Brilio.net - Parlemen Selandia Baru mengadakan sidang pertama sejak insiden penembakan yang terjadi di dua masjid Kota Christchurch. Para politisi yang menghadiri sidang ini menyempatkan mengenang korban aksi terorisme tersebut. Sidang ini dibuka dengan bacaan ayat Alquran yang dilantunkan oleh Imam Nizam ul haq Thanvi.

Pada saat proses pembacaan Alquran tersebut, semua politisi yang ada di ruang sidang terlihat berdiri. Mereka tak mengucap sepatah katapun dan tenang mendengarkan doa yang dilantunkan oleh Imam Nizam. Selain itu doa dalam bahasa Inggris juga disampaikan oleh Tahir Nawaz.

Politisi dari kedua sisi DPR Selandia Baru kompak bersatu dalam memberikan penghormatan untuk korban meninggal dunia. Dilansir brilio.net dari laman tvnz, Rabu (20/3), Ketua DPR Selandia Baru, Trevor Mallard, mengatakan kalau kejadian ini mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat Selandia Baru.

"Saya telah meminta sekelompok pemimpin agama untuk datang ke parlemen dengan saya sebagai tanda persatuan dan kebersamaan. Jadi, periode doa kita hari ini akan sedikit diperpanjang," ujar Trevor.

Loading...

Pada sidang parlemen itu Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern membuat pernyataan tentang aksi terorisme Christchurch. Jacinda juga membuka pidatonya dengan salam umat muslim.

"Assalamualaikum. Damai menyertaimu dan kalian semua," kata Jacinda membuka pidatonya.

Dalam pidatonya, Jacinda menyebutkan kalau serangan teror tersebut sebagai peristiwa terkelam yang pernah terjadi di Selandia Baru. Meski yang menjadi korban adalah para imigran, Jacinda menyebut mereka tetaplah diakui sebagai New Zealanders atau warga Selandia Baru.

Aksi Perdana Menteri Selandia Baru ini juga mendapat simpati publik. Sebab pada pidatonya tersebut ia menolak menyebut pelaku terorisme itu. Ia juga meminta yang lainnya untuk melakukan hal yang sama.

"Dia mungkin mencari ketenaran, tetapi kita di Selandia Baru tidak akan memberinya apa pun, bahkan namanya. Dia seorang teroris. Dia seorang kriminal. Dia seorang ekstremis. Tapi dia, ketika saya berbicara, menjadi tak bernama," ujarnya.