Brilio.net - Jalur Rempah, mungkin istilah ini masih terasa asing di telinga banyak orang Indonesia. Padahal, sebagai negara penghasil rempah, Indonesia sejak lama memiliki peran penting dalam perdagangan komoditi ini di dunia. Berbagai catatan sejarah mengungkapkan, datangnya bangsa-bangsa asing ke Nusantara di masa lalu, salah satu tujuannya adalah mencari rempah-rempah. 

Bisa dimaklumi mengingat Nusantara memiliki posisi strategis yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah hingga Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan telah lama dikenal sebagai negara pemasok utama komoditas penting di dunia, rempah-rempah.

Hal ini membuat kebaharian Nusantara menjadi jejak sejarah di mana berkembangnya pelayaran dan perdagangan yang dipicu rempah-rempah sebagai komoditi unggulan. Jejak tersebut kemudian membentuk Jalur Rempah, sebuah jalur abstrak tetapi nyata baik di laut dan di darat. Berikut fakta Jalur Rempah yang perlu kamu ketahui.   

1. Beragam rempah yang menjadi daya tarik

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Jalur Rempah © 2020 brilio.netfeed.jeronimomartins.com

Fakta bahwa Nusantara menjadi penghasil dan pemasok komoditas rempah-rempah dunia tak dapat dinafikan. Daya tarik cengkeh, pala dan bunga pala menjadi dorongan utama perkembangan perdagangan internasional di Asia Tenggara. Pohon cengkeh adalah tanaman asli (endemik) Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Sedangkan pala dan bunga merahnya didapat dari pohon pala, endemik pulau Banda. Tak kalah penting, jenis rempah aromatik dari getah tanaman pohon endemik Sumatera yaitu kemenyan dan kamper atau kapur Barus yang banyak ditemukan di daerah Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.   

2. Simpul peradaban

Jalur Rempah © 2020 brilio.netjalurrempah.kemdikbud.go.id

Begitu pentingnya rempah-rempah dalam kehidupan manusia, sehingga menjadi penghela perkembangan ekonomi, sosial budaya, dan politik dalam skala global. Para pedagang mempertaruhkan nyawa dan kekayaannya untuk memasarkannya, juru masak meramunya untuk melezatkan hidangan, ahli kesehatan meraciknya untuk pengobatan. Para raja mengirim ekspedisi mengarungi samudera untuk mendapatkannya, diplomasi demi diplomasi dirajut, hubungan antarmanusia menjadi global dan sejarah peradaban manusia berubah.

Jalur Rempah telah menjadi simpul peradaban bahari Nusantara, jalur kebudayaan dan peradaban yang bukan sekedar sebagai akses pertukaran niaga, tetapi juga membawa serta gagasan, pengetahuan, seni dan budaya di sepanjang rute perjalanan dari ujung paling timur kepulauan Indonesia melewati selat Malaka sampai Afrika, Timur Tengah dan Eropa.

3. Barus sebagai bukti awal

Jalur Rempah © 2020 brilio.netSebuah foto makam kuno di Barus yang menjadi bukti wilayah ini sudah dikenal sejak lama. (@yans_brilio).  

Bukti awal adanya peran Nusantara dalam percaturan dagang di Samudera Hindia datang dari seorang astronom Yunani bernama Claudius Ptolomaeus yang tinggal di Alexandria, Mesir, pada abad ke-1 M. Ia menulis Guide to Geography, peta kuno di mana di dalamnya tercantum nama sebuah kota bernama Barus, yang nampaknya merupakan kota pelabuhan kuno yang amat penting di Sumatera dan dunia. Nama metropolitan kuno ini mengingatkan kita pada sebuah komoditas aromatik rempah yang kala itu amat berharga dan senantiasa diburu bangsa-bangsa Yunani-Romawi, Mesir, Arab, Tiongkok, Hindustan yaitu kapur barus.

4. Catatan sejarah cengkeh

Jalur Rempah © 2020 brilio.net@yans_brilio 

Bukti kuno perdagangan rempah lainnya berasal dari Terqa, suatu situs di Mesopotamia (sekarang Syria) di mana penggalian arkeologi menemukan jambangan berisi cengkeh di gudang dapur rumah sederhana tahun 1721 SM. Selain itu, konon seorang kaisar Han dari China pada abad ke-3 M mengharuskan para pejabat tinggi mengulum cengkeh bila menghadap.

Meski sejumlah sumber China sebelum abad ke-14 mengenal asal cengkeh dari Maluku, hanya ada satu catatan bertanggal 1350 yang betul-betul menulis jung China langsung berlayar dari China ke daerah tersebut. Pengumpulan dan pengangkutan rempah Maluku ke belahan dunia barat Nusantara ditangani sepenuhnya oleh orang Melayu, Jawa dan Banda, Bugis.

Para pedagang dari Melayu, Arab, Persia, dan China, membeli rempah dari Nusantara, kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini dengan harga mencapai 600 kali lipat.

5. Jejak peradaban

Jalur Rempah © 2020 brilio.netSutra.my

Perdagangan rempah di Nusantara meninggalkan jejak peradaban yang signifikan berupa peninggalan situs sejarah, ritus budaya, hingga melahirkan beragam produk budaya yang terinspirasi dari alam Nusantara yang kaya.

