Brilio.net - Anthony Sinisuka Ginting menjadi tumpuan Indonesia di partai pertama semifinal beregu putra bulutangkis Asian Games 2018 kontra tim Jepang. Pada laga tersebut, Ginting harus menghadapi tunggal terbaik Jepang sekaligus Juara Dunia 2018, Kento Momota.

Ginting berhasil menunjukkan performa terbaiknya saat unggul 21-14 di set pertama. Namun, Kento berhasil membalas kekalahan dengan tampil dominan dan mengakhiri set kedua dengan skor 14-21 untuk keunggulannya.

Bangkit dari kekalahan di set kedua, Ginting tampil meyakinkan di awal set ketiga. Dirinya berhasil menguasai jalannya pertadingan hingga unggul 7 poin atas Momota di kedudukan 15-8.

Di momen krusial tersebut, Ginting gagal memanfaatkan momentum untuk menutup pertandingan dengan kemenangan untuk Indonesia. Perlahan tapi pasti, Momota merebut 11 poin berturut-turut dan berbalik unggul 19-15 atas Anthony Ginting. Momota pun menutup set ketiga dengan 21-16.

Dikutip brilio.net dari laman badmintonindonesia.org, Anthony menjelaskan bahwa dirinya lengah dan kurang mengantisipasi perpindahan lapangan di game ketiga.

Loading...

"Di game pertama masih bisa lob serang, tenaganya masih full. Di game kedua saya 'kalah angin' dan pastinya cara mainnya ada yang beda, ada yang miss sedikit. Di game ketiga awal, saya antisipasi untuk interval game ketiga (perpindahan lapangan), kalau tidak poinnya mepet, ya harus unggul," ungkap Anthony.

anthony ginting © 2018 instagram

foto: badmintonindonesia.org

"Mungkin dari pikiran saya, agak lengah saat unggul. Sebenarnya dia permainannya sama dengan sebelumnya. Saat seperti ini mungkin saya harus menganggap poinnya mepet, bukan unggul jauh," tambahnya.

Meskipun belum berhasil menyumbang poin, Ginting mengaku dirinya tak merasa terbebani dan bisa menikmati permainan. Namun, Momota memiliki strategi yang cukup baik.

"Tidak ada beban, dari kemarin saya bisa menikmati permainan. Tapi sayang banget tadi, sebetulnya saya berpeluang dapat poin. Sebenarnya lawan bolanya nggak yang macem-macem, atau variasi bolanya yang selalu bagus banget atau gimana, hanya sesekali saja. Tapi dia mainnya menunggu lawan buat kesalahan, 'buka bolanya' bagaimana, dia cari celahnya di situ," ungkap Anthony.