untuk menemani si kecil.

Dan pilihan menggunakan pengasuh kerap diambil untuk mengurus si buah hati. Nggak ada yang salah, tetapi harus berhati-hati dan selektif dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain dalam mengasuh anak. Jangan sampai kejadian pilu yang menimpa seorang ibu di Singapura terjadi padamu.

Dilansir brilio.net dari todayonline.com pada Kamis (20/2), seorang pengasuh, Sa'adiah Jamari, ditangkap dan diadili pada 18 Februari 2020 atas tuduhan meracuni dua bayi dengan obat-obatan seperti obat tidur, obat kegelisahan, dan juga antihistamin. Ia memberikan bermacam-macam obat tersebut kepada bayi berusia 5 bulan dan anak berusia 11 bulan pada 2016.

Loading...

foto: unsplash.com

Kejadian ini bermula pada November 2016, seorang ibu asal Singapura mengunggah di Facebook bahwa ia mencari seorang pengasuh untuk putrinya yang berusia lima tahun dan lima bulan. Lantas, Sa'adiah yang mengomentari unggahan tersebut dan dipekerjakan oleh sang ibu.

Tetapi sejak Sa'adiah merawat kedua anaknya, sang ibu mulai melihat perubahan pada diri anaknya. Sang anak terlihat sangat rewel dan berguling-guling di tempat tidur. Anak kecil itu juga tidak menanggapi senyumnya seperti biasanya.

Kecurigaan ibu tersebut mulai bertambah karena putrinya selalu terlihat mengantuk setiap kali dijemput dari rumah sang pengasuh.

"Pada awalnya, beberapa kali dia mengantuk. Jadi aku pikir dia baru saja bangun tidur," ujar sang ibu yang tidak disebutkan namanya.

Namun, semakin lama ia semakin curiga dengan kondisi anaknya yang mulai tampak berbeda. "Matanya sedikit bengkak, bagian atas kelopak matanya seperti terkulai ke bawah," cerita ibu tersebut.

Sedihnya, kondisi sang putri terlihat semakin parah. Hal ini terlihat pada satu bulan berikutnya, anak tersebut akan membuang botol ketika diberi susu. Ia juga terlihat kesulitan mendengar ketika sang ibu mencoba untuk berbicara dengannya.

Kondisi anak tersebut terlihat semakin parah pada 9 Desember 2016, sang anak terlihat sangat mengantuk sampai tidak bisa membuka matanya. Kelopak matanya bengkak dan matanya terlihat merah. Bahkan anak tersebut seperti tidak bisa mengendalikan tangannya.

foto: unsplash.com

Melihat kondisi tersebut, sang anak segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan. Dokterpun melakukan beberapa tes dan ditemukan kadar glukosa gadis mungil itu sangat rendah. Bayi itu kemudian dirawat selama lima hari dan sang ibu memberhentikan Sa'adiah dari merawat anaknya.

Mirisnya, beberapa bulan kemudian ibu tersebut mendapat laporan dari dokter bahwa putrinya yang berusia 5 bulan sudah diberikan 10 jenis obat yang berbeda. Di antaranya obat gangguan kecemasan, pelemas otot, obat tidur, dan juga penarikan alkohol.

Melihat kejadian yang menimpa anaknya, ia kemudian mendapat informasi bahwa ada kasus mengenai pembiusan yang dilakukan pengasuh anak. Lantas ia melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian. Pengasuh itu mendapat ancaman penjara sampai 10 tahun dan denda.