Sebagai manusia sudah seharusnya saling memberi satu sama lain. Bahkan untuk dapat memberi bantuan orang lain, tak perlu menunggu ketika sudah mampu dan bergelimang harta. Meski hidup secara sederhana, kita juga harus bisa berbagi dengan lainnya.

Seperti kisah seorang penjual kerupuk di Bandarlampung bernama Mbah Saidi ini. Kesehariannya benar-benar menyentuh hati banyak orang. Bagaimana tidak, meski dalam kondisi kekurangan, Mbah Saidi dan istrinya selalu berbagi makanan dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Keduanya bahkan rela hanya makan dengan nasi garam atau ikan asin agar ODGJ yang mampir ke rumahnya dapat makan dengan layak. Tentu saja, kisah kakek penjual kerupuk berhati mulia ini menarik perhatian banyak warganet di media sosial.

Dilansir brilio.net dari laman kitabisa.com, Senin (26/7), Mbah Saidi setiap harinya berjalan puluhan kilometer berkeliling kota Bandarlampung untuk menjajakan dagangannya berupa aneka macam kerupuk dan kemplang.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Kisah kakek penjual kerupuk © Instagram/@kitabisa.com

foto: Instagram/@kitabisa.com

"Kerupuk yang saya jual ini, yang besar saya jual Rp 15 ribu dapat untung Rp 2 ribu, yang kecil saya jual Rp 7 ribu dapat untung seribu. Kalau lagi mujur, seharian keliling bisa dapat untung Rp 30 ribu. Kalau sekarang sulit, laku 5 bungkus aja udah alhamdulillah, pulang malem bisa bawa uang Rp 10 ribu," kata Mbah Saidi seperti dilansir dari kitabisa.com.

Meski sudah berjalan jauh, terkadang dagangan Mbah Saidi tak ada satu pun yang laku terjual. Bahkan, Mbah Saidi kerap menahan lapar dengan air putih saja.

Kisah kakek penjual kerupuk © Instagram/@kitabisa.com

foto: Instagram/@kitabisa.com

Mbah Saidi kerap merasa sedih jika sampai pulang tidak membawa uang. Bagaimana ia dan sang istri bisa makan, sementara setiap siang dan sore ada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) datang ke rumahnya untuk mengambil makanan. Mbah Saidi diketahui memang selalu rutin memberikan makan kepada ODGJ.

Apabila Mbah Saidi pulang tidak membawa uang lebih, maka ia dan sang istri rela makan nasi dengan garam atau ikan asin saja. Hal ini ia lakukan agar dapat memberi makanan yang layak untuk ODGJ yang selalu datang ke rumahnya untuk mengambil makanan.

"Kasihan mereka mas, saya dan istri masih bisa hidup normal dan tidur dengan layak. Mereka (ODGJ) itu butuh perhatian dan kasih sayang kita," ujarnya lirih.

Mbah Saidi dan istri diketahui tinggal di rumah kontrakan dengan uang sewa Rp 10 juta per tahun. Mbah Saidi dan istri dikaruniai seorang anak dan sudah berumah tangga. Akan tetapi, kondisi ekonomi anaknya juga pas-pasan.

(brl/red)