Brilio.net - Problem pengelolaan finansial hampir pasti dialami oleh setiap orang. Seberapa besarnya pendapatan, tidak akan pernah terasa cukup apabila pengeluaran juga besar. Dari mana saja uang masuk dan ke mana saja uang keluar adalah hal penting untuk dikelola. Ada orang bertahun-tahun bekerja, dan baru sadar uang tabungannya tak seberapa.

Nah, menurut pebisnis Indonesia Tung Desem Waringin (TDW), ada dua cara menurunkan pengeluaran. Caranya yaitu menyederhanakan hidup dan menunda kesenangan. Berikut penjelasannya, seperti dikutip brilio.net dari buku Financial Revolution, Rabu (9/8).

1. Menyederhanakan hidup.

Pangkas Pengeluaran © 2017 shutterstock


Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Pertama, menunda kesenangan sampai passive income cukup untuk membeli barang konsumsi. Misalnya harga barang konsumsi seharga Rp 3 juta, maka belilah jika bunga tabungan (passive income) telah mencapai angka tersebut. Kedua, menurunkan tingkat barang konsumsi. Misalnya bisa membeli handphone baru tapi memilih handphone seken.

2. Menunda kesenangan.

Pangkas Pengeluaran © 2017 shutterstock


Level pertama, terjelek. Yaitu membeli barang konsumsi dengan cara berutang. Misalnya membeli handphone dengan kredit. TDW memberi catatan, utang tak selamanya buruk, yaitu ketika barang konsumsi tersebut bisa meningkatkan produktivitas. Misalnya mobil yang dibeli secara kredit disewakan sehingga menjadi sumber pendapatan baru.

Level kedua, lumayan. Yaitu membeli kontan barang konsumsi ketika punya uang bukan utangan. Misalnya ingin membeli handphone seharga Rp 5 juta dengan cara menunggu alokasi kesenangan 10% dari pemasukan mencapai nominal tersebut dulu baru membelinya. TDW mengalokasikan 10% dari pendapatan digunakan untuk kesenangan.

Level ketiga, bagus. Yaitu menunggu hasil investasi cukup untuk membayar cicilan barang konsumsi yang ingin dibeli. Misalnya sebuah handphone cicilannya Rp 300 ribu per bulan, maka membelinya ketika hasil investasi mencapai angka tersebut tiap bulan. Jadi membeli barang konsumsi dengan hasil investasi.

Level keempat, terbaik. Yaitu membeli secara tunai barang konsumsi dengan passive income. Misalnya harga handphone Rp 5 juta, maka membelinya ketika hasil investasi mencapai angka tersebut sehingga bisa membeli kontan.