Brilio.net - Slogan "Maskerku melindungi kamu, maskermu melindungi aku" masih terus disosialisasikan ke masyarakat sejak awal pandemi hingga kini. Harapannya agar masyarakat tetap mau mengenakan masker setiap hari. Kampanye penggunaan masker kain pun bisa jadi alternatif ketimbang tidak memakai sama sekali. Terutama saat beraktivitas di luar rumah serta berinteraksi dengan orang lain.

Keuntungan lainnya, masker kain bisa dicuci memakai detergen lantas dipakai kembali. Menurut Dokter M Hud Suhargono, Humas Keluarga Penyangga Indonesia, masker kain merupakan salah satu alternatif yang efektif untuk mencegah penularan virus corona.

"Salah satu keuntungan lainnya adalah bahan masker kain ini bisa dicuci lagi dengan detergen biasa, sehingga lebih memudahkan masyarakat dalam merawat dan menggunakannya," kata M Hud seperti dikutip dari Liputan6.com.

Sebelum mewabahnya corona, sebagian orang mungkin tidak pernah berpikir akan menjalani bisnis masker. Di balik semua masalah karena wabah ini, ada keuntungan besar yang bisa diraup masyarakat. Salah satunya yakni peluang usaha masker dengan bahan kain.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Sama seperti pria asal Pundong, Bantul, yang bernama Jayus Fatono yang mendapatkan 'berkah' kala pandemi. Jayus pada awalnya sibuk dengan usaha CCTV dan sang ayah bekerja sebagai penjahit. Selama pandemi corona, Jayus melihat sang ayah mengalami penurunan pelanggan.

"Bapak saya kan penjahit, waktu dulu kena pandemi pertama kali bapak saya tidak ada kerjaan. Sepi. Pandemi, siapa yang mau jahit baju, seragam? Berbulan-bulan nggak ada orang ke sini. Prioritas mereka memang bukan itu," ungkap Jayus Fatono kepada brilio.net saat ditemui di kediamannya pada Selasa (10/11).

Jayus pun memutar otak, ia mencari celah untuk dirinya dan juga sang ayah. Melihat peluang usaha masker dan antusias masyarakat cukup tinggi, mulailah Jayus mengajak ayahnya meniti profesi jadi pengrajin masker.

-

Berawal dari masker medis hingga kain, hasilnya laris manis.

Sekitar Maret 2020, Jayus pertama kali membuat masker medis dan dijual online. Penjualan maskernya langsung laris manis dalam sekejap. Namun karena mencari bahan baku masker medis sulit, Jayus hanya bisa membuat setidaknya dalam sehari 200 pieces.

Setelah pemerintah mengeluarkan imbauan menggunakan masker kain, Jayus pun beralih membuat masker kain. Dijahit langsung oleh sang ayah, Jayus menjual maskernya lagi-lagi secara online. Kendati begitu, inovasi sebagai pebisnis coba dikembangkan oleh Jayus.

"Kalau kain aja ya sama (dengan pebisnis lain). Tapi waktu itu yang masker kain custom (sablon) sedikit," lanjut Jayus.

menanggung untung pandemi pengrajin masker © 2020 brilio.net

foto: brilio.net/Nur Luthfiana

Penjualan masker kainnya tidak ia prediksi, ternyata banyak sekali peminatnya hingga sekarang. Sudah cukup terkenal di marketplace, Jayus pun mempersilakan konsumen sesama Jogja bisa datang langsung membeli di rumahnya.

Pelanggan Jayus mencakup semua golongan, mulai dari masyarakat awam hingga instansi besar seperti PLN dan Pertamina. Jika masker medis, Jayus bisa menjual dalam sehari 200 buah. Sedangkan untuk masker kain bisa dijual lebih dari 1.000 pieces dalam sehari.

-

Omzet sebulan bisa capai ratusan juta.

Nggak tanggung-tanggung, secara terang-terangan Jayus mengungkapkan bisnis barunya ini bisa membuahkan omzet sebulannya mencapai Rp 100 juta. Omzet itu ia dapatkan gabungan dari penjualan online maupun offline. Sedangkan laba yang Jayus peroleh diambil sekitar 25%-30% dari jumlah omzet.

