Brilio.net - Nasi telur merupakan salah satu menu makanan yang ada di hampir setiap warung makan di Indonesia. Mulai dari Warteg, Warung Padang, Warung Penyet bahkan warung makan sederhana di pelosok-pelosok desa. Menu makanan yang satu ini harganya dikenal bersahabat dengan kantong, alias lebih murah jika dibandingkan dengan lauk lain seperti ikan dan daging.

Tetapi, kamu mungkin akan membelalakkan mata jika menu yang biasanya dibanderol mulai Rp 5.000-Rp 10.000 ini bisa menjadi sebegitu mahalnya di daerah lain. Fenomena seperti ini terjadi di Indonesia, terutama di pulau-pulau terpencil. Salah satunya adalah di Kepulauan Anambas, Riau.

Harga seporsi nasi telur di sana menjadi sangat mahal bukan karena dibeli di restoran mewah. Distribusi sembako yang bermasalah, tidak datang tiap hari ke Kepulauan Anambas, yang membuat harga menjadi sedemikian mahal.

"Sembako di Kepulauan Anambas biasanya didatangkan menggunakan kapal 1 bulan 2 kali," tutur Erfan, salah seorang warga Anambas, kepada brilio.net, Senin (16/11).

Jika kondisi geografis parah segala bentuk aktivitas warga maupun paskan sembako yang didatangkan melalui kapal tidak bisa dilakukan. Di saat seperti inilah kemudian sembako menjadi barang langka sehingga harganya melambung.   

"Musim terburuk akibat angin barat biasanya terjadi pada bulan-bulan November, Desember, Januari. Di saat seperti inilah segala bentuk sembako dan olahannya semakin mahal, jangan kaget jika nasi telur dibanderol dengan harga 60.000 hingga 80.000 per porsinya," lanjut Erfan.

Karenanya banyak warga setempat sering menabung sembako saat pasokan lancar. Sehingga saat musim angin barat tiba, warga masih memiliki simpanan untuk beberapa bulan ke depan.

(brl/swh)

(brl/swh)