Brilio.net - Aktris cantik Prisia Nasution mampu menunjukan kepiawaiannya di atas panggung teater. Phia, begitu dia biasa disapa, selama ini lebih sering bermain di layar lebar atau film televisi (FTV).

Namun kemampuannya berakting dalam pertunjukan teater pun nggak diragukan. Terbukti, saat memerankan Tengku Tahura dalam lakon Nyanyi Sunyi Revolusi, penyandang gelar Magister Jurusan Applied Computer Science/Robotic dari Sudwestfahlen Fachhochschule (Jerman) ini begitu apik memainkan tokoh anak penyair ternama itu. Oh iya, Nyanyi Sunyi Revolusi yang mengangkat kisah penyair Amir Hamzah dipentaskan pada 2-3 Februari 2019 di Gedung Kesenian, Jakarta.

Prisia Nasution © 2019 brilio.net

Memang dalam pementasan garapan Titimangsa Foundation yang bekerjasama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation ini, sosok Tengku Tahura tak banyak tampil. Dia hanya muncul dalam dua babak, di awal dan akhir pertunjukan.

Namun dalam lakon itu, Tengku Tahura punya peran penting. Kendati tak banyak tampil, tapi dialog Tengku Tahura cukup panjang dalam tiap babak kemunculannya. Bahkan di bagian penutup, Tengku Tahura menjadi sosok sentral dari keseluruhan cerita lewat dialog yang begitu mendalam.

Prisia Nasution © 2019 brilio.net

“Aku tidak pernah mengerti kisah cinta orangtuaku. Mengapa harus aku yang menanggung beban masa lalu mereka,” lantang Tengku Tahura yang diperankan Phia pada satu adegan pentup.    

Dalam pementasan Nyanyi Sunyi Revolusi ini, Phia mesti punya nafas panjang agar pertunjukan teater yang berlangsung lebih dari dua jam ini berjalan mulus tanpa cela. Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2011 lewat film “Sang Penari” ini juga mesti bernarasi dalam bahasa Melayu. Tapi, Phia dengan kemampuannya bisa menghidupkan perannya itu. Malah logat Melayunya begitu kental.

Prisia Nasution © 2019 brilio.net

“Cukup beban sih walaupun sosok Tengku Tahura hanya tampil dalam dua babak. Inilah beban yang harus dibawa Tengku Tahura untuk menutup cerita ini,” kata Phia usai pertunjukan special performance Nyanyi Sunyi Revolusi untuk awak media dan undangan khusus, Jumat (1/2).

Pertunjukan teater ini juga sebagai obat jenuh bagi Phia. “karena itu ketika dia mendapat tawaran melalui aplikasi Whatsapp, ia langsung mengiyakan. “Phia mau nggak ikut teater, belum tahu apa teaternya ya langsung mau. Ada kejenuhan juga di antara film, ini ada media lain,” ujarnya.

Prisia Nasution © 2019 brilio.net

Phia mengaku harus totalitas untuk menghidupkan perannya itu. Jika gagal, jalan cerita yang disajikan bakal berantakan sementara pemain lain begitu totalitas memainkan perannya masing-masing. Karena itu ia pun bersusah payah mendalami perannya itu meski tak banyak informasi yang dia dapat mengenai sosok Tengku Tahura ini.

“Kalau gagal, saya menanggung beban aktor-aktor lain yang sudah membawakan peran dengan brilian. Jadi ini udah beban Tengku Tahura bawa semua masa lalunya. Sebagai aktris kalau saya failed di ujung, celaka nih temen-temen,” katanya.

Prisia Nasution © 2019 brilio.net

Dalam cerita ini, Tengku Tahura dikisahkan sebagai anak Amir Hamzah yang mendapat pendidikan lemah lembut dari sang ayah. Hal ini tercermin dari adegan di mana ia bertemu dengan teman-teman ayahnya saat berkunjung ke Batavia untuk menghadiri undangan peresmian Masjid yang diberi nama Amir Hamzah sebagai penghargaan.

Saat itu Tengku Tahura membawa pesan sang ibu, Tengku Kamaliah agar dirinya bisa menemui Ilik Sundari, kekasih ayahnya. Ia ingin menyampaikan amanat sang ibu yakni permohonan maaf kepada Ilik lantaran telah merebut kekasihnya dulu. Namun sayang, Ilik telah wafat sebulan sebelumnya.

Prisia Nasution © 2019 brilio.net

Sosok Tengku Tahura juga harus berbesar hati memaafkan pembunuh ayahnya yang mati disembelih orang kepercayaannya sendiri semasa kecil. “Pantanglah menyakiti, pantanglah berdendam, meski tak mudah memaafkan. Kini rasa memaafkanlah yang membuatku hidup sekarang ini,” begitu dialog Tengku Tahura dibawakan Phia.

Penampilan Phia begitu memukau meski tak tampil dominan.