"Rata-rata sih, sekitar Rp 50 sampai Rp 100 juta sampai," terang Jayus.

Masyarakat di sekitar rumah Jayus tentu mendapatkan pekerjaan dan berkah di tengah pandemi. Lantaran kewalahan dengan banyaknya peminat masker, akhirnya Jayus meminta bantuan penjahit lain untuk membantunya. Para penjahit masker Jayus adalah masyarakat sekitar kampungnya.

"Dulu kan saya sama bapak produksi sendiri di sini (rumah). Masker kain, kita nggak sanggup. Saya hanya motong di sini, kita drop kain. Ada orang yang saya percayai, dia ambil di sini, disebar di penjahit-penjahit di kampung-kampung itu," papar Jayus.

-

Bisnis membawa dampak positif pada masyarakat sekitar.

Bak simbiosis mutualisme, Jayus meminta warga sekitar untuk menjahit sekaligus bisa membantu mengangkat perekonomian masyarakat. Saat ini ada sekitar 15 hingga 20 orang yang turut menjahit masker miliknya.

menanggung untung pandemi pengrajin masker © 2020 brilio.net

foto: brilio.net/Nur Luthfiana

"Mereka juga terdampak, mereka nggak punya kerjaan. Ya sudahlah, ini kita bisa membantu mereka juga. Sedikit punya tambahan penghasilan. Biasanya ibu-ibu rumah tangga, mereka punya mesin tapi untuk menjahit profesional mereka tidak bisa," ujar Jayus.

Jayus mengambil supplier kain yang langsung dari pabriknya, lokasinya ada di Bandung. Masker yang ia jual polos warna putih Rp 3.500, warna hitam Rp 4.000 karena kainnya beda.

Sablon tergantung dari sablonnya seperti apa, paling murah Rp 5.000 sablon satu sisi. Masker yang paling laris masker custom yang sudah ia jual hingga Solok, Sumatera Barat dan Batam.

Berkah yang dirasakan Jayus ini tidak serta merta membuatnya lupa diri. Meskipun selama ini ia mendapatkan keuntungan lumayan dari masker kala pandemi, tak menampik kalau Jayus pun ingin keadaan kembali normal seperti sedia kala, jauh dari virus corona.

Mau ada pandemi atau tidak, melihat dan jeli akan peluang bisnis adalah kunci utama untuk meraih berkah dan untung di setiap momen.

"Siapa yang nggak mau kembali ke normal? Tapi kembali lagi, Allah Maha Adil ya. Pas seperti itu, terus kita bisa. Yang penting kita bisa jeli melihat peluang aja. Mau ada corona atau nggak, mungkin saya pas di waktu yang tepat, usahanya ini," pungkas Jayus Fatono.

-

Peruntungan pengrajin dan menjual masker baru.

Sama halnya dengan seorang wanita muda bernama Annisa Fitriana, karyawan dari salah satu perusahaan swasta Jogja. Wanita berusia 21 tahun itu juga mencoba peruntungan di tengah wabah ini. Annisa yang memang suka berdagang sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama ini mengajak saudaranya menjahit serta menjual masker sejak Oktober 2020.

"Yang jahit om saya, saya sediain bahan dan modelnya," tutur Annisa Fitriana saat dihubungi brilio.net pada Senin (9/11).

Meski tidak menentu, tapi dalam sehari bisa terjual 8 hingga 15 buah, atau lebih untuk masker kain. Kini sudah banyak konsumennya yang mulai repeat order atau membeli lagi padanya. Sekali COD atau bertemu langsung bisa terjual 20 sampai 30-an masker.

Dia memperoleh bahannya dari beli dan ada juga yang memanfaatkan kain perca yang masih bagus. Jika bahan masker ia beli dengan kisaran harga Rp 25 ribu, per meter bisa menghasilkan 6 masker.

Annisa menjual maskernya dengan kisaran harga mulai dari Rp 6 ribu. Dia merasakan yang masker yang paling laris selama ia jual adalah masker kain jenis polos.

