Brilio.net - Ketika menjalani bedah mayor atau operasi medis yang dilakukan di bagian tubuh, seperti kepala, dada, dan perut, sang pasien umumnya akan dibius total (anestesi umum). Jenis anestesi tersebut membuat pasien menjadi tidak sadar selama operasi berlangsung. Hal tersebut dilakukan agar memudahkan tim dokter dalam melakukan tindakan, supaya pasien tidak merasakan sakit yang bisa menimbulkan trauma.

Akan tetapi, hal tersebut tak berlaku bagi Dagmar Turner. Alih-alih, perempuan asal Inggris yang berusia 53 tahun tersebut justru menjalani operasi pengangkatan tumor otak sambil memainkan biola.

Segera, usai memulai operasi dengan anestesi umum, dokter bedah yang menanganinya membangunkan Turner untuk memainkan biolanya. Dengan mata terpejam, Turner pun mulai menggesek dawai biolanya.

operasi otak x biola berbagai sumber

foto: dailywire.com

Loading...

Usut punya usut, hal tersebut Turner lakukan karena ia takut jika operasi yang dijalaninya akan memengaruhi gerakan tangannya dan membuatnya tak bisa lagi memainkan biola.

"Biola adalah passion saya, saya telah bermain biola sejak berusia sepuluh tahun. Bayangan akan kehilangan kemampuan saya untuk bermain biola ini sangat menyakitkan," ucap Dagmar Turner, seperti dilansir brilio.net dari The Washington Post, Kamis (20/2).

Beruntungnya, ahli bedah saraf Profesor Keyoumars Ashkan yang menanganinya mengerti ketakutan yang dirasakan oleh Turner tersebut. Ia pun mengizinkan perempuan tersebut untuk memainkan biolanya saat operasi berlangsung.

operasi otak x biola berbagai sumber

foto: abc7news.com

"Tapi, Prof Ashkan memahami kekhawatiran saya. Dia dan timnya di Rumah Sakit King's College melakukan upaya yang luar biasa dalam merencanakan operasi ini. Mulai dari memetakan otak saya, hingga merencanakan posisi yang dibutuhkan agar saya tetap dapat bermain biola," jelas Turner.

Lebih jauh, apa yang dilakukan Turner tersebut rupanya juga membuat kerja tim dokter menjadi lebih mudah. Pasalnya, tim dokter bisa lebih memastikan bagian syaraf mana yang harus ditangani, sehingga tidak merusak bagian otak penting yang mengendalikan gerak motorik halus.

"Penting sekali bagi kami untuk dapat mempertahankan bagian otaknya yang mengendalikan gerak motorik halus yang memungkinkannya memainkan biola. Kami berhasil mengangkat 90 persen tumor, termasuk bagian yang dicurigai terdapat penyebaran agresif, sambil mempertahankan fungsi tangan kirinya secara utuh," pungkas Prof Keyoumars Ashkan.