Brilio.net - Menjadi seorang pemain peran, bukan soal perkara gampang. Setidaknya, seseorang harus bisa melepaskan kediriannya dalam setiap sosok yang dimainkannya di panggung. Proses inilah yang dipelajari Susilo Nugroho (57).

Jika menyebut nama Susilo Nugroho, barangkali hanya segelintir orang yang tahu. Namun jika menyebut 'Den Baguse Ngarso', pastilah banyak orang mengangguk tahu.  Den Baguse Ngarso adalah sosok fenomenal di serial 'Mbangun Deso' yang ditayangkan TVRI Jogja pertengahan tahun 90-an. Peran antagonis itulah membuat Susilo, lebih lekat dikenal dengan nama tersebut.  

Susilo Nugroho  © 2016 brilio.net

Selain aktif di dunia seni peran, Den Baguse sehari-hari adalah seorang guru di SMK N 1 Bantul, Yogyakarta. Menjadi seorang guru sekaligus menjadi seorang pemain peran yang aktif, tentu saja membuat Den Baguse sangat sibuk. Tapi, beliau sama sekali tak pernah berniat meninggalkan salah satunya.

Bagaimana ya kisah perjalanan Den Baguse di dunia seni peran dan sebagai seorang guru? Bagaimana juga tanggapan Den Baguse tentang isu-isu terhangat yang berkembang? Nah, yuk simak wawancara brilio.net dengan Den Baguse Ngarso di SMK N 1 Bantul, Yogyakarta, Kamis (10/11):

Loading...

Sejak kapan terjun ke dunia peran?

Dulu waktu SMA, sebenarnya saya pernah merasa minder karena nggak punya teman. Saya mikir-mikir mau ikut latihan apa biar punya teman. Kalau musik atau olahraga rasanya saya tak punya bakat. Sepertinya kok cuma teater ya yang nggak butuh bakat. Ya sejak saat itu sampai sekarang saya di dunia seni peran. Di situ juga saya jadi punya banyak teman.

Teman-teman pertama di dunia teater di Jogja siapa saja?

Yang masih hidup sampai sekarang ya Sepnu Heryanto, Jujuk, dan Butet.

Ini kan Hari Pahlawan, di pentas teater siapa sih yang jadi pahlawan bagi Anda?

Salah satu yang saya idolakan itu namanya Darsono. Dia memang tak pernah menjadi seorang bintang, tapi dia kerap kali membuat pemain lain menjadi bintang di panggung. Karakter seperti ini yang sangat susah, menjadi seorang bintang itu gampang tapi membuat orang lain menjadi bintang di panggung itu susah. Kalau dari segi nama besar beliau memang kalah dengan Basiyo dan lainnya, tapi beliau ini sangat dibutuhkan di panggung. Dia itu keren dan kreatif, padahal sedikit bicara lho.

Naskah paling favorit sejauh ini apa?

Duh sulit kalau ini, saya banyak suka soalnya.

Pernah berniat pensiun dari dunia seni peran, menulis naskah, dan menjadi sutradara pentas?

Nggak lah. Istilahnya, pelaku kesenian itu tidak mengenal istilah pensiun. Saya menyikapinya dengan, ya begini, ini kebutuhanku yang pertama. Yang kedua saya sering cuek dengan pengkotak-kotakan seperti ini teater, ini dagelan, ini ketoprak, itu nggak penting. Bagi saya semuanya teater, dan saya lakukan semua. Saya suka dan saya cari duit dari sana.

Apa perbedaannya panggung seni peran rakyat dulu dan kini menurut Anda?

Gini, kalau dulu ya tahun 70-an rasanya saya gampang sekali ketemu dengan pentas gratis. Hampir di semua kampung itu punya grup teater. Dulu tuh 'ampuh banget', hampir setiap saat itu ada pertunjukan. Di kampus-kampus apalagi, setiap minggu ada pertunjukan gratis. Ya jelek memang pertunjukannya, wong seadanya, tapi sangat menyenangkan.

Kalau sekarang, kok rasanya pentas kalau tempatnya nggak bagus nggak mau. Sedikit yang mau pentas seadanya, dulu padahal halaman rumah saya itu sering lho buat pementasan. Dari segi pemeran sendiri, saya merasa dulu kok proses itu penting sekali kalau sekarang apa-apa target. Baru pertemuan pertama latihan sudah tanya kapan pentas, berapa kali latihan. Lha dulu saya pernah di Gandrik latihan berbulan-bulan bahkan tahunan tapi nggak tahu pentasnya kapan.

Seberapa besar humor di seni panggung berpengaruh bagi rakyat?

Saya sebenarnya kalau di humornya baru ya, saya lebih banyak di teater. Soal informasi sampai ke penonton dengan baik, ya itu harapan pemain tentu saja. Tapi, ya saya yang penting main sajalah.

Kalau pentas dengan dibiayai oleh lembaga-lembaga yang 'dibenci' masyarakat menurut Anda bagaimana?

Ini susah ya, jadi kalau menurut saya tergantung bagaimana tuntutannya. Lembaga atau apapun itu bentuknya harus diartikan secara tegas dulu, melulu negatif atau ada positifnya. Tapi, ini agak sensitif ya tentu saja. Bagaimana perjanjiannya dulu, kalau kami dapat dana tanpa harus membuat citra baik tentang lembaga itu ya oke sih. Daripada duitnya nanti malah disalurkan ke yang lain, misalnya. Tapi, tetap saja harus dikaji dan dipelajari dulu.

Kalau heboh 4 November kemarin, berniat menjadikannya sebuah naskah?

Em, gimana ya. Saya sering nggak mau kalau dikaitkan dengan keagamaan. Persoalan kita kan banyak yang bisa diangkat. Di balik peristiwa itu juga kan belum jelas.

Yang pernah aku ketoprakkan dulu malah soal Century. Kenapa? Karena semua orang membicarakannya. Kalau soal Century itu kan semua masyarakat satu suara, nah kalau 4 November ini kan suaranya banyak dan bermacam-macam.

Selama di dunia seni peran kritik apa yang paling sering Anda dapat?

Saya sering dibilang pelit. Soalnya gini, kalau ada yang nanya ke saya bagaimana caranya memerankan karakter ini itu kok apik banget, saya merasa nggak bisa jawab. Lha wong saya 'teko' memainkannya kok.

Apalagi kalau yang tanya-tanya itu Sarjana Seni, sering bingung saya jawabnya. Sama pertanyaan mereka yang aneh-aneh saja saya sering bingung. Saya kan nggak belajar teorinya, cuma praktik, jadi ya nggak bisa njelasin kayak insinyur.

Kalau jadi guru, udah berapa lama?

30 tahun sampai sekarang. Awal 1994 mengajar di SMK N 1 Bantul, dulu sebelumnya pernah di De Britto, terus ke SMEA Wonosari, baru ke sini. Saya mengajar di Pemasaran, nggak jauh-jauh dari situlah.

Apa bedanya menjadi guru dan menjadi seorang pemeran panggung?

Lho, justru sama. Dua-duanya sama-sama bermain peran. Bedanya, kalau jadi guru memainkan satu peran sementara jadi pemeran panggung terus berganti-ganti peran.

Lebih suka disebut seorang seniman atau guru?

Saya nggak pernah peduli dengan sebutan orang. Disebut seniman, aktor, guru, apapun terserah. Yang penting ya melakukan yang disuka saja, yang lainnya saya nggak peduli sih.