Brilio.net - Andrea Hirata penulis buku laris Laskar Pelangi, kini kembali menyapa penggemarnya melalui karya terbarunya bertajuk Guru Aini.

Dalam acara Intimate Evening di Digital Library Cafe and Working Space Fisipol UGM, Andrea Hirata menceritakan bahwa ia memerlukan hampir 2 tahun untuk riset sebelum menulis Guru Aini. Banyak referensi yang dibutuhkan terkait pelajaran Matematika yang menjadi ide dasar novel tersebut. Novel ini merupakan prekuel dari novel Orang-Orang Biasa yang diterbitkan pada 2019.

Menariknya, karya terbaru Andrea Hirata ini mengangkat tema sains, yakni Matematika sebagai tema utama. Kemudian Andrea Hirata melanjutkan konflik tentang Bu Desi yang berusaha mengajarkan Matematika kepada Aini.

andrea hirata guru aini © 2020 brilio.net

andrea hirata guru aini-© 2020 brilio.net/ferra

Loading...

"Saya tidak mau menjadikan novel yang hanya coba-coba dan memaksakan diri. Matematika seperti cinta pertama yang gagal. Semua orang mengalaminya tetapi tidak semua orang mau mengingatnya. Bagaimana saya bisa mempertanggung jawabkannya walaupun ini hanya sebuah novel, namun pembaca yang rasional pasti reasonable dong, kenapa tiba-tiba Aini ini bisa tiba-tiba pintar Matematika. Pasti tidak semudah itu menjawab pertanyaan ini," terangnya lebih lanjut.

Guru Aini menceritakan idealisme guru Matematika di pelosok yang memiliki obsesi untuk menemukan seorang jenius Matematika yaitu Aini. Jadi bukan hanya sekedar novel yang bercerita tentang sebuah drama romantika dari seorang guru yang idealis dengan seorang murid yang membabi buta belajar Matematika.

"Yang paling lama dari riset ini adalah satu hipotesa bahwa tidak ada satu anak pun yang bodoh. Itu penyataan yang sangat gamblang tetapi untuk membuktikan itu tidaklah mudah," tutur Andrea Hirata.

Guru Aini adalah buku ke-12 karya penulis kelahiran Belitung yang kini memutuskan untuk menjadi full time writer setelah berhenti bekerja 12 tahun di Telkom.

Penulis Andrea Hirata ini menerangkan bahwa dalam menulis novel bertemakan ilmiah itu tidaklah mudah meskipun ditulisnya hanya dalam hitungan dua minggu.

"Saya membaca banyak sekali buku - buku dan menemukan fakta bahwa 80 persen murid-murid mendapatkan nilai Matematika di bawah 5 yang saya nyatakan dalam sebuah novel. Saya menulis bukan karena saya pandai menulis, but culturally. Dalam menulis selalu terkait dengan time and place. Membunyikan kultur dalam tulisan selalu dilakukan dengan riset," ungkapnya.

andrea hirata guru aini © 2020 brilio.net

andrea hirata guru aini-© 2020 brilio.net/ferra

Pada sesi tanya jawab ada sebuah pertanyaan yang menggelitik mengenai ciri utama dari sebuah tulisan. Kemudian Andrea menjelaskan bahwa sesungguhnya yang seseorang tulis sudah mencirikan dirinya sendiri seperti dalam ungkapan 'you want what you read'.

"Saya dalam menulis terorientasikan pada kata sifat, seperti aku berjumpa dengan seseorang yang membuatku setiap hari terasa malam, setiap hari terasa kelam, setiap hari terasa mencekam," terangnya lebih lanjut.

Dalam sesi terakhirnya, pria yang sering disapa Pak Cik oleh penggemarnya ini juga mengaku bahwa ia masih memerlukan editor untuk kesempurnaan tulisannya.

"Bagi saya editor adalah nilai tambah. Ini adalah prinsip awal saya dari dulu karena saya menulis tidak pernah saya baca. Maka ketika membaca naskah aslinya lebih banyak membaca kata ketiak dari kata ketika," ungkapnya.