Brilio.net - Pepatah mengatakan, "Ilmu adalah jendela dunia". Hal ini ditunjukkan karena begitu besar manfaat dari sebuah ilmu. Dengan ilmu yang kamu miliki, kamu bisa mengetahui bagaimana perkembangan dunia.

Tidak hanya ilmu yang didapat dari bangku sekolah. Ilmu bisa lahir dari mana saja dan kapan saja. Bahkan mungkin tanpa disadari, kamu sudah mendapatkan ilmu dari sesuatu yang tak besar wujudnya. Namun hal itu justru akan memberikan banyak pengalaman penting untuk hidupmu.

Salah satu bukti bahwa ilmu bisa didapat dari mana saja bisa terlihat di kota Yogyakarta. Pandemi Covid-19 tidak menghambat akses masyarakat untuk terus menambah pengetahuannya sehari-hari. Misalnya di kampung Mraen.

Di sana, masyarakat bisa mengakses perpustakaan keliling Mraen Mimpi.

Perpustakaan keliling ini menggunakan sebuah gerobak, kreasi Irsyadi. Pemuda asal Jombang, Jawa Timur itu mendirikan Mraen Mimpi di dusun Mraen yang menjadi lokasi perantauannya.

Loading...

Mengenyam pendidikan selama 4 tahun di Kota Jogja, membuat Irsyad memiliki kedekatan tersendiri dengan lingkungan rumah kosnya itu.

Pada brilio.net Irsyadi mengaku, ide untuk membuat perpustakaan ini sebenarnya sudah muncul saat ia duduk di bangku SMK. Kemudian untuk konsepnya dia terinspirasi dari gerobak sayur keliling.

Saat remaja, ia sudah aktif dalam komunitas Forum Anak Jombang. Bersama teman-temannya, ia kerap melaksanakan kegiatan di Rumah Baca Gang Masjid atau yang dikenal dengan RBGM. Dari situlah, muncul keinginan bagi Irsyad dalam mendirikan sebuah rumah baca sendiri.

Namun karena masih belum memahami langkah yang harus ditempuh, sehingga mimpi itu hanya bisa tersimpan hingga bangku perkuliahan.

Mraen Mimpi  © 2020 brilio.net

foto: brilio.net/Rizka Mifta

"Ya namanya masih anak SMK ya waktu itu masih nggak tahu harus apa. Apalagi untuk bikin rumah baca, kan nggak tahu harus di rumah siapa trus mikir izin orang tua juga," kenang Irsyad.

Impian yang sempat tertunda itu, akhirnya kembali muncul di pertengahan masa kuliah. Berbekal keberanian, Irsyad membangun modal dengan mengumpulkan kertas bekas.

Mulai dari kertas revisi skripsi, kertas sisa praktikum, hingga berbagai kertas jenis lainnya yang didapat dari teman-temannya. Irsyad melihat, bahwa mahasiswa kerap menggunakan kertas dalam melakukan kegiatan perkuliahan. Namun sayangnya, sesudah itu kertas tersebut hanya menjadi tumpukan sampah di dalam kamar kos.

"Jadi dulu di tahun 2018, saya masih kuliah. Itu saya coba mengumpulkan kertas dari teman-teman," cerita Irsyad.

Proses membangun Mraen Mimpi tak semudah yang ia bayangkan. Salah satunya terjadi saat ia mengumpulkan kertas dari teman-teman yang ada di sekitarnya. Meski ada yang memberikan sebagian kertasnya, namun ada pula yang justru berprasangka uang tersebut digunakan untuk keperluan pribadi Irsyad.

Mraen Mimpi  © 2020 brilio.net

foto: brilio.net/Rizka Mifta

"Ada juga yang sempat bilang untuk beli Wi-Fi hahaha," tuturnya.

Dengan memanfaatkan kekuatan media sosial, ia pun menyebarkan informasi mengenai niatan untuk membangun perpustakaan tersebut. Beruntungnya, unggahan Irsyad sempat viral di kalangan mahasiswa. Sehingga, ia pun berhasil mendapatkan sumbangan kertas dari mahasiswa kampus lain dalam jumlah yang cukup banyak.

Melihat perkembangan ini, niat Irsyad semakin kuat untuk menyusun rencana jangka panjang dalam mewujudkan Mraen Mimpi. Untuk menjaga kepercayaan donatur, Irsyad juga membagikan perkembangan hasil kertas yang ia dapatkan. Mulai dari pemasukan yang ia terima sampai keperluan yang ia belanjakan dengan dana tersebut.

Pada awalnya, alumni Sekolah Tinggi Multi Media Yogyakarta ini menargetkan budget Rp 1,5 juta sebagai modal membangun gerobak. Dan waktu itu ia bisa mengumpulkan dana hingga Rp 800.000.