Nampak sekali, di masa lalu orang-orang berbagai bangsa berbondong- bondong ke Nusantara tidak semata untuk berdagang, tetapi lebih pada untuk membangun peradaban. Mulai dari pelabuhan Barus di Sumatera Utara yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 5000 tahun, kerajaan Tarumanagara, kerajaan Sriwijaya, kerajaan Majapahit, kejayaan Wangsa Syailendra, kerajaan Kahuripan  hingga negara-negara bandar seperti di Banten, Maluku, dan Sulawesi  yang semuanya terbentuk karena perdagangan rempah-rempah alias politik ekonomi.

6. Website Jalur Rempah

Jalur Rempah © 2020 brilio.netMomen peluncuran website Jalur Rempah (@yans_brilio)

Nah untuk memperkenalkan Jalur Rempah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan meluncurkan secara resmi meluncurkan website Jalur Rempah sekaligus menggelar Anugerah Karya Budaya Rempah Nusantara, sebuah ajang penganugerahan penghargaan kepada para pemenang kompetisi visualisasi Jalur Rempah dalam bentuk poster, animasi dan komik.

“Ini sebuah platform digital yang tidak hanya dapat mempersatukan beragam gagasan, pemikiran dan informasi namun juga menjadi media pendidikan bagi masyarakat Indonesia,” ujar Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid.

Dalam acara peluncuran yang digelar di Hotel Aston Kartika, Jakarta Barat, Jumat (112/12/2020) Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Restu Gunawan berharap website ini dapat mewujud sebagai media informasi yang kedepan bisa dikembangkan sebagai platform digital bagi seluruh pemangku kepentingan terkait budaya rempah Nusantara, khususnya generasi muda. 

“Diharapkan website ini bisa menjadi media edukasi dan informasi yang memperkaya sekaligus memberikan inspirasi khususnya bagi generasi milenial untuk semakin mencintai budayanya, meneguhkan dan menguatkan jati diri bangsa,” kata Restu.

7. Sebuah pesan untuk dunia

Jalur Rempah © 2020 brilio.net@yans_brilio

Website ini sebagai bagian dari ikhtiar dan kerja besar untuk menyampaikan pesan kepada dunia bahwa jalur rempah sebagai jalur budaya dari Indonesia telah menghangatkan dunia dan layak mendapatkan pengakuan. Salah satu agenda penting terhadap jalur rempah adalah untuk mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Warisan Dunia (World Heritage) untuk memperkuat diplomasi Indonesia, sekaligus meneguhkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Sejak tahun 2017, Indonesia melalui Kemendikbud merintis upaya pengusulan Jalur Rempah (Spice Routes) sebagai warisan dunia ke UNESCO. Pengajuan ini didasari pemahaman bahwa Jalur Rempah adalah jalur pertukaran antarbudaya dan pertukaran pengetahuan yang melampaui konteks ruang dan waktu.

8. Mengangkat semangat kejayaan rempah Nusantara

Jalur Rempah © 2020 brilio.net

Ketua Komite Program Jalur Rempah, Kemendikbud, Ananta Kusuma Seta menambahkan bahwa langkah-langkah pengembangan dan pemanfaatan sejarah budaya rempah dalam berbagai bentuk kegiatan telah dilakukan bersama dengan berbagai pihak seperti Unit Pelaksana Teknis, pemerintah daerah, lembaga kemasyarakatan, komunitas, serta stakeholders lainnya.

“Bermacam aktivitas, mulai dari pelatihan, mengoptimalkan produksi dan kualitas, pemasaran, serta penggunaannya dalam industri kesehatan dan kecantikan, kuliner, pariwisata dan lainnya, dilakukan. Tujuannya jelas, yaitu bagaimana spirit kejayaan rempah-rempah bisa hidup kembali menjadi nilai dan gaya hidup dalam masyarakat. Wujudnya bisa terejawantahkan dalam bentuk pemberdayaan komunitas budaya rempah, pengembangan eduwisata jalur rempah, hingga pertunjukan seni, gastronomi, pengetahuan dan pengobatan tradisional, workshop, dan lainnya,” kata Ananta.  

9. Menyasar milenial

Jalur Rempah © 2020 brilio.net@yans_brilio

Nah untuk menggandeng milenial lebih mengenal Jalur Rempah, Kemendikbud juga menggelar Kompetisi Visualisasi Jalur Rempah dalam bentuk poster, video animasi dan komik yang mengangkat tema Jalur Rempah Nusantara untuk Dunia. Kompetisi ini pun mendapat perhatian banyak anak muda. Tercatat ada 1862 peserta yang mengikuti kompetisi ini.  

Akhirnya ditetapkan pemenang terdiri dari 3 Juara Utama dan 10 Juara Karya Pilihan di masing-masing kelompok, serta 2 Juara Favorit dari tiap kategori lomba poster dan animasi. Sementara itu dengan total 529 peserta yang terdiri dari 229 Komik Kategori Anak dan 300 Komik Kategori Remaja, terpilih 3 Juara Utama dan 15 Pemenang Apresiasi untuk masing-masing kategori.

Penggunaan poster, animasi dan komik sebagai medium dalam menuangkan cerita dan sejarah Jalur Rempah diharapkan mampu memudahkan penyebarluasan wawasan pengetahuan tentang Jalur Rempah kepada generasi muda Indonesia.

Niatan ini menjadi sebuah rancang bangun awal bangkitnya awareness masyarakat terhadap budaya rempah dalam rangka membangun masa depan bangsa yang lebih baik. Jalur Rempah tidak hanya bagian dari sejarah masa lalu, tapi juga menjadi kekuatan masa kini dan mendatang. 

(brl/red)