Brilio.net - Di Belanda ada sebuah peringatan yang disebut Prinsjesdag atau Prince’s Day. Prinsjedag, menurut sebuah situs pariwisata di Belanda, Holland.com, menjelaskan bahwa Prinsjesdag dirayakan setiap tahun pada hari Selasa ketiga bulan September. Hari itu merupakan hari penting dalam dunia politik Belanda, karena di hari itu, raja membacakan pidato kerajaan (Speech from the Throne) yang menguraikan kebijakan pemerintah untuk tahun mendatang.

Namun, Prinsjesdag lebih dari sekadar peristiwa politik dan ekonomi. Perayaan ini memiliki arti seremonial yang penting. Setelah pembacaan pidato kerajaan (Speech from the Throne), prosesi kerajaan ini berpindah dari Noordeinde Palace menuju Ridderzaal di Den Haag. Yang Mulia Raja melambaikan tangannya kepada rakyat dari kereta kencana. Peristiwa ini membuat ribuan orang berbaris memadati rute yang dilewati.

Prosesi kerajaan ini melibatkan banyak kekuatan militer. Barisan ini terdiri dari pasukan bersenjata, pasukan berkuda dan anggota pengawal kerajaan lainnya. Jika kamu ingin ikut merayakan Prinsjesdag, silakan Anda datang pada hari Selasa ketiga bulan September. Sebaiknya kamu datang lebih awal, karena para pendukung sejati House of Orange pasti ingin berada pada barisan terdepan dan mereka biasanya tiba pada dini hari.

Kereta kencana Prinsjesdag Belanda 2015 dinilai lecehkan Indonesia

Lukisan ini dinilai kontroversial karena "menyakiti" bangsa-bangsa yang pernah dijajah Belanda, termasuk Indonesia.

Loading...

Namun ada yang memilukan dari acara tersebut. Hal ini karena terdapat lukisan yang menggambarkan kejayaan Kerajaan Belanda pada masa lampau. Suriname menjadi salah satu negara yang memprotes kereta kencana, terutama lukisannya. Tiap kali Prinsjedag berlangsung selalu aja ada protes dari Suriname.

Fuji Riang Prastowo, salah seorang netter Indonesia menuliskan ajakan untuk mengungkapkan keberatan akibat lukisan ini.

"Pada Facebook resmi pemerintah kerajaan Belanda “Het Koninklijk Huis” dengan tautannya menampilkan foto Kereta kencana bergambar kejayaan kolonialisme Belanda, di mana menurut saya gambar tersebut merendahkan martabat bangsa Indonesia yang merdeka. Gambar menunjukkan sisi kanan (Dutch East Indies/Indonesia) adalah Bangsawan Jawa yang menjadi kacung Belanda, dan sisi Kiri (Dutch West Indies/ Suriname) adalah para budak-budak Afrika Suriname," tulis Fuji seperti dikutip brilio.net, Jumat (18/9)

Fuji Prastowo berharap alangkah bijaknya, Pemerintah Belanda tidak menggunakan kembali kereta kencana buatan tahun 1898 ini sebagai pertunjukan utama arak-arakan kerajaan, seperti pada Prinsjesdag, 15 September 2015 di Den Haag. "Memang kita tidak dapat memungkiri fakta kelam ratusan tahun sejarah kolonialisme Belanda di kepulauan Nusantara, tapi apakah masih relevan menggunakan gambar ‘perayaan golden age’ sebagai sarana mengungkit-ungkit simbol kejayaan bangsa Belanda atas kita, di kala kita bukan lagi budak, babu, atau kacung mereka lagi," ujar Prastowo.

Kereta kencana Prinsjesdag Belanda 2015 dinilai lecehkan Indonesia

Meski banyak yang mengagungkan kereta tersebut, Annelies, salah seorang netter Belanda mengaku tidak senang dengan lukisan yang menggambarkan sikap kolonialisme negaranya. "Acara yang indah tapi sayangnya lukisan tersebut menyakitkan bangsa lain bekas koloni," tulis Annelies mengomentari foto kereta kencana tersebut.

Kalau menurut kamu, masih relevankah jika Belanda mengungkit-ungkit kejayaan jahatnya dulu, jika negara yang sempat dijajahnya kini sudah merdeka dan berdaulat?