Brilio.net - Manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Hal ini membuat seorang manusia tentu tidak bisa hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial, Allah menciptakan saudara, sahabat, bahkan pasangan hidup untuk menemani seseorang terutama dalam beribadah dan mencari ridho-Nya.

Dari interaksi yang dilakukan dari satu orang dengan orang lain, secara intens dan terus menerus akan menghasilkan pertemanan atau persahabatan di antara kedua orang atau bahkan lebih. Selain dari interaksi yang terus-menerus, pertemanan juga dapat tercipta karena kesamaan hobi, kesamaan aktivitas dan lain sebagainya. Meski memiliki banyak persamaan, tak dapat dipungkiri setiap orang pasti memiliki perbedaan dalam berbagai hal, karena Allah menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing.

Mengetahui dan memahami perbedaan tersebut, seorang teman atau sahabat berusaha untuk mengerti dan mengimbangi perbedaan dengan memahami karakter masing-masing. Dalam Islam, persahabatan merupakan salah satu yang sangat dianjurkan.

Dirangkum brilio.net dari berbagai sumber pada Senin (21/9), anjuran untuk menjalin persahabatan tersebut tertera dalam Alquran. Pada surat Al Hujurat ayat 10, Allah berfirman:

Loading...

Innamal-mu'minuna ikhwatun fa aslihu baina akhawaikum wattaqullaaha la'allakum tur-hamun

Artinya:
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Adapun dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak mendzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya".(HR Muslim)

Adab menjalin pertemanan dalam Islam

foto: freepik

Dalam ayat dan hadits yang sudah dijelaskan sebelumnya, Allah dan Rasulullah menganjurkan umat manusia untuk menjalin persahabatan terutama dengan sesama Muslim. Rasulullah juga mengajarkan kepada umatnya untuk menjaga adab pertemanan. Hal inilah yang membuat Rasulullah amat disayangi para sahabat.

1. Bergaul dengan mukmin.

Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin. Janganlah memakan makananmu melainkan orang bertakwa." (HR. Abu Daud no. 4832 dan Tirmidzi no. 2395. Hadits ini hasan kata Syaikh Al Alba)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga bersabda:

"Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap." (HR. Bukhari)

2. Menjaga perkataan.

Ketika berbicara dengan teman, alangkah baiknya jika menjaga perkataan agar tidak menyakiti teman. Berkatalah dengan perkataan yang baik, dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Rasulullah bersabda:

"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Berpakaian yang baik.

Ketika bergaul, hendaknya seseorang juga tetap menjaga pakaian yang digunakan untuk selalu sopan dan menutup aurat dengan sempurna, terutama jika berada di keramaian. Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata dalam kitab al-Hilyah:

"Perhiasan yang tampak menunjukkan kecondongan hati. Orang-orang akan mengklasifikasikan dirimu hanya dengan melihat pakaianmu. Maka pakailah pakaian yang menghiasimu dan tidak menjelekkanmu, dan tidak menjadi bahan celaan dalam pembicaraan orang atau bahan ejekan orang-orang tukang cemooh."

4. Tidak memotong pembicaraan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Jika engkau mengatakan ‘diamlah’ kepada orang-orang ketika mereka sedang berbicara, sungguh engkau mencela dirimu sendiri." (HR. Ahmad)

5. Menghindari perdebatan.

Untuk menjaga pertemanan, alangkah baiknya sebagai seorang Muslim menghindari perdebatan. Perdebatan ini akan memunculkan pertengkaran dalam pertemanan. Meskipun kita tahu teman berbuat kesalahan, maka beritahulah dengan lembut dan sopan, serta jangan mendebat apalagi menggunakan nada tinggi atau membentak.

6. Saling memberi hadiah.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)

2 dari 2 halaman

Selain Rasulullah, Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444 juga menjelaskan adab-adab dalam berteman dalam Islam yaitu sebagai berikut.

foto: freepik

1. Menunjukkan rasa gembira ketika bertemu.

Adab pertama yang diajarkan oleh Imam Al Ghazali dalam pertemanan yaitu menunjukkan rasa gembira ketika bertemu dengan teman. Kegembiraan ini dapat digambarkan melalui sikap saat bertemu dengan teman, seperti menjabat tangan, memeluk sesama wanita atau sesama laki-laki. Hal ini menjadi salah satu tanda pertemanan yang baik, berbeda dengan orang yang bermusuhan maka akan saling benci ketika bertemu.

2. Ucapkan salam.

Ketika bertemu teman sesama Muslim, diwajibkan untuk saling mengucap salam. Apa pun latar belakang profesinya, mengucap salam lebih dulu menunjukkan posisi yang setara. Dengan begitu, orang lain tidak merasa lebih rendah dari yang lain.

3. Bersikap ramah ketika duduk bersama.

Ketika bertemu dengan teman, sebagai Muslim diwajibkan untuk bersikap ramah. Dengan keramahan yang diberikan, maka kemungkinan terjalinnya keakraban satu sama lain akan semakin dekat dan erat.

4. Ikut melepas saat teman berdiri untuk pamit.

Ketika teman berdiri untuk pamit pulang, sebagai umat Islam yang baik dianjurkan untuk ikut melepas atau mengantar teman yang pamit pulang. Sikap ini menunjukkan penghargaan atau penghormatan terhadap teman.

5. Memperhatikan saat teman berbicara.

Ketika teman sedang berbicara, wajib memperhatikan dan berusaha untuk tidak mendebatnya ketika berbicara. Sikap ini juga menunjukkan penghargaan atau penghormatan terhadap teman sebagai wujud dari kesetaraan.

6. Menceritakan hal-hal yang baik.

Berkaitan dengan adab yang sebelumnya, agar tidak saling menyakiti maka ceritakanlah hal-hal yang baik dengan teman kita. Dengan menceritakan kebaikan, maka kecil kemungkinan adanya perdebatan yang bisa saja menimbulkan pertengkaran atau bahkan perpecahan.

7. Tidak memotong pembicaraan.

Ketika teman sedang berbicara, alangkah baiknya jika kita terlebih dahulu mendengarkannya sebelum memberikan tanggapan. Jangan sampai memotong pembicaraan. Karena jika memotong pembicaraan tanpa alasan yang kuat, maka hal tersebut justru akan membuat orang lain merasa tidak dihargai.

Demikian pula memanggil teman sebaiknya dengan panggilan yang ia senangi. Seseorang mungkin biasa dipanggil sesuai dengan pekerjaannya. Tetapi apabila panggilan seperti ini sebetulnya tidak disenangi, maka sebaiknya dihindari.