Brilio.net - Jepang selamat dari serbuan pasukan Mongolia berkat bantuan angin topan. Peristiwa yang terjadi di abad ke-13 ini digambarkan dalam sebuah lukisan karya Kikuchi Yosai yang dibuat pada 1847. Sebagai penakluk, pasukan Mongolia yang dipimpin Kubilai Khan selalu ingin memperluas wilayah kekuasaannya.

Jadi pada akhir abad ke-13, cucu Genghis Khan ini meluncurkan armada laut untuk menguasai Jepang. Menurut legenda Jepang, kapal-kapal Mongolia itu akhirnya diterpa badai. Menariknya, peristiwa ini terjadi dua kali yakni pada 1274 dan 1281. Kejadian ini membuat Kubilai Khan membatalkan invasinya.

Angin besar yang membantu Jepang itu dikenal sebagai "Topan Ilahi" yang oleh masyarakat Jepang disebut sebagai Kamikaze. Sejak lama para ilmuwan mempertanyakan kebenaran Kamikaze ini. Pekan lalu, legenda itu mendekati kebenaran. Sejumlah peneliti dalam penelitian terbaru mereka menemukan bukti tentang peningkatan aktivitas topan di sekitar waktu serangan yang dilakukan Kubilai Khan, termasuk tanda-tanda bahwa dua badai besar itu memaksa beberapa kapal Mongolia merapat ke daratan. Ini bisa dilihat dari bangkai kapal yang diduga milik tentara Mongolia.

Dalam beberapa dekade terakhir, keberadaan topan Kamikaze sangat diragukan. Sebab, ukuran topan sebesar itu tidak pernah lagi terjadi. Karena itu, Kinuyo Kanamaru, ahli geologi dari University of Massachusetts dan koleganya Jonathan Woodruff seperti dilansir Geologi mencari bukti kuat keberadaan Kamikaze dengan melakukan penelitian di bawah perairan Danau Daija di Kyushu, wilayah paling selatan dari empat pulau utama di Jepang.

Mereka memilih wilayah ini karena diduga dulunya sebagai lintasan badai Kamikaze. Wilayah ini kurang dari 120 kilometer dari tempat para tentara Mongolia mendaratkan kapal. "Di Jepang, orang percaya pada roh-roh yang melindungi mereka. Roh-roh cenderung hidup di sebuah danau kecil atau kolam atau pohon raksasa," kata Kanamaru.

Loading...

Danau Daija dipercaya terkait dengan legenda badai Kamikaze. Penduduk setempat juga pervaya kalau danau ini dijaga seekor ular besar. Para peneliti berharap akan memiliki catatan sedimen yang mungkin merekam peristiwa di era abad 1200-an. Mereka juga berharap situs ini akan menjadi tempat yang tepat untuk mencari bukti tentang badai kuno itu. Apalagi, danau ini berjarak tidak jauh dari laut. Para peneliti berasumsi air laut menerpa pantai selama topan besar itu terjadi dan meninggalkan petunjuk dalam sedimen. Secara khusus, para peneliti mencari tanda-tanda fisik sedimen serta perubahan konsentrasi strontium, dengan kandungan yang lebih kaya di dalam air laut ketimbang air tawar.

Hasilnya menunjukkan, kadar strontium cukup tinggi dengan perubahan sifat sedimen diperkirakan terjadi selama periode tahun 250 sampai 1600. Hal ini menunjukkan topan besar sering terjadi di wilayah ini. Malah, para peneliti mengidentifikasi dua badai besar terjadi pada era tahun 1200-an, meskipun bukti itu tidak langsung merujuk pada topan Kamikaze yang terjadi pada 1274 dan 1281. "Kegagalan invasi Mongolia ke Jepang karena badai terdengar seperti mitos," kata Jonathan Nott, ahli geologi James Cook University, Cairns, Australia. Tapi, masyarakat Jepang percaya bahwa kegagalan serbuan Mongolia akibat topan Kamikaze. Hasil penelitian itu mengungkapkan, wilayah ini sering mengalami iklim El Nino pada akhir abad ke-13.

Dengan menggunakan studi pelengkap terhadap aktivitas topan di China dan Jepang, para ilmuwan sebelumnya telah menemukan gambaran bahwa badai membelok ke arah Jepang lebih sering selama periode El Nino dan menuju China yang menjadi wilayah dominan terjadinya iklim La Nina. Penelitian ini menunjukkan, badai Kamikaze adalah salah satu contoh pertama yang tercatat bagaimana cuaca ekstrim yang dapat membentuk batas geopolitik.