Brilio.net - Nama Wage Rudolf Soepratman (WR Soepratman) dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia, Indonesia Raya. Untuk mengenang dan memberi apresiasi pada jasanya, pemerintah Indonesia pun menyematkan hari kelahiran WR Soepratman sebagai Hari Musik.

Pemerintah menilai lagu ciptaan Soepratman mampu menjadi lagu pemersatu bangsa. Selain itu, WR Soepratman ini telah mendapat gelar pahlawan nasional. Maka bukan hal yang mengherankan apabila hari kelahiran pahlawan bangsa ini diperingati sebagai Hari Musik Nasional, 9 Maret.

Yuk kenali lebih dekat sosok di balik Hari Musik Nasional yang brilio.net himpun dari berbagai sumber, Kamis (9/3). Ini dia lima fakta tak terduganya.

1. WR Soepratman seorang wartawan.

Hari musik nasional © 2017 brilio.net

Loading...

foto: istimewa.

WR Soepratman dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan. Namun demikian, profesi utama dari WR Soepratman ini adalah seorang wartawan. Meski begitu, dirinya memang telah menyukai dunia musik sejak kecil.

2. Telah diperingati sebelum keluar peraturan.

Hari musik nasional © 2017 brilio.net

foto: istimewa.

Isu penetapan Hari Musik Nasional telah ada sejak masa pemerintahan Presiden Megawati. Ide ini diinisiasi Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) pada 2003. Kendati demikian, usul atau rancangan penetapan Hari Musik Nasional tersebut harus menunggu sekitar 10 tahun untuk diresmikan. Meski begitu, penikmat musik tetap memeringati hari kelahiran WR Soepratman.

Usai satu dekade, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun meresmikan Hari Musik Nasional pada 2013. Peresmian tersebut disertai dengan keluarnya Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2013.

3. Penetapan penuh pro dan kontra.

Hari musik nasional © 2017 brilio.net

foto: istimewa.

Makna dan tujuan dari penetapan Hari Musik Nasional ini ternyata tak berjalan dengan mulus. Setelah menunggu sekitar satu dekade, penetapan ini penuh kontroversi. Dilansir dari Merdeka, Kamis (9/3), asal muasal kontroversi ini terletak pada tanggal lahir WR Soepratman. Terdapat pihak yang memperdebatkan tanggal pasti kelahiran pahlawan nasional ini. Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa WR Soepratman lahir pada tanggal 19 Maret 1903, bukan pada tanggal 9 Maret.

4. Awal mula lagu Indonesia Raya.

Hari musik nasional © 2017 brilio.net

foto: istimewa.

Awal mula WR Soepratman menciptakan lagu kebangsaan setelah membaca sebuah artikel di majalah Timboel, salah satu majalah terbitan di Solo. Artikel tersebut berisi ajakan kepada siapapun untuk membuat sebuah lagu pembangkit semangat. Membaca artikel tersebut, semangat WR Soepratman semakin tergugah. Apalagi setelah mendengar letupan semangat dari Muhammad Tabrani pada Kongres Pemuda I pada tahun 1926.

Semangatnya semakin meletup, WR Soepratman pun membuat lagu Indonesia Raya dengan birama 6/8 (waltz), kendati demikian birama tersebut diubah menjadi 4/4 oleh presiden Soekarno. Kemudian, untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya didengarkan di Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Pada saat itu, hanya alunan instrumen dari biola WR Soepratman.

Nihilnya lirik dan syair dari lagu ciptaan WR Soepratman pada Kongres Pemuda II ini atas perintah dari Ketua Sidang Soegondo Djojopoespito. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah keributan dengan pihak Belanda, karena lirik lagu mengandung banyak kata Indonesia dan merdeka. Meski hanya instrumental, gesekan biola mampu mengugah hati peserta kongres.

5. Lagu Indonesia Raya direkam pertama kali.

Hari musik nasional © 2017 brilio.net

foto: istimewa.

Merujuk pada buku 100 Tahun Musik Indonesia karya Denny Sakrie, disebutkan bahwa pada tahun 1929 perusahaan bernama Tio Tek Hong merekam dan merilis lagu Indonesia Raya untuk pertama kali. Tio Tek Hong menghubungi WR Soepratman dan meminta izin untuk merekam lagu tersebut pada piringan hitam berformat 78 RPM. Atas perekaman tersebut, WR Soepratman mendapat royalti atas hak ciptanya.

Berkat perekaman pada piringan hitam tersebut, lagu Indonesia Raya semakin tersebar luas. Lagu Indonesia Raya dalam piringan itu bukan hanya alunan instrumental. Terdapat seorang penyanyi bersuara tenor dengan iringan musik orkes. Piringan hitam tersebut dilabeli Terbikin Oleh Tio Tek Hong. Piringan hitam tersebut laris dibeli oleh kalangan atas.

Semakin meluasnya lagu Indonesia Raya, lagu tersebut kemudian dinyatakan sebagai lagu kebangsaan Indonesia Raya bertepatan dengan Kongres PNI kedua yang berlangsung pada 20 Mei 1929.