Brilio.net - Setiap orang punya cara untuk mempertahankan hidupnya. Baik yang masih single, sudah menikah atau menjalani kehidupan tanpa pasangan. Seperti Any Farida, perempuan asal Manggar, Sumatera Selatan ini harus menjalani kehidupan sebagai single parent atau orangtua tunggal.  

Ibu tiga anak ini ingin berbagi cerita perjalanannya menjadi seorang single parent. Cerita Any ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Any Farida mengunggah ceritanya di sebuah grup facebook melalui akun pribadinya. Dia bercerita  menjadi seorang single parent adalah sebuah jalan sekaligus tanggung jawab yang harus dilakoni dengan sungguh-sungguh. Sebagai ibu dari 3 orang anak, Any juga harus pintar membagi waktu.

Kisah single parent besarkan anak dengan berbisnis roti, salut!

"4 tahun yang lalu kami benar-benar melangkah dari titik 0. Dalam kondisi terpuruk tetapi saya tidak ada waktu untuk meratapi kondisi kami, karna saya punya tanggung jawab besar terhadap kebutuhan 3 anak," tulis Any mengawali ceritanya.

Any bilang awal langkahnya harus dilalui dengan banyak rintangan. Dirinya berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan uang dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Karena di rumah ada oven maka saya mencoba membuat roti, roti pilihan saya karna tidak perlu modal banyak dan tidak terlalu berisiko, bisa tahan berapa hari," ungkap any, seperti yang dikutip brilio.net dari akun Facebooknya, Selasa (1/3).

Loading...

Pekerjaannya membuat roti saat pertama kali harus dilakukan di kamar tidur karena rumah yang Any tempati tidak mempunyai dapur. Malam jadi tempat tidur, siang jadi tempatnya membuat adonan roti. Selain ituu untuk membuat adonan roti tidak menggunakan mesin melainkan 'nguli' atau manual pakai tangan. Dengan awal membuat adonan roti 1kg, dirinya langsung menjualnya ke tetangga hingga menitip ke warung-warung agar cepat mendapatkan uang sebagai modal lagi.

Jam kerja Any membuat adonan sekaligus menjualnya ke warung-warung dimulai pukul 06.00 pagi dan baru sampai rumah jam 10.00. Sesampainya di rumah, tidak ada kata istirahat. Sebab dirinya harus langsung membuat adonan roti lagi.

"Setiap hari saya nguli 15kg. Nguli sendiri, ngopen sendiri, bungkus sendiri. Pekerjaan saya selesai jam 1 siang. Setiap hari saya mandi jam 13.30. Rutinitas ini saya jalani selama 1 tahun," katanya.

Kisah single parent besarkan anak dengan berbisnis roti, salut!

Beruntungnya, tahun ke-2 Ibu Any sudah bisa membeli mesin dan memperkerjakan 1 karyawan. Tak lama dari itu, 1 karyawan bertambah lagi. 2 karyawan bertugas untuk membuat adonan sampai membentuk roti.  Any tetap bertugas memanggang roti di oven. Meski sudah punya mesin dan karyawan, pesanan roti mulai bertambah sehingga membuat jam kerja Any bertambah. "Saya pulang ngantar roti jam 11.30, jam 12 saya mulai manggang ples bungkus. Tugas saya selesai jam 21.00," tulisnya dalam sebuah grup.

Menjadi single parent kini bertambah pula dengan menjadi mompreneur dengan tantangan tersendiri. Selain mengurus pesanan rito, Any punya kewajiban yang tak dapat dia tinggalkan, yaitu mengurus ketiga anaknya yang beranjak besar. Tak berlebihan rasanya jika sosok seperti Ibu Any patut diacungi jempol. Di tengah kesibukan yang serba dilakukan sendiri, Ibu Any bisa bertahan mengelola bisnis roti.

"Ini saya lakukan selama 2,5 tahun. 2,5 tahun saya ngantar roti menggunakan motor pakai keranjang. Ngantar roti pakai keranjang banyak sekali dukanya, jarak yang saya tempuh 40 km. Saya melalui jalan sepi n hutan. Pecah ban ditengah hutan itu sudah biasa terjadi. Keranjang melanting dari motor, itu juga biasa terjadi. Tetapi aku tetap maju terus, tidak pernah mundur," paparnya.

Kisah single parent besarkan anak dengan berbisnis roti, salut!

Lambat laun usaha Ibu Any terus mengalami kemajuan, karyawanpun bertambah. Roti yang biasa ia bawa memakai keranjang sudah tidak bisa tertampung lagi, sehingga akhirnya dirinya memutuskan untuk membeli mobil dari uang hasil roti.

"Saya akan terus maju kedepan, dengan begitu saya bisa menyerap tenaga kerja. Semoga niat yang baik akan membawa berkah untuk banyak orang," harap Ibu Any mengakhiri kisahnya.