Irsyad pun memutar otak agar mimpinya tetap bisa terwujud. Dengan modal yang terkumpul, ia bekerja sama dengan salah seorang pedagang mi ayam di sekitar kos.

Dengan keahlian desain yang ia miliki, Irsyad memberikan gambaran mengenai gerobak yang ia idamkan. Tak sia-sia, setelah menanti selama sebulan, gerobak yang ia idamkan pun akhirnya lahir sesuai dengan bayangan.

Mraen Mimpi  © 2020 brilio.net

foto: brilio.net/Rizka Mifta

"Jadi saya coba kasih desain dari saya dulu kan. Terus saya kasih ke pak Yanto. Nah beliau terus coba bikin gambaran juga sesuai dengan bayangan dia, akhirnya kita sepakat, baru setelah itu di eksekusi. Alhamdulillah sekitar satu bulan itu, akhirnya bisa selesai," terang Irsyad dengan tersenyum.

Perjalanan dari tahun 2018 itu semakin bertemu dengan titik terangnya pada tahun 2020. Untuk menyempurnakan Mraen Mimpi, ia kembali membuka donasi untuk buku-buku bekas layak pakai yang bisa dimanfaatkan warga sekitar mraen.

Buku bacaan anak-anak, remaja, sampai dewasa dikumpulkan Irsyad. Kategori ini ia lengkapi sehingga tak hanya anak-anak yang dapat menikmati perpustakaan mraen mimpi.

Orang tua di sekitarnya pun juga bisa belajar dari beberapa buku terkait ilmu mengasuh anak sampai buku resep-resep. Apalagi hal ini dianggap bermanfaat untuk mengisi kegiatan masyarakat selama masa pandemi.

Untuk mengumpulkan koleksi Mraen Mimpi, lagi-lagi Irsyad memanfaatkan kekuatan media sosial dalam menyebarkan informasi.

Kini Mraen Mimpi sudah memiliki 300 koleksi buku. Tambahan donasi dari para donatur juga membuahkan beberapa permainan edukasi yang bisa dimanfaatkan warga sekitar.

Di samping itu, Irsyad juga membuat kursi agar pembaca bisa semakin nyaman saat berkunjung. Tak kalah menarik, kursi milik Mraen Mimpi ini dibuat dari tumpukan kaleng bekas yang didapatkan dari orang-orang di sekitarnya.

Mraen Mimpi  © 2020 brilio.net

foto: brilio.net/Rizka Mifta

Kehadiran kursi dan meja semakin menarik perhatian anak-anak di sekitar dusun Mraen. Satu persatu mereka pun berkumpul saat perpustakaan ini beroperasi di pagi hari. Tidak sedikit juga di antara mereka yang akhirnya betah untuk berlama-lama dalam membaca buku koleksi Mraen Mimpi.

Bahkan, beberapa di antara anak ini sudah datang beberapa jam sebelum perpustakaan dibuka. Ada pula anak yang meminta izin agar bisa membawa pulang buku untuk dibaca di rumah.

Irsyad berharap bisa terus mengembangankan perpustakaan kelilingnya menjadi sebuah rumah baca.

Salah satu pihak yang mendukung upaya Irsyad adalah ibu kosnya, Muji. Muji mengizinkan Irsyad untuk menyimpan gerobak Mraen Mimpi di halaman rumahnya.

"Kehadiran Mraen Mimpi menurut saya sangat positif. Karena saat ini banyak anak-anak yang daring di rumah sekolahnya,"

Ibu rumah tangga ini mengaku tidak merasa terganggu dengan menyimpan gerobak Mraen Mimpi. Bahkan ia dan keluarganya juga memberikan dukungan untuk Mraen Mimpi. Sesekali putranya juga membantu Irsyad dalam mengoperasikan perpustakaan Mraen Mimpi. Dukungan ini juga diberikan masyarakat di sekitar rumahnya.

"Anak saya, anak kos, lingkungan sekitar saya selalu mendukung," kata dia.

Mraen Mimpi  © 2020 brilio.net

foto: brilio.net/Rizka Mifta

Diakui Muji, beberapa masyarakat juga kerap mampir menuju mraen mimpi. Selain membaca beberapa koleksi, ada pula yang sengaja menawarkan beberapa buku untuk dijadikan koleksi.

"Misal ibu-ibu menawarkan buku-buku yang bisa didonasikan. Jalan-jalan lewat, mampir membaca juga. Terus mengajak anaknya untuk pinjam buku," cerita Muji.

Sebagai lingkungan terdekat, Muji pun berharap dampak positif dari Mraen Mimpi dapat terus tumbuh.