Brilio.net - Setiap anak butuh dan wajib mendapat cinta dan kasih sayang kedua orangtuanya. Tapi garis hidup tak selamanya berkata demikian. Ada anak yang tumbuh tanpa salah satu orangtuanya. Seperti yang dialami Ria (nama samaran). Gadis 24 tahun asal Gunungkidul, Yogyakarta ini harus rela lahir dan tumbuh besar tanpa didampingi sang ayah.

Menurut Ria, berdasarkan cerita singkat dari Si Mbok (ibunya) yang pernah ia dengar, ayahnya pergi menikah lagi dengan wanita lain saat kakak lelakinya berusia balita. Kala itu Ria masih dalam kandungan tiga bulan sang ibu.

Tak mudah menjadi anak tanpa ayah. Ketika SD dia mendapat pertanyaan dari sang guru saat mengisi data diri di raport tentang data ayah. Si Mbok menyuruhnya menjawab, "Nggak duwe Bapak (Nggak punya Bapak)."

"Kalau pas SD saya jalani dengan mengalir begitu saja, saat SMP baru terasa sedihnya nggak ada Bapak. Saya iri sama teman-teman yang sering cerita soal bapak mereka," kata Ria kepada brilio.net melalui layanan story telling bebas pulsa ke 0-800-1-555-999, Jumat (8/1).

Namun begitu, rasa rindu sosok ayah sempat terbayar walaupun secuil. Kala itu, selepas lulus SMP pada tahun 2006, Ria memutuskan merantau ke Jakarta bersama saudara karena Si Mbok tak bisa membiayai niatnya sekolah ke SMA. Di sana, gadis yang sekarang sibuk mencari rumput untuk ternak sapi itu dan membantu pekerjaan rumah tangga Si Mbok, bekerja di sebuah rumah makan. Setelah satu tahun bekerja, dia mendapat informasi keberadaan ayahnya yang juga ada di Jakarta.

Loading...

Berangkatlah Ria ditemani saudara mencari sang ayah yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan. Rasa haru, bahagia, dan sedih langsung menyergapnya.

"Sampai di sana, ibu tiri saya yang ingat siapa saya karena sempat bertemu waktu kecil, kalau menurut cerita Si Mbok. Justru Bapak saya nggak ingat sama saya. Tapi waktu itu, nggak ada sedikit pun rasa benci kenapa Bapak meninggalkan kami sekeluarga," ungkap Ria terdengar bersuara getir menahan tangis.

Selanjutnya, tak banyak yang menjadi perbincangan antara Ria dan bapaknya yang berprofesi sebagai pemain sekaligus perajin kendang dan tergabung di sebuah grup musik campursari. Dia hanya ingat bahwa bapaknya bertanya dua hal. "Bagaimana kabar kakakmu dan kerja di mana?" dan "Kalau main ke sini, nanti kalau pulang saya antar ke terminal."

Saat pamit pulang, Ria justru mendapat uang saku sebesar Rp 100.000 dari ibu tirinya. "Semula saya menolak karena saya sudah kerja. Tapi kata ibu tiri waktu itu begini, 'Kalau kamu menolak, artinya kamu nggak menganggap kami orangtua'. Akhirnya ya, saya terima."

Namun begitu, hubungan keduanya jarang sekali terjalin sampai detik ini. Bahkan Ria selama tiga tahun di Jakarta kemudian pulang ke Yogyakarta, dia dan bapaknya tak pernah saling memberi kabar. Awalnya sempat tahu nomor ponsel bapaknya, tapi lama-lama sudah tak bisa dihubungi lagi. Sekalipun bapaknya juga pernah pulang kampung ke Gunungkidul saat ibu tiri meninggal dan dimakamkan di daerah Solo, romantisme ayah-anak ini tak pernah terjalin.

"Tapi bagaimanapun saya berharap hubungan saya, kakak saya, Si Mbok, dan Bapak ke depannya semakin baik. Orangtua boleh saja berpisah, tapi kan nggak ada namanya bekas anak," pungkas Ria yang berharap bagi siapa saja yang mengalami kisah keluarga seperti dia untuk selalu semangat dan tak menaruh benci dan dendam kepada siapa pun.

Ria juga berterima kasih sekali kepada Si Mbok yang telah menjadi wanita hebat mengurus dan mendidiknya dan sang kakak, tanpa didampingi oleh sosok pria yang seharusnya sebagai suami dan ayah. "Saya berharap bisa segera membahagiakan Si Mbok, walaupun nggak akan membayar apa yang sudah diberikan Si Mbok kepada saya."

Cerita ini disampaikan oleh Ria melalui telepon bebas pulsa Brilio.net di nomor 0-800-1-555-999. Semua orang punya cerita. Ya, siapapun termasuk kamu punya kisah tersembunyi baik cerita sukses, lucu, sedih, inspiratif, misteri, petualangan menyaksikan keindahan alam, ketidakberuntungan, atau perjuangan hidup yang selama ini hanya kamu simpan sendiri. Kamu tentu juga punya cerita menarik untuk dibagikan kepada kami. Telepon kami, bagikan ceritamu!