Brilio.net - Jika kamu habis berobat ke dokter, sudah seharusnya akan mendapat resep obat. Tapi jangan coba-coba untuk membacanya ya. Oleh karena tulisan dokter yang dikenal seperti 'cakar ayam' malah bakalan bikin tambah kamu pusing. Ya, kamu perlu bantuan apoteker atau farmasis untuk menebus tulisan susah dibaca tersebut menjadi obat.

Tapi ada maksud baik di balik tulisan dokter yang susah dibaca itu. Menurut Tika, seorang farmasis di Jawa Timur, tulisan tersebut memang sengaja dibuat 'jelek' demi menjaga kerahasiaan agar tak disalah gunakan orang lain.

Baru-baru ini pemerintah Jharkhand, India, menerapkan peraturan baru soal tulisan dokter. Aturan tersebut mengharuskan para dokter menuliskan resep obat dengan huruf kapital agar dapat mudah dibaca. Peraturan ini diberlakukan untuk upaya agar tidak terjadi salah tafsir dalam membaca resep yang akan berakhir pada salah memberi obat.

kota ini larang tulisan dokter © berbagai sumber

foto: istimewa

Loading...

Larangan menulis dengan tulisan 'cakar ayam' dikeluarkan pada 21 September silam. Jika arahan ini dilanggar ada hukuman yang diterapkan. Kalau sekali melanggar, akan diberikan peringatan. Kedua kalinya akan ada penangguhan untuk jangka waktu tertentu dan yang ketiga lisensi dokternya bisa dicabut.

Dilansir brilio.net dari laman thelogicalindian, Selasa (25/9), meski aturan itu disambut dengan senang hati oleh para dokter di India, namun mereka mengaku harus 'sedikit kerja ekstra'. Menulis dengan huruf kapital akan memakan waktu 10 menit lebih lama. Mereka khawatir jika pasien sedang ramai maka akan membuat antrean sedikit lebih panjang.

kota ini larang tulisan dokter © berbagai sumber

foto: thelogicalindian.com

Dokter Anasuya Mukherjee mengatakan, menulis resep dengan huruf kapital pasti akan menguntungkan pasien. Oleh karena pasien akan mengetahui obat apa yang dokter berikan tanpa harus susah-susah menafsirkannya.

Namun ini bisa memengaruhi bisnis farmasi yang menyediakan obat tertentu dengan kualitas yang lebih baik dan dengan harga yang lebih tinggi. Pasien bisa saja memilih obat dengan khasiat sama tapi dengan harga yang lebih murah daripada obat yang diberikan oleh dokter.