Brilio.net - Masa tua harusnya menjadi masa di mana seseorang dapat menikmati hari-harinya bersantai bersama keluarga di rumah dengan aktivitas ringan dan menyenangkan.

Masa di mana orangtua menerima bakti dari anak-anak mereka setelah membesarkan mereka selama bertahun-tahun. Di mana orangtua sudah tak lagi harus bekerja keras membanting tulang selama berjam-jam setiap harinya. Namun sayangnya hal itu tidak dapat dinikmati oleh Mbah Misari.

Mbah Misari (81) sehari-harinya hidup sebatang kara di sebuah rumah di Kota Malang, Jawa Timur. Beberapa saat lalu ada seorang pengguna Facebook dengan akun Ubayd Afafa yang mengunggah foto kakek ini di media sosialnya dengan penggalan caption berbunyi 'Raga Tua, Tapi Pantang Meminta-minta'. Foto beserta caption tersebut sontak membuat banyak pengguna Facebook lain tergerak untuk membantu sang kakek tersebut.

“Si mbah biasanya jual sangkar di sekitar Jalan Ijen dan Jalan Raung dari sekitar jam 9 pagi sampai siang. Saya sudah beberapa kali melihat Mbah Misari di sekitar lokasi, orangnya sudah sangat sepuh dengan nafas terpenggal-penggal,” cerita Ubayd pada saat dikonfirmasi oleh brilio.net Kamis (11/6).

Ubayd juga bercerita bahwa dirinya sempat mengunjungi rumah Mbah Misari bersama beberapa rekannya. Di sana dia mengetahui bahwa sehari-harinya memang kakek ini membuat sendiri sangkar burung yang dia jual. Sang kakek mengaku saat kondisi tubuhnya sehat, beliau mampu membuat satu sangkar dalam satu hari. Tapi saat kondisinya tak begitu baik, satu sangkar biasanya beliau selesaikan dalam waktu 3-4 hari.

Loading...

“Sangkarnya itu nggak selalu terjual tiap hari. Kadang satu sangkar baru terjual setelah tiga minggu. Sehari-hari si mbah jualannya pakai sepeda tua milikknya berjalan dengan menempelkan tulisan 'dijual' di bagian sangkarnya berharap ada yang melihat dan membeli,” lanjut Ubayd.

Pria 28 tahun ini juga menambahkan bahwa sebelum menjadi pembuat dan penjual sangkar, dulunya Mbah Misari sempat ikut serta dalam perang melawan Jepang dan juga sempat bekerja di pemerintahan. Namun kemudian si mbah menjadi penganyam kursi.

Uang hasil menjual sangkar biasanya beliau gunakan untuk makan sehari-hari dan juga berobat. Kaki Mbah Misari cedera karena tergores kawat dan lukanya sedikit menjalar pada beberapa bagian. Bayangkan saja dengan kondisi seperti itu kakek ini setiap harinya masih harus berjalan tak peduli panas yang dia rasakan. Belum lagi saat dia harus pulang dengan tangan hampa.

Sehat terus ya Mbah, tetap semangat, kami semua berdoa untuk kesehatanmu!