Brilio.net - Bulan Ramadan telah tiba. Kendati lebaran masih sekitar 2 minggu lagi, jasa penukaran uang tampaknya sudah banyak menjamur di berbagai tempat di Yogyakarta. Mereka membuka lapak di sejumlah titik, di antaranya pada trotoar jalan Panembahan Senopati, titik nol kilometer, dan Malioboro.

Eni (50), salah seorang penyedia jasa penukaran uang menuturkan bahwa dia sudah tiga tahun menjalani profesi tersebut. "Tiap bulan Ramadan saya selalu di sini," ujarnya saat ditemui brilio.net, Sabtu (28/6).

Pertengahan Ramadan, jasa penukaran uang mulai ramai di selatan Jogja

Menurutnya, jasa penukaran uang memudahkan bagi mereka yang sibuk tanpa harus mengantre di bank. "Kalau di BI, bisa 200-450 orang antri," imbuh ibu 3 anak ini. Dari usahanya tersebut, Eni mengaku bisa meraup laba hingga 5%-10% setiap harinya. Namun keuntungan tersebut masih dibagi dengan pemilik modal.

Pertengahan Ramadan, jasa penukaran uang mulai ramai di selatan Jogja

Loading...

Setiap hari Eni harus menukarkan mata uang pecahan Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, dan Rp 20 ribu di Bank Indonesia. Setelah itu, dia mulai membuka lapaknya dan tutup saat sore hari. "Kalau pas ramai sampai jam 9-10 malam," kata Eni.

Dari usahanya tersebut, Eni mengaku bisa menambah penghasilan sehari-hari. Sebab, pendapatan yang biasa dia peroleh dari menjual batik tidak menentu.

POPULER:

Kakek ini hidup sebatang kara, setiap hari berkostum Winny The Pooh

Mbah Misari, dulu pejuang kemerdekaan, kini jualan sangkar burung

Nasib Mbah Dul, karena buta aksara harus kehilangan kios, tragis!

Imbalan tak seberapa, Mbah Hadi tetap senang menjadi penenun stagen

Kisah Mbah Srilah jaga tradisi membuat stagen dengan alat tenun kayu

Kesetiaan Mbah Yudo ke Keraton, 12 tahun kerja bergaji Rp 15.000/bulan

Mbah Dumiyo, usia 90 tahun tetap semangat jualan 'es jadul'

Usia senja, Mbah Temo semangat jualan peyek demi untung tak seberapa

Kisah Mbah Sugeng, tak mau minta-minta meski tinggal di kos reyot

Cara ibu membahagiakan kamu lebih dari yang kamu sadari

Gigihnya Mbah Kom, 32 tahun jajakan sapu lidi meski tak melihat