Brilio.net - Jika diperhatikan, Legomoro cukup mirip dengan Lemper bukan? Yap Lemper merupakan jajanan pasar yang cukup familiar. Makanan ringan ini terbuat dari ketan dengan berbagai varian, mulai dari abon, daging ayam cincang, yang kemudian dibungkus dengan daun pisang. Rasanya yang khas dan enak membuat orang ketagihan dan kerap dijadikan makanan andalan dalam berbagai pertemuan, termasuk hajatan.

Sementara Legomoro yang merupakan makanan khas Kotagede, Yogyakarta ini memiliki ukuran lebih kecil dan ternyata cukup diminati pula, selain kipo dan yangko. Perbedaan Legomoro dan Lemper terletak dari kemasan atau bungkusnya saja.

Memang sama-sama dibungkus dengan daun pisang, namun Legomoro diikat dengan tali dari bambu yang disebut tutus. Sedangkan Lemper, bungkusannya mirip dengan lontong, hanya saja ukurannya lebih mini yang kemudian disematkan lidi sebagai penguat bungkusan.

Isi legomoro terdiri dari empat biji dan kecil-kecil. Sedangkan lemper hanya satu biji saja. Bahan dan proses memasaknya pun tergolong sama persis. Namun menariknya, dulu Legomoro tidak dijual bebas.

Legomoro © 2022 brilio.net

foto: brilio.net/Ricka Milla Suatin

Legomoro berasal dari bahasa Jawa yakni lego (lega) dan mara (datang), jika digabungkan memiliki makna kedatangan yang membawa kelegaan hati, atau bisa juga datang dengan hati yang lega.

 

 

Sejarahnya, Legomoro merupakan hidangan spesial di suatu hajatan, sehingga hanya dapat dinikmati ketika seseorang menggelar atau hadir di sebuah hajatan. Misalnya dalam acara pernikahan, Legomoro menjadi makanan wajib yang harus dibawa pihak laki-laki. Jika tidak ada hajatan, maka Legomoro tidak akan ada.

Ada makna menarik di balik hadirnya Legomoro di acara pernikahan. Kabarnya, ketika tamu undangan mengunyah atau makan Legomoro akan membuat si empunya hajatan senang alias hatinya merasa lega karena hal ini menunjukkan bahwa anak atau sanak keluarganya akan menempuh hidup baru dalam jalinan pernikahan.

Beda dulu, beda sekarang nih. Jika dulu hanya dapat dinikmati ketika hajatan saja, kini Legomoro sudah dapat dinikmati kapan saja karena sudah dijual bebas. Namun makanan satu ini masih memiliki nilai budaya tinggi dan maknanya tidak bergeser sama sekali, di mana pihak laki-laki akan membawa Legomoro untuk pihak perempuan di acara pernikahan.

Meski sudah dijual bebas, namun ternyata pedagang Legomoro tidak banyak lho. Seperti yang disampaikan salah seorang pedagang jajanan tradisional di pasar Kotagede, Listin. Menurutnya tidak banyak yang menjual Legomoro, padahal banyak orang yang mencari makanan ini lantaran mereka penasaran.

Legomoro © 2022 brilio.net

foto: brilio.net/Ricka Milla Suatin

"Yang jual Legomoro memang langka sih kalau di kota-kota, biasanya orang desa aja yang buat dan nitipin buat dijual. Ini kebetulan saya juga menjaga dan menjadi penjual jajanan di pasar Kotagede, banyak yang cari jajan ini karena emang penasaran. Dan dari penilaian mereka, Legomoro persis banget sama lemper, tapi dalam versi yang lebih kecil," ujar Listin, penjual jajanan dan Legomoro di Kotagede saat diwawancarai oleh brilio.net, Jumat (18/11).

Bagi kamu yang penasaran dengan Legomoro dan ingin mencicipinya, kamu bisa mengunjungi pasar Kotagede. Alamatnya ada di Jl. Mondorakan No. 172B, Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta. Biasanya, Legomoro akan dibanderol harga Rp 10 ribu saja untuk satu talinya, yang berisi empat biji. Sangat terjangkau kan, Sobri?

Penulis: Ricka Milla Suatin