Brilio.net - Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharram pada penanggalan Hijriyah. Banyak amalan sunah yang dapat dilakukan pada bulan Safar, namun sayangnya beberapa masyarakat menganggap bahwa bulan Safar adalah bulan yang penuh bala atau musibah, sehingga amalan-amalan yang dilakukan tersebut bukan untuk mendapatkan pahala namun untuk melindungi diri dari kesialan.

Beberapa tradisi dan amalan sunah pun dilakukan oleh beberapa masyarakat seperti kenduri, berpuasa, mandi safar dan lain sebagainya. Padahal dalam Islam tidak ada yang namanya bulan sial. Seluruh bulan dianggap baik dan memiliki keutamaan serta keistimewaannya masing-masing, termasuk pada bulan Safar.

Orang-orang mendefinisikan bulan Safar sebagai kekosongan. Hal ini didasarkan pada sejarah Islam di Arab Saudi yang menjelaskan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang kerap mengosongkan rumahnya untuk pergi berperang pada bulan Safar.

Jika terjadi musibah pada bulan Safar, hal itu bukan karena bulan Safarnya, namun karena ujian dari Allah. Dirangkum brilio.net dari berbagai sumber pada Selasa (22/9), dalam alquran surat At Taubah ayat 51, Allah berfirman:

Qul lay yusiibanaa illaa maa kataballaahu lanaa, huwa maulaanaa wa 'alallaahi falyatawakkalil-mu'minun

Artinya:
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal".

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
"Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa." (HR. Bukhari).

2 dari 2 halaman

Keutamaan dan amalan sunah bulan Safar.

foto: freepik.com



1. Memperkuat iman.

Memperkuat iman dengan berupaya menjadi pribadi yang taat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ketauhidan dan menolak khurafat. Dalam Alquran surat Yunus ayat 107, Allah berfirman:

Wa iy yamsaskallaahu bidurrin fa laa kaasyifa lahuu illaa huw, wa iy yuridka bikhairin fa laa raadda lifadlih, yusiibu bihii may yasyaa'u min 'ibaadih, wa huwal-gafurur-rahiim

Artinya:
"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

2. Bulan penguji iman.

Bulan Safar adalah bulan penguji iman, terutama bagi yang tinggal di lingkungan yang masih menerapkan amal-amal khurafat. Sebagai umat Islam yang baik, tidak boleh ikut-ikutan mempercayai mitos bahwa bulan Safar adalah bulan sial.

3. Meyakini ketetapan Allah.

Apabila terjadi musibah di bulan Safar, sebagai seorang muslim seharusnya mempercayai bahwa itu adalah ujian dari Allah. Bukan ujian yang datang karena bulan tertentu. Ini menjadi tantangan bagi diri sendiri untuk meyakini ketetapan Allah.

4. Menghindari hal yang menentang tauhid.

Melatih diri untuk menjadi seseorang yang berpendirian dengan berpegang teguh pada Alquran dan As-sunnah. Dengan itu, seseorang mengetahui jika hari Rabu terakhir di bulan Safar merupakan hari di mana Allah banyak menurunkan musibah.

Akan tetapi, ini tidak berarti jika segala sesuatu yang sudah diniatkan pada hari tersebut dan lalu dibatalkan maka terjadi karena musibah, tetapi terjadi karena niat untuk ibadah atau penyebab lain yang menjadi penyebab amal ibadah ditolak dalam Islam.

5. Menjalankan aktivitas seperti biasa.

Menjalani aktivitas seperti biasa di bulan Safar menjadi bukti bahwa kita tidak mempercayai khurafat. Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa yang keperluannya tidak dilaksanakan disebabkan berbuat thiyarah, sungguh ia telah berbuat kesyirikan. Para sahabat bertanya, ’Bagaimanakah cara menghilangkan anggapan (thiyarah) seperti itu?’ Beliau bersabda; ’Hendaklah engkau mengucapkan (doa), Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali itu datang dari Engkau, tidak ada kejelekan kecuali itu adalah ketetapan dari Engkau, dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau’." (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

6. Meningkatkan taqwa dan tawakkal pada Allah.

Meningkatkan ketaqwaan, menjalani apa-apa yang diperintahkan Allah Ta'ala dan menjauhi larangannya, termasuk percaya pada hari sial tentu harus dihindari.

7. Melakukan amal ibadah harian.

Pada bulan Safar lakukanlah ibadah yang dilakukan secara rutin di waktu yang sama, seperti sholat dhuha, witir, qobliyah, ba’diyah, puasa senin-kamis tanpa memandang hari. Dengan tujuan semata-mata mengharap ridho Allah.

8. Memperbanyak istighfar.

Dari Ibn Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Barang siapa yang rajin beristighfar maka Allah akan berikan jalan keluar setiap ada kesulitan, Allah berikan penyelesaian setiap mengalami masalah, dan Allah berikan rizki yang tidak disangka-sangka." (HR. Abu Dawud).

9. Membaca doa di antara adzan dan iqomah.

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mendengarkan adzan kemudian dia membaca doa:

Allahumma rabba hadzihid dawatittammah washshalatil qaimah, ati muhammadanil wasilata wal fadhilah wabats-hu maqamam mahmudanilladzi waadtahu. (Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna dan shalat wajib yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Bangkitkanlah beliau ke tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya, maka dia berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat)." (HR. Bukhari)

10. Memperbanyak istighfar.


Dari Ibn Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Barang siapa yang rajin beristighfar maka Allah akan berikan jalan keluar setiap ada kesulitan, Allah berikan penyelesaian setiap mengalami masalah, dan Allah berikan rizki yang tidak disangka-sangka." (HR. Abu Dawud).