Brilio.net - Sebagai orang yang memiliki kecintaan tinggi terhadap alam dan hobi mendaki gunung, pasti selalu penasaran untuk menjajal mendaki setiap gunung. Bahkan banyak pendaki asal Indonesia yang sudah mencapai gunung-gunung ekstrim di dunia seperti Everest, Kilimanjaro, dan gunung lainnya. Hal itu mereka lakukan untuk mencoba hal baru dan juga mengharumkan nama Indonesia.

Seperti halnya yang nantinya akan dilakukan oleh lima pendaki profesional asal Indonesia. Dalam program Ekspedisi Merah Putih yang digelar Eiger, lima pendaki ini akan mendaki Gunung Hkakabo Razi di Myanmar yang dianggap menjadi gunung paling ekstrim. Ekspedisi besar itu akan digelar pada Juli hingga Agustus tahun 2020.

"Target pendakian adalah mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Hkakabo Razi sebagai hadiah ulang tahun Indonesia ke-75," ujar Ketua Pelaksana Ekspedisi, Galih Donikara saat konfrensi pers di Jakarta, Kamis (12/12).

Perlu diketahui, gunung dengan ketinggian 5881 mdpl ini terkenal dengan medannya yang sangat lengkap dan berbahaya. Mulai dari hutan hujan yang sangat lebat di kaki gunung, sampai lapisan salju dan gletser pada ketinggian 4600 mdpl sampai ke puncaknya.

Begitu beratnya medan Hkakabo Razi , para seven summiters (pendaki 7 puncak tertinggi di seluruh dunia) menjulukinya Anti Everest. Yaitu, kondisi yang sama sekali bertolak belakang dengan Gunung Everest yang sudah sangat mapan jalur pendakian dan infrastrukturnya.

Loading...

Di Hkakabo Razi, hutan hujannya masih perawan, lembab, gelap, serta penuh binatang berbahaya seperti ular piton, laba-laba, dan nyamuk malaria. Hal ini diperparah dengan tidak tersedianya jasa porter selama pendakian. Sehingga, semua perbekalan harus dibawa sendiri.

Para pendaki yang terdiri dari Sofyan Arif Fesa (World 7 Summiter, Mountain Guide, Mahitala Unpar), Nurhuda (World 7 Summiter, Mountain Guide, Wanadri), Fandi Achmad (Trail Runner, Mapala UI), Putri Handayani (Grandslam Athlete, Pekerja Outshore, Kappa FT UI) dan Fransisca Dimitri (World 7 Summiter, Mahitala Unpar) sudah menjalani diklat dan berbagai persiapan sejak bulan Juni 2019 lalu.

Persiapan pun sudah disusun dengan matang. Mulai dari survey, perizinan, pelatihan fisik sampai penyesuaian iklim setibanya di sana.

"Tim kemudian melakukan simulasi pendakian di Pangrang Razi, gunung tropis lainnya yang berada di Myanmar sebagai adaptasi dan aklimatisasi, sebelum kemudian mengakhiri program latihan di ketinggian Gunung Kangteng Ri di Kierzikstan,” ujar Galih Donikara.

Rangkaian petualangan Eiger di kawasan tropis sudah di mulai dari kawasan Merabu dan Beriun di jantung hutan hujan tropis Kalimantan lewat ekspedisi Black Borneo pada tahun 2015 dan 2016. Dilanjutkan Ekspedisi 28 Gunung Tropis Indonesia dari Aceh sampai Papua pada 2017. Galih meyakini ekspedisi ini akan membawa keberhasilan para pendaki untuk bisa sampai ke puncak Gunung Hkakabo Razi.

Sementara itu, salah satu pendaki wanita yang akan mengikuti ekspedisi ini, Fransiska Dimitri mengatakan ketertarikannya mengikuti ekspedisi ini karena ia ingin mencoba sesuatu yang berbeda.

"Yang pasti persiapannya kolaborasi dengan pendaki lain, banyak belajar juga. Gunung ini juga beda sama gunung lain yang pernah saya coba," kata Fransiska.