Brilio.net - Menurut data US Census Bureau pada akhir tahun 2014, terdapat 28 juta masyarakat Indonesia yang menderita insomnia. Jumlah tersebut akan terus bertambah dikarenakan gaya hidup masyarakat Indonesia yang semakin meningkat.

Insomnia merupakan kondisi seseorang yang mengalami kesulitan tidur atau memerlukan waktu lama untuk bisa terlelap. Jika dibandingkan dengan penyakit kebanyakan maka insomnia memang tidak begitu berbahaya. Akan tetapi jika hal tersebut terjadi terus menerus maka insomnia dapat mengganggu kesehatan karena waktu tidur jadi berkurang.

Bahaya insomnia dapat menjadi besar jika berlangsung secara terus menerus dan pengobatan terhadap insomnia pun masih minim. Hal inilah yang memicu alasan bagi 5 orang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk menciptkan inovasi baru dalam menghadapi insomnia. Mereka adalah Qurata Aini Dewi, Nadia Nur Azizah, M. Fajarulhuda, Hammami Ahmad Zaini, dan Muhammad Purnama Ardhi. Prototype yang mereka buat berupa alat pijat otomatis berbentuk bandana yang ditujukan kepada penderita insomnia.

Qurata Aini Dewi, salah seorang anggota tim mengatakan selama ini dikenal beberapa cara untuk mengatasi insomnia. Antara lain penggunaan obat obatan, teknik akupuntur, hipnosis, akupresur dan sebagai macamnya. Berbagai macam cara tersebut punya efek yang kurang diinginkan.

Lebih lanjut Qurota menuturkan mereka menciptakan Bandana Pijat Anti (BaPiA) Insomnia. alat pijat tersebut, kata dia, merupakan alat pijat otomatis. "Sehingga penderita insomnia dapat memberi terapi terhadap dirinya secara mandiri," jelas Qurata kepada brilio.net, Kamis (17/9).

Loading...

Proses pembuatan protype BaPiA insomnia ini terdiri dari beberapa tahapan berupa studi literatur baik dari segi medis maupun segi teknologi yang akan diterapkan. Pengumpulan bahan, perakitan, penyempurnaan alat, uji alat, uji coba terhadap penderiita insomnia dengan menggunakan kuisioner yang telah tervalidasi untuk melihat skor kualitas tidur sebelum dan setalah penggunaan prototype BapiA Insomnia.

Jelas Qurata, salah satu prinsip dalam dunia pengobatan adalah do not do any harm. Sehingga mereka kemudian melakukan studi literatur dari jurnal atau penelitian ilmiah terpercaya. Tidak dapat dipungkiri, mereka sempat menemui kesulitan serta keterbatasan saat melakukan studi pustaka tentang akupuntur dan akupresur.

Kebanyakan jurnal yang membahas akupuntur berbahasa Mandarin. Sedangkan mereka punya keterbatasan dalam memahami bahasa Mandarin. Hal tersebut tidak membuat lima orang mahasiswa tersebut pesimis dan menyerah. Kendala referensi malah membuat mereka semakin terpacu untuk menciptakan bandana insomnia tersebut dan akhirnya mereka pun berhasil mewujudkannya.

"Sampai sejauh ini kami berharap prototype ini dapat dikembangkan terus sehingga dapat memberi manfaat secara yang lebih baik lagi kepada masyarakat," tandas Qurata.

BapiA yang mereka ciptakan merupakan hal baru di Indonesia. Dari ide kecil ini mereka mampu menghasilkan inovasi baru yang tentunya berguna bagi lingkungan sekitarnya khususnya masyarakat Indonesia. Kalau mereka bisa membuat inovasi baru tentu kamu juga dapat melakukan hal yang sama, bukan?