Brilio.net - Pemerintah pusat dan daerah hingga saat ini terus berjibaku menekan angka kasus positif Covid-19, salah satunya dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Selain itu, berbagai upaya juga terus dilakukan termasuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsisten menjalankan protokol kesehatan untuk menyegah penyebaran wabah Covid-19. 

Namun tampaknya kesadaran masyarakat untuk menjalankan perilaku 3M dinilai masih minim. Karena itu perlu terus didorong agar kesadaran menerapkan protokol kesehatan semakin meningkat.   

Kondisi inilah yang membuat SNV Indonesia mendesain program perubahan perilaku bertajuk Hygiene and Behaviour Change Coalition (HBCC). Program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Inggris dan Unilever ini bertujuan mengubah perilaku 3M serta pembersihan permukaan dan disinfeksi.

Program ini telah berlangsung selama 11 bulan di delapan kabupaten dan dua kota yakni Cimahi, Gunung Kidul, Surakarta, Bantul, Probolinggo, Kebumen, Sleman, Gresik, Lombok Timur dan Lombok Tengah.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Program HBCC © 2021 brilio.netIlustrasi siswa SD sedang menyuci tangan (Foto dokumentasi diambil sebelum masa pandemi-@yans_brilio)

HBCC Programme Manager, Saniya Niska menjelaskan, program ini menerapkan tiga pendekatan, yaitu peningkatan kesadaran publik melalui media massa, kampanye perubahan perilaku di tingkat kabupaten/kota, serta perubahan perilaku dengan media digital. Targetnya adalah murid sekolah, petugas kebersihan, kelompok disabilitas dan pengguna fasilitas kesehatan dan fasilitas umum.

“Selama 11 bulan pelaksanaan HBCC di 8 kabupaten dan 2 kota telah terlihat praktik baik perubahan perilaku kebersihan dalam rangka mengurangi penyebaran Covid-19,” ujar Saniya.

Ia menyontohkan kampanye perubahan perilaku School of 5 di 101 sekolah dan madrasah telah menjangkau 1.342 guru dan lebih dari 100 ribu murid. Berbagai sesi yang dilaksanakan daring dan luring telah meningkatkan pengetahuan, motivasi, dan kepercayaan diri untuk mempraktikkan upaya 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak).

“Anak-anak didorong berkomitmen melalui ikrar 3M dan mempromosikan 3M ke keluarga dan lingkungan terdekat. Lebih dari 600 dokter kecil (dokcil) juga dilatih untuk menjadi role model bagi teman-temannya,” ujar Saniya mengenai kampanye di sekolah.

Kampanye 5-Bintang 

Program HBCC © 2021 brilio.netDok.Facebook HBCC Indonesia

Selain itu kampanye 5-Bintang di fasilitas umum seperti puskesmas, pasar, dan terminal juga cukup efektif. Kampanye ini mewakili perilaku 3M, pembersihan permukaan, disinfeksi, juga aksesibilitas dan bertujuan menjadikan seluruh faskes dan fasum dampingan berbintang 5.   

Yang tak kalah penting, kampanye ini juga melibatkan kelompok disabilitas.  Ketua Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera, Hardiyo menekankan pentingnya pelibatan penyandang disabilitas dalam kampanye, termasuk desain dan produksi sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS) di sekolah, faskes, dan fasum.

Pelibatan dan kolaborasi aktif ini bertujuan agar kampanye dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat, materi edukasi dapat diakses, dan sarana CTPS dapat digunakan semua orang. 

Head of Sustainable Living Beauty & Personal Care and Home Care Unilever Indonesia Foundation, Ratu Mirah Afifah, turut mengapresiasi implementasi HBCC di 10 kabupaten/kota dan berharap hasil-hasil pembelajaran dan praktik baik dapat dilanjutkan agar pembiasaan hidup bersih dan sehat menjadi karakter. Sebab perubahan perilaku merupakan proses jangka panjang yang perlu diupayakan dan dilanjutkan pemerintah daerah hingga 3M menjadi norma sosial di masyarakat.

Direktur SNV Indonesia, Ismène Stalpers, berharap upaya bersama mengatasi Covid-19 tidak berhenti pada HBCC. Pemerintah daerah dapat mengadopsi, mereplikasi dan mempertahankan pendekatan yang efektif di sekolah, fasilitas kesehatan, pasar, dan terminal bus menggunakan sumber daya lokal. “Saya mendorong Bapak Ibu Pemerintah Daerah untuk mempertahankan apa yang telah kita laksanakan dan capai bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Kementerian Dalam Negeri, Edy Suharmanto, juga mendorong pemerintah daerah, kelompok masyarakat, seperti tokoh agama hingga pemuda, untuk terus memberikan sosialisasi mengenai pencegahan Covid-19.

(brl/red)