Brilio.net - Virus Novel Coronavirus 2019-nCoV atau lebih dikenal dengan Virus Corona semakin merebak. Virus yang berasal dari Kota Wuhan, China ini bahkan menjadi berita utama dan masih menjadi perhatian masyarakat di belahan dunia. Bukan hanya menyebar di negara China saja, tetapi juga sudah menyebar di puluhan negara.

Bahkan pada tanggal 23 Januari lalu, pemerintah Tiongkok juga memutuskan untuk menutup seluruh akses dari maupun ke Kota Wuhan, tempat pertama kasus Virus Corona ditemukan. Banyak informasi menyebut, jika masa inkubasi infeksi virus Corona adalah 7-14 hari. Namun menurut studi baru, berdasarkan data yang dikumpulkan terhadap lebih dari 1.000 pasien Virus Corona di China, menemukan masa inkubasi virus tersebut mencapai 24 hari.

Namun sayangnya hingga kini belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk virus tersebut. Para peneliti pun berlomba-lomba menemukan vaksin dan pengobatan yang efektif untuk virus yang mematikan ini. Sebelumnya virus yang muncul pada Desember 2019 di China ini telah merenggut 500 orang meninggal dunia serta belum menunjukkan adanya tanda-tanda mereda. Bahkan malah semakin menyebar.

Diketahui salah satu perusahaan obat, GSK bekerja sama dengan pengembang yang menyediakan teknologi yang dapat membuat vaksin mereka lebih kuat. Tetapi vaksin tersebut baru akan tersedia sekitar 12 hingga 18 bulan lagi.

"Diperlukan setidaknya 12 hingga 18 bulan, yang berarti dalam situasi akut seperti sekarang khususnya di China, itu tidak akan menciptakan manfaat," kata Thomas Breuer, kepala medis vaksin GlaxoSmithKline (GSK.L), seperti dikutip brilio.net dari Reuters.com pada Rabu (12/2).

Loading...

Padahal menurut WHO pada 11 Februari 2020 ini, total kasus yang tercatat sekitar 43.103 kasus untuk Virus Corona baru 2019-nCoV secara global. Namun, menurut organisasi Kesehatan Dunia WHO mengatakan bahwa vaksin Corona baru akan tersedia dalam 18 bulan, dalam kata lain sekitar 1,5 tahun lagi.

"Jadi kita harus melakukan semuanya hari ini dengan menggunakan senjata-senjata yang tersedia", kata Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa kepada Reuters.

Sebelumnya, WHO juga telah menekankan bahwa proses pencarian obat dan vaksin untuk patogen baru biasanya berhasil setelah mengalami pengujian selama beberapa tahun. Tetapi dengan teknologi baru yang ada saat ini diharapkan vaksinnya dapat ditemukan secara cepat.

Dalam kesempatan itu Tedros juga memberikan pengumuman dan penjelasan terkait pemberian nama virus tersebut dengan COVID-19 atau Corona virus disease 2019. Tujuannya untuk menghindari nama-nama yang mungkin tidak akurat.