Brilio.net - Tampaknya bukan hanya masalah pendidikan saja yang belum merata di Indonesia, permasalahan kesehatan juga sepertinya harus lebih diperhatikan. Kalau di Jawa sudah diberikan fasilitas kesehatan yang lengkap di mana semua masyarakat juga sudah percaya dengan keahlian para tenaga medis, hal ini berbanding terbalik dengan cerita yang datang dari Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.

Lisye, yang merupakan seorang bidan yang mengikuti program Bidan Kontrak atau Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kabupaten Kepulauan Sitaro bercerita pada brilio.net bahwa masyarakat di tempatnya bekerja kebanyakan masih belum percaya dengan tenaga medis. Sebagian masyarakat masih menggunakan obat-obatan tradisional sehingga mereka jarang berobat pada tenaga medis dengan alasan jarak yang jauh dan biaya.

“Awal saya bekerja sebagian masyarakat ada yang merespons baik tapi sebagian dari mereka kurang menerima. Misalnya saja para ibu hamil lebih percaya pada dukun bayi ketimbang saya khususnya dalam proses persalinan,” cerita Lisye pada brilio.net belum lama ini.

Oleh karena itu Lisye yang memang ditugaskan seorang diri memutuskan untuk melakukan pendekatan personal pada masyarakat dan dukun bayi dengan memberikan pemahaman bahwa persalinan yang aman membutuhkan alat-alat steril dan juga obat-obatan.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

“Waktu itu ada ibu bersalin, awalnya mereka memanggil dukun bayi. Kemudian dalam proses pertolongan terjadi pendarahan dan ibu tersebut merasa lemas sehingga dukun nggak tahu lagi harus berbuat apa, segala sesuatu sudah dilakukan tapi nggak berhasil. Akhirnya saya dipanggil untuk memberikan bantuan dan ketika saya lakukan pelayanan ibu tersebut merasa lebih baik.”

Dari situlah akhirnya perlahan masyarakat mulai percaya dan mau berobat kepada Lisye. “Di sini saya melakukan pelayanan 24 jam, nggak kenal waktu kalau memang ada yang membutuhkan siang atau malam. Saya juga mengadakan kunjungan rutin kerumah-rumah dari ujung kampung ke ujung kampung sendiri jalan kaki untuk melakukan pemeriksaan rutin khususnya untuk ibu hamil.”

Wanita berusia 23 tahun ini mengaku bahwa kunjungan tersebut dia lakukan karena terkadang masyarakat malas untuk mendatanginya hanya sekadar periksa, oleh karena itu dia yang harus proaktif mengontrol kondisi kesehatan masyarakat di sana. Selain itu, Lisye mengaku justru dia akan merasa bosan jika harus diam dan menunggu pasien saja di Puskesmas.

“Saya sangat senang di sini karena motivasi awal ingin membantu masyarakat agar mereka mendapat pelayanan kesehatan secepatnya sehingga mereka juga dapat memahami bahwa kesehatan itu penting dan perlu diperhatikan. Karena tugas yang dititipkan pada kami sendiri salah satunya untuk memudahkan pelayanan kesehatan masyarakat.”

(brl/tis)