Brilio.net - Lion Air JT 610 mengalami putus hubungan sejak Senin (29/10) pukul 06.33 WIB. Kepala Basarnas, Muhammad Syaugi memberikan keterangan mengenai proses pencarian badan pesawat dan korban Lion Air JT 610. Pernyataan tersebut disebutkan dalam konferensi pers bersama Brigjen Arthur Tampi Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri di Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Muhammad Syaugi berharap pencarian bisa lebih cepat. Ia menyatakan biasanya black box ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian. Dalam operasi pencarian ini, Muhammad Syaugi menyatakan lebih mengutamakan pencarian korban.

"Yang utama adalah kita korban. Kalau korban di atas permukaan sudah kita temukan semua. Sekarang kenapa kita mencari main body karena kita berharap masih banyak yang ada disitu. Kalau itu sudah ditemukan saya yakin pasti lebih banyak," ujar Muhammad Syaugi.

Kedalaman laut dan cuaca tidak menjadi masalah dalam proses pencarian ini. Hingga tujuh hari kedepan, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan cuaca sangat baik. Kedalaman laut sekitar perairan Karawang mencapai 35 meter. Jika sebelumnya pencarian dilakukan di area 5 nauticle miles, kini ditambah menjadi 10 nauticle miles. Muhammad Syaugi berharap semua korban segera ditemukan sehingga Polri cepat melakukan identifikasi.

Sementara itu pernyataan resmi dari Basarnas, hingga Senin malam (29/10), 24 kantong jenazah telah masuk di Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Dalam konferensi pers, Brigjen Arthur Tampi Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri memberikan keterangan mengenai 24 kantong jenazah tersebut. Sejumlah 24 kantong jenazah berisi potongan tubuh korban.

"Sejauh ini kami sudah menerima 24 kantong jenazah. Namun yang harus ditekankan, semuanya adalah potongan tubuh. Tak ada satupun dari yang kita terima ini yang berupa jenazah utuh," ujar Arthur Tampi.

Arthur Tampi mengimbau pada keluarga untuk tidak membuka kantong jenazah. "Jadi sebaiknya, jika sudah menerima jenazah itu, keluarga tidak usah membukanya, karena bisa menimbulkan trauma," jelas Arthur Tampi.

Hingga saat ini sudah ada 185 data ante mortem yang diterima Rumah Sakit Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati. Data yang diterima akan dicocockkan dengan DNA korban. "Sesudah dilakukan rekonsiliasi data, antara DNA korban dengan keluarga, jika ada yang cocok, langsung diidentifikasi, dan jenazah itu kami serahkan kepada keluarga," kata Arthur Tampi.