Brilio.net - Merebaknya wabah dan penyebaran virus Corona memang menjadi perhatian seluruh kalangan tidak hanya di Tanah Air, tetapi menjadi perhatian dunia. Hingga saat ini, belum ada vaksin atau penawar penyebaran untuk virus COVID-19, namun beberapa peneliti berusaha mengembangkannya.

Dilansir dari The Guardians, Ketua WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus melakukan pertemuan internasional dengan 400 ilmuwan dan pakar lainnya di Jenewa untuk mencari solusi bagi krisis dunia ini. Mereka memperkirakan hingga 18 bulan atau dengan perkiraan sekitar 1,5 tahun lagi dalam pembuatan vaksin virus corona yang pertama. Hingga saat ini mereka hanya bisa menggunakan 'senjata' untuk dapat melawan virus yang telah menyebar hingga berbagai negara.

Beberapa penelitian berlomba-lomba untuk melakukan riset dan mencari vaksin untuk mengobati wabah virus corona ini. Di Indonesia, Lembaga Biologi Molekuler Eijikman, berencana untuk mengembangkan vaksin virus Corona dengan bekerja sama dengan PT. Bio Farma (Persero) selaku induk dari BUMN Farmasi. Dilansir dari liputan6.com, Prof. David H. Muljono, Peneliti Senior dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mengatakan bahwa sesungguhnya Indonesia sudah bisa melakukan deteksi untuk infeksi virus corona.

Kolaborasi ini untuk mencari solusi terbaik dan mencari pendekatan dengan teknologi yang akurat untuk pengembangan vaksin corona dengan pendekatan bio informatik. Dilansir dari liputan6.com, peneliti Lembaga Biologi Molekuler Eijkmanm Frilasita Aisyah Yudhaputri mengatakan dalam presentasinya di sebuah seminar bahwa mereka memiliki fasilitas laboratorium tersertifikasi untuk menangani patogen risiko tinggi (laboratorum Biosafety Level (BSL)-2 dan -3).

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Laboratorium ini dimiliki oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan yang telah mengikuti standar World Health Organization (WHO). Hal ini juga akan dikolaborasikan dengan Universitas Airlangga yang memiliki BSL3 (Biosecurity Level 3), sehingga bisa untuk saling tukar menukar informasi agar hasil deteksi COVID-19 ini lebih baik nantinya.

"Surabaya (Universitas Airlangga) ada, Litbangkes bisa, sini (Lembaga Eijkman) bisa. Kalau itu bisa saling tukar menukar informasi kan bisa improve," kata David yang dikutip brilio.net dari Liputan6.com pada Kamis (13/2).

(brl/guf)