Brilio.net - Banyak cara dilakukan untuk memperingati HUT RI, mulai upacara bendera, lomba-lomba unik, hingga pemberian penghargaan kepada insan-insan yang mengabdikan diri pada negara. Namun kemeriahan hari kemerdekaan tak selalu dirasakan oleh rakyat Indonesia. Salah satunya mereka yang tengah merantau di luar negeri atau yang sering disebut diaspora. Kendala izin kerja, libur, atau urusan lain kadang tak memungkinkan untuk mengikuti perayaan HUT RI, baik di KBRI maupun kembali ke Tanah Air.

Beruntung bagi 47 ilmuwan diaspora yang tinggal di 11 negara. Tahun ini mereka berkesempatan merayakan HUT RI di negeri sendiri. Perayaan HUT RI tahun ini bertepatan dengan rangkaian acara Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Mereka akan bersinergi dan berkolaborasi dengan akademisi dalam negeri untuk kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia.

Selama 2-3 hari, para ilmuwan diaspora ini disebar mengunjungi 55 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Ternyata, momen ini menjadi ajang nostalgia bagi para diaspora.

Bagi Sastia Prama Putri, ilmuwan diaspora dari Jepang, perayaan HUT RI sangat dia nantikan setelah 15 tahun tak merayakannya. Selama tinggal di Jepang, wanita yang saat ini menjabat Assistant Professor di Osaka University tersebut mengaku sulit mendapatkan izin kerja mengikuti upacara kemerdekaan di KBRI Tokyo. Padahal ingin hati dia ikut keseruan lomba 17 Agustus seperti di Indonesia.

“Momen yang saya tunggu adalah pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil mengibarkan bendera merah putih. Saya sampai menangis terharu ketika hormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya,” ujar Sastia setelah mengikuti upacara bendera di sela-sela kunjungannya di Jember, Jawa Timur, Jumat (17/8).

Peringati HUT RI di Tanah Air, ini cerita haru para ilmuwan diaspora Istimewa

Sastia Prama Putri (membawa tas)/foto: Istimewa

Sebagai akademisi, Sastia memiliki cara tersendiri untuk mengisi kemerdekaan. Dia bertekad melakukan penelitian yang memiliki kontribusi bagi kemajuan bangsa. Dia mengajak seluruh ilmuwan dalam negeri maupun luar negeri untuk tidak menyerah memberikan sumbangsih bagi Indonesia.

Keharuan peringatan HUT RI juga dirasakan ilmuwan diaspora yang tinggal di Kanada, Abidin Kusno, yang kebagian wilayah di Lampung. Pria yang terakhir kali merasakan momen peringatan HUT RI di Indonesia pada 2001 lalu ini kembali teringat masa lalu saat mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ungkapan haru juga disampaikan Ratna Saptari Soetikno Slamet, ilmuwan diaspora dari Leiden University yang mendapat kesempatan singgah di Lampung. Ratna masih terhitung beruntung karena setiap tahun berada di Tanah Air ketika momen 17 Agustus sebab kampusnya libur saat tanggal ini.

Baginya, momen SCKD yang mengusung tema “Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami: Bersinergi dan Berkolaborasi Menunjukkan Sumbangsih Indonesia bagi Ilmu Pengetahuan Dunia” ini memberi jalan untuk mengetahui lebih banyak ilmu dan kendala di daerah.

"Sebagai ilmuwan tentu saya ingin dapat membangun perguruan tinggi di luar kampung halaman, dan berharap apa yang sudah kami rencanakan pada kegiatan SCKD ini dapat direalisasikan di perguruan tinggi daerah,” terang Ratna.

Perhelatan SCKD ini menurut Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti guna mengembangkan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi jembatan keilmuan antara Indonesia dengan dunia. Selain itu, SCKD diharapkan menjadi tali mempererat persatuan dan kesatuan Indonesia yang beberapa waktu belakangan justru menjadi PR besar.

Bersamaan dengan kesempatan SCKD ini, Ghufron juga menyatakan rasa bangganya atas prestasi diaspora yang berkontribusi bagi ilmu pengetahuan dunia. Salah satu contohnya Dani Harmanto, diaspora asal Surabaya yang menjabat Senior Lecturer di University of Derby, UK, dan telah mengembangkan Roll Royce di Inggris. Selain itu, Nawi Ng, seorang Professor di Unit of Epidemiology and Global Health, Department of Public Health and Clinical Medicine, Faculty of Medicine, Umeå University, Swedia. Bahkan Nawi pernah menjadi salah satu orang Indonesia yang ikut serta dalam kepanitiaan ajang pemilihan peraih Nobel.

Deretan ilmuwan diaspora berprestasi ini diharapkan Ghufron bisa menjadi role model sehingga lahir generasi penerus bangsa yang unggul, kompetitif, dan berkarakter.

Momen peringatan hari kemerdekaan menurut Ghufron menjadi momen tepat untuk refleksi diri terkait peran bangsa terhadap kehidupan, terlebih bidang keilmuan.

“Sudah saatnya Indonesia merayakan akar ilmu pengetahuan dari akar bangsanya sendiri, merapatkan barisan, menghadapi persaingan, menyamakan derap langkah untuk Indonesia yang lebih cerah. Apa yang telah diraih oleh diaspora Indonesia di mana pun mereka berada adalah wujud dari perjuangan bangsa,” pungkas Ghufron.

 

(brl/tin)