Brilio.net - Buat kamu yang belajar sejarah kolonialisme, pasti sudah mengetahui bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan daerah yang dijajah oleh banyak bangsa Eropa.Myanmar, Malaysia dan Brunei, dijajah oleh Inggris. Laos, Kamboja dan Vietnam, dijajah oleh Prancis. Filipina dijajah Spanyol dan Amerika Serikat. Dan tentu saja Republik Indonesia dulu dikoloni oleh Belanda sampai akhirnya tahun 1945 berhasil meraih kemerdekaan.

Namun, fakta menariknya, di zaman itu ada satu-satunya negara yang berhasil lolos dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Negara itu adalah Thailand. Ketika negara-negara tetangganya harus didera penjajahan selama puluhan bahkan ratusan tahun, Thailand justru saat itu tetap merdeka sebagai negara berdaulat.

Loh kok bisa? Nah, kali ini kamu bisa mengetahui lebih banyak tentang bagaimana bangsa Thailand mampu mempertahankan diri dari kolonialisme bangsa Eropa. Dirangkum brilio.net dari berbagai sumber pada Senin (9/1) berikut ulasannya.

Cerita ini berawal dari sebuah kerajaan yang berdiri pada abad ke-18 bernama kerajaan Thonburi. Kerajaan ini merupakan penerus dari Kerajaan Ayutthaya yang hancur akibat serangan Kerajaan Burma pada 1767.

Setelah pusat kota Ayutthaya dibumihanguskan oleh pasukan besar Burma, ibukota Kerajaan Thonburi di tahun 1768 dipindahkan di Bangkok, di seberang timur sungai Chao Phraya.

Kenapa Thailand tidak pernah dijajah bangsa Eropa? Berbagai sumber

foto: Instagram/@payas_bhushan

Kerajaan Thonburi hanya mampu bertahan sampai 15 tahun. Kekuasaan beralih pada tahun 1782 ke Kerajaan Rattanakosin atau Siam yang kemudian mampu bertahan sampai akhir abad 18 dimana era kolonialisme dimulai.

Di masa itu, di kawasan Burma (Myanmar sekarang) dan semenanjung Malaya berhasil dikuasai oleh Inggris. Sementara Laos, Kamboja, dan Vietnam di kawasan Indocina berhasil dikuasai oleh Prancis. Melihat situasi itu, Kerajaan Rattanakosin menyadari pentingnya mempertahankan diri dari ancaman bangsa Eropa.

Strategi Diplomatik dengan bangsa Eropa

Langkah pertama yang dilakukan oleh mereka adalah menjalin beberapa perjanjian gencatan senjata dan hubungan diplomatik dengan bangsa Inggris di sebelah barat, dan Prancis di sebelah timur. Raja Siam saat itu, Mongkut atau Rama IV, menyadari bahwa untuk membuat orang-orang Eropa bersedia menjalin hubungan, bangsa Thailand harus punya level pengetahuan yang sama dengan mereka.

Selain itu, gaya berpakaian, sistem perdagangan juga dibuat menyerupai mereka. Sehingga, pada masa kepemimpinannya antara tahun 1851-1868, Thailand mengalami westernisasi besar-besaran.

Sekolah dibuat menyerupai sekolah-sekolah di Eropa. Gaya berpakaian pun dibuat serupa dengan mereka, militer pun dibuat modern, dan sistem perdagangan pun dibuat serupa.

Hasilnya, beberapa perjanjian berhasil dilakukan seperti Perjanjian Bowring. Raja Mongkut saat itu melakukan perjanjian dengan Gubernur Jenderal Inggris di Hongkong, John Bowring untuk meliberalisasi perdagangan luar negeri di Thailand terutama Kota Bangkok. Perjanjian tersebut membuat sungai Chao Phraya menjadi salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Indocina bahkan di Asia.