Brilio.net - Di masa pandemi Covid-19, berjualan secara online dianggap menjadi salah satu solusi untuk tetap bisa bertahan meraih pundi-pundi ekonomi. Cara ini boleh jadi dengan gampang dilakukan mereka yang tinggal di perkotaan atau daerah yang sudah tersentuh akses jaringan telekomunikasi. Tapi bagaimana dengan mereka yang wilayahnya susah sinyal.

Fakta inilah yang dialami Manis, penjual kopi asal Probolinggo yang tinggal di lereng Gunung Argopuro, Jawa Timur. Sejak pandemi merebak, pria yang selama 10 tahun bekerja di Balikpapan, Kalimantan Timur ini harus kembali ke kampung halamannya karena perusahaan tempatnya bekerja terdampak pandemi.

“Selama 10 tahun saya bekerja di Balikpapan. Saya terpaksa pulang ke kampung halaman karena bisnis di sana terkena dampak. Saya mulai usaha sendiri lewat jalur online,” cerita Manis.  

Lantas, bagaimana perjuangan pria berusia 25 tahun ini memasarkan kopi hasil panen petani di desanya, berikut lima faktanya.

1. Mengembangkan toko online Jualan Masboy

Loading...

Kopi Masboy © 2020 brilio.net

Di kampung ia mengembangkan toko online, Jualan Masboy dengan menjual kopi hasil panen petani setempat. Melalui usaha ini, ia juga bertekad untuk lebih menyejahterakan para petani kopi di desanya. “Kanal online membuat akses pemasaran produk para petani kopi di lereng Gunung Argopuro menjadi jauh lebih luas,” katanya.

Tak sekadar menjual kopi hasil panen, Manis pun membagikan ilmu yang ia miliki mengenai cara merawat kopi yang tepat agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Persoalan muncul ketika ia akan menjual hasil panen tersebut.  

2. Perjuangan mencari sinyal

Kopi Masboy © 2020 brilio.net

Manis harus berjuang keras mencari daerah di sekitar desanya agar mendapatkan sinyal. Masalahnya, tempat yang terjangkau sinyal bukan hanya berjarak dalam hitungan meter. Ia harus menempuh jarak hingga beberapa kilometer untuk mendapatkan akses jaringan telekomunikasi.

Perjuangan mencari sinyal layaknya orang yang ingin mendaki gunung. Harus membawa bahan makanan hingga peralatan masak. Hal ini disebabkan rumah Manis berada di daerah lembah. Antena yang dipasang pun tak mampu menarik sinyal.

“Jadi, saya jarang sekali di rumah. Lebih betah di tempat yang ada sinyal. Kadang sampai tidur di gardu atau hammock. Kalau cari sinyal seperti orang camping, harus bawa kompor portable dan mie instan,” kisahnya lagi.

3. Memanggul 10 kg kopi sejauh 7 kilometer

Perjuangan Manis belum berakhir ketika sudah mendapat sinyal. Ia tak jarang harus berjalan kaki berkilo-kilo meter demi menjangkau kurir terdekat agar pesanan konsumen bisa diantar. Ia bahkan pernah berjalan kaki memanggul paket kopi 10 kilogram dan menempuh jarak 7 kilometer untuk mengantarkan pesanan ke kurir.

Kondisi jalan yang berbatu tak memungkinkan manis menggunakan kendaraan bermotor setiap ada pesanan. Menurut dia, lebih aman berjalan kaki. “Terlebih kalau hujan, jalanan menjadi sangat licin. Jadi, lebih aman jalan kaki. Kalau tidak hujan, saya biasanya pinjam motor saudara untuk mengantar pesanan ke ekspedisi,” ujarnya.

Cara ini dilakukan manis semata-mata karena ia tidak ingin mengecewakan konsumen. Meskipun jauh, ia tetap semangat.

4. Perjuangan Manis, berbuah manis

Kopi Masboy © 2020 brilio.net

Perjuangan Manis perlahan berbuah manis. Kini produk kopi petani lereng Gunung Argopuro yang dipasarkan Manis bisa dinikmati masyarakat luas bahkan hingga ke Kalimantan. Ia juga berencana menambah varian produk lain olahan masyarakat desa, seperti kain dan sebagainya.

5. Mengajak anak muda mandiri

Kopi Masboy © 2020 brilio.net

Manis juga mendirikan komunitas anak muda yang putus atau selesai sekolah demi mengembangkan produk lokal dan menciptakan kemandirian ekonomi di desanya.

“Walaupun banyak dicibir tetangga karena berjualan online terlihat seperti pengangguran (hanya mengoperasikan gawai), saya akan terus melakukan sosialisasi pemanfaatan platform digital seperti Tokopedia dalam berbisnis demi kemajuan desa,” ujar Manis.