Brilio.net - Namanya Abah Komon. Kakek tuna netra itu berangkat dari Subang, Jawa Barat (Jabar) ke Bandung dengan jarak 60 kilometer (km) untuk menjual sapu lidi keliling. Keterbatasan fisik tak menjadi hambatan baginya tetap berjuang dan berusaha demi menghidupi keluarga.

Awalnya, Mbah Kom, biasa dia disapa, berjualan di daerahnya sendiri Dawuan, Subang. Tetapi, kian hari penjualannya kian sepi. Akhirnya Mbah Kom memberanikan diri untuk menjual dagangannya itu ke daerah Bandung bahkan Jakarta.

Segala keterbatasan fisik tidak menghalangi niat Mbah Kom untuk tetap terus memeras keringat memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Terhitung sudah 32 tahun Mbah Kom berjualan sapu lidi.

Keadaannya yang tak bisa melihat, membuat Mbah Kom tak jarang mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai terserempet bahkan tertabrak motor ataupun mobil, kaki tertusuk paku atau duri, penipuan, hingga tersesat beberapa hari di tempat yang tidak ia ketahui. Kedati berbagai risiko bahaya dialami, tak membuat dirinya berhenti mencari rezeki.

Arman, salah seorang mahasiswa Bandung menuturkan, sapu lidi dijual oleh Mbah Kom dengan harga 2.500 satu ikat. Sewaktu Mbah Kom muda, ia mampu membawa 40 ikat sapu lidi. Seiring dengan bertambahnya usia, kondisi fisik dan tenaganya semakin berkurang, kini ia hanya mampu membawa 20 ikat sapu lidi.

Loading...

Tak terbayang betapa beratnya beban yang harus di pikul oleh kakek yang berusia lebih dari 70 tahun itu. Belum lagi jarak yang harus ditempuh sampai berpuluh-puluh kilo meter perjalanan tanpa alas kaki, dengan kondisi jalan aspal yang sangat panas dan penuh dengan kerikil tajam.

Mbah Kom menuturkan tidak memakai alas kaki memudahkannya dalam berjalan, sebab dirinya sering terpelosok karena tidak bisa meraba jalan dengan benar jika memakai sandal. “Kaki saya adalah mata saya,” ujar Arman yang dengan suka rela menceritakan kisah Mbah Kom kepada brilio.net, Minggu (10/5).

Kemiskinan, usia dan keterbatasan fisik bukan menjadi alasan untuk berputus asa, di saat banyakan orang menjadikan keterbatasan sebagai sarana menggantungkan hidup kepada orang lain dengan cara meminta-minta.

Mbah Kom percaya Tuhan akan sangat menyayangi dan akan memberi jalan bagi hambanya yang mau berusaha.