Brilio.net - Persebaran virus corona (Covid-19) di Tanah Air masih terus berlanjut. Sejumlah daerah harus melakukan pembatasan sosial berskala besar. Pemerintah pun menganjurkan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas dari rumah. Tujuannya untuk menekan penyebaran virus corona.

Perang melawan virus corona hingga kini terus dilakukan. Selain pemerintah, berbagai lembaga terus memberikan dukungan untuk mengurangi penyebaran virus corona. Dibalik situasi ini, muncul berbagai gerakan di masyarakat untuk memberikan dukungan, khususnya kepada para tenaga medis yang berada di garis terdepan melawan virus mematikan ini.

Dukungan tak hanya dari masyarakat dan perusahaan. Sejumlah pelajar dari tiga sekolah di Kudus, Jawa Tengah juga tergugah untuk membantu tenaga medis yang bertugas di sejumlah rumah sakit dengan memberikan Alat Pelindung Diri (APD) dan cairan pembersih tangan buatan sendiri.

SMK Kudus © 2020 brilio.net

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Cara inilah yang dilakukan SMKN 3 Kudus, SMKN 1 Kudus, dan SMK Duta Karya Kudus. Ketiga SMK binaan Djarum Foundation itu turut berperan aktif memberikan solusi permasalahan pandemi di tengah penyebaran virus corona.

Penyerahan bantuan ini dilakukan kepala sekolah masing-masing yakni Saiful Hadi (Kepala Sekolah SMKN 1 Kudus), Budi Susanto (Kepala Sekolah SMKN 3 Kudus), serta Muhammad Thoat (Kepala Sekolah SMK Duta Karya Kudus) kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di kantor IDI Kabupaten Kudus, Senin (4/5). Ketua IDI Kabupaten Kudus Ahmad Syaifuddin berterima kasih atas kontribusi yang diberikan para siswa dengan hasil karya mereka.   

“Rata-rata kebutuhan APD secara keseluruhan di rumah sakit rujukan penyakit virus corona di Kabupaten Kudus setiap harinya bisa mencapai 500-an unit APD,” ujar Syaifuddin.

Bantuan tersebut kemudian didistribusikan kepada rumah sakit dan masyarakat yang membutuhkan. Produksi akan tetap dilanjutkan dengan target 1000 set APD selesai pada akhir Mei 2020. APD tenaga medis merupakan karya para siswa SMKN 3 dan SMKN 1 Kudus yang mendapat bimbingan guru. Siswa jurusan tata busana di kedua sekolah tersebut berpartisipasi dan mempraktekan langsung pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki untuk membuat pola APD.

Proses produksi tetap menjaga kualitas material dan pola APD yang sesuai dengan standar rumah sakit. Produksi APD dilakukan siswa-siswi dengan kondisi tubuh yang fit dan sehat.

Prosedur dan anjuran menjaga kesehatan selama pandemi virus corona juga tetap diberlakukan. Siswa mengenakan masker higienis, menjaga kebersihan, dan menerapkan physical distancing demi keamanan bersama ketika memproduksi APD di lingkungan sekolah. Mereka berhasil memproduksi 400 set APD hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

SMK Kudus © 2020 brilio.net

Sementara cairan antiseptik pencuci tangan (hand sanitizer) merupakan karya para siswa di SMK Duta Karya Kudus. Sekolah vokasi yang berfokus pada kimia industri ini membuat hand sanitizer untuk dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma.

Produksi hand sanitizer dilakukan siswa yang dilengkapi dengan standar laboratorium kimia industri. Mereka berhasil memproduksi 1500 botol hand sanitizer yang siap beredar memenuhi kebutuhan masyarakat luas.

Program Associate Bakti Pendidikan Djarum Foundation Galuh Paskamagma menyampaikan bahwa partisipasi aktif dalam penanggulangan virus corona menjadi bukti bahwa siswa SMK tidak hanya siap terjun ke lapangan berbekal keterampilan yang dimiliki. Namun menjadi kontribusi kaum muda untuk memecahkan permasalahan yang terjadi, dalam hal ini membantu Indonesia berperang melawan virus corona.

“Dengan kejadian luar biasa selama pandemi, siswa SMK sanggup menjadi problem solver dalam mengatasi kelangkaan APD dan hand sanitizer di lingkungan sekitarnya. Mereka melakukan aksi nyata sebagai hasil pembelajaran mereka dengan pendampingan dan pembinaan yang tepat di lingkup pendidikan mereka,” ujar Galuh.

Lebih lanjut, Galuh juga menambahkan bahwa aksi ketiga SMK binaan Djarum Foundation ini dapat menginspirasi SMK di seluruh daerah untuk bersama-sama ikut bergerak meningkatkan makna pendidikan, makna belajar dan nilai kemanusiaan melawan virus corona.

(brl/red)