Memulai bisnis di pertengahan Oktober, Annisa mengaku belum terlalu mendapatkan banyak keuntungan bersih. Dalam satu bulan berjualan ia meraih untung sekitar Rp 400 ribu. Bukan tanpa sebab, karena kesibukannya di kantor, Annisa baru sebatas menjajakan dagangannya melalui akun media sosialnya jika sudah agak senggang. Dia meng-upload katalog di status WhatsApp (WA) dan Instagram (IG). Namun saat ini Annisa sudah berkeinginan memulai menjual maskernya di e-commerce.

menanggung untung pandemi pengrajin masker © 2020 brilio.net

foto: Annisa Fitriana

Membuat masker baginya sangat mudah dan cepat. Pernah suatu hari ia bisa menyelesaikan masker 120 buah dalam sehari.

"Ntar saya yang buat polanya, om saya tinggal jahit," lanjut Annisa.

Membeli masker kain di tempat Annisa, pelanggan bisa request warna kain dan tali yang disukai lho. Sekarang ia juga sudah menerima orderan by custom. Masker yang ia jual kebanyakan 2 lapis.

Untuk mengakali 3 lapis anjuran pemerintah, Annisa membuat di dalam maskernya bisa dipasangi tisu. Jadi konsumen bisa kasih filter sendiri supaya lebih aman. Namun, Annisa tetap bersedia dan melayani pelanggan yang ingin membeli masker custom kain lapis tiga darinya.

Berbicara terkait 'yang menanggung untung kala pandemi', bukan soal untung saat wabah, tapi kejelian mencari inovasi. Tren apa yang sedang diminati masyarakat, itulah yang Annisa sampaikan.

"Hmm, sebenarnya saya mulai bisnis udah sejak SMP. Menurut saya, sebagai pebisnis itu harus telaten, karena namanya bisnis ya pasti siklusnya nggak stabil. Harus cari inovasi juga, cari tahu di kalangan masyarakat itu yang lagi tren apa. Bagaimana caranya produk kita bisa disukai dan bisa bersaing di market luar," kata Annisa.

-

Keuntungan bekerja sambilan jualan masker online.

Selain Jayus Fatono dan Annisa Fitriana, Andromeda dan istrinya yang bernama Anggi menjadi salah satu penjual masker batik jenis headloop dan earloop online. Bermula sejak Juli, merespons peluang dan kebutuhan pasar, ia menyediakan masker dengan berbagai tipe harga.

Menjual masker ini ia tekuni bersama sang istri sebagai pekerjaan sampingan, tapi keuntungan dari jualan masker sudah ia rasakan. Dalam satu bulan, sebagai penjual online, Andromeda bisa menjual masker hingga ratusan. Sejauh ini ia pun telah menjual maskernya itu sampai ke Kaltim dan Ambon.

"Nggak ngitung (pastinya). Pokoknya per pieces untung sekitar Rp 2 ribu. Maklum cuma sampingan. Di bawah Rp 1 juta (sebulan)," jelas Andromeda.

menanggung untung pandemi pengrajin masker © 2020 brilio.net

foto: Andromeda

Sejauh ini jualan masker menguntungkan bagi Andromeda. Saat ditanya kelanjutannya, ia berencana untuk meneruskan usaha tersebut. Baginya, peluang ini adalah upayanya dalam merespons pandemi.

"Setiap orang punya cara masing-masing untuk merespons pandemi. Kebetulan salah satu yang saya pilih ya mencoba bertahan dengan melihat peluang di pasar, yaitu supply kebutuhan masker. Soal keuntungan, kalau ada ya alhamdulillah," kata Andromeda.

Masker Andromeda dijual dengan harga Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per buah. Pria asal Sleman ini mendapatkan masker dari pengrajin Jogja dan Jawa Tengah. Dirinya mengaku mencoba kurasi dari beberapa pengrajin. Sampai ia bisa mendapatkan yang terbaik, harga terjangkau, baru ia jadikan kekuatan tersendiri untuk dijual secara online.

(brl/gib)