Brilio.net - Lagu 'Penting Yakin' adalah rilisan kedua Ndarboy dari album Cidro Asmoro. Tembang ini juga sekaligus menjadi video seri musikal lanjutan dari lagu pertama Ndarboy, 'Moro Moro Teko', yang sudah dirilis sebelumnya pada Januari di channel YouTube Ndarboy Genk sekaligus di gerai-gerai musik digital.

Selain masih melanjutkan cerita dari lagu 'Moro Moro Teko', dalam video seri musikal lagu 'Penting Yakin' ini, Ndarboy juga menampilkan seni ketoprak yang dibawakan oleh Ki Gadhing Pawukir, putra mendiang dalang kondang Ki Seno Nugroho.

Ndarboy Penting Yakin Video © 2022 brilio.net

Ndarboy dan Kukuh Kudamai di adegan video seri musikal 'Penting Yakin'
© 2022 brilio.net/GAS.ID

Ki Gadhing Pawukir muncul menjadi cameo di pertengahan lagu. Ia didapuk untuk memvisualkan potongan lirik lagu 'Aku karo kowe koyo Rahwana lan Sinta' dengan memainkan adegan wayang Rahwana menyulik Sinta yang kemudian diselamatkan oleh Rama.

"Kenapa harus ketoprak dan wayang? Karena dalam lagu 'Penting Yakin' ini aku ingin memperlihatkan bahwa dangdut juga bisa mencampurkan dengan unsur budaya lainnya, seperti gamelan, cerita wayang," ujar Ndarboy mengawali.

Ki Gadhing Pawukir © 2022 brilio.net

Ki Gadhing Pawukir di video seri musikal 'Penting Yakin'
© 2022 brilio.net/GAS.ID

Mengenai cerita liriknya, 'Penting Yakin' mengisahkan seseorang yang pontang-panting memperjuangkan keseriusannya dalam sebuah hubungan. Meski menyadari banyak rintangan dan perbedaan mencolok dengan orang yang dicintainya, ia tetap serius melakukan apapun yang diyakininya.

"Dalam segala hal, dalam segala pekerjaan, bahkan sampai kisah asmara, kita harus selalu yakin dengan keputusan dan langkah kita. Itu pesan utama dari lagu 'Penting Yakin' ini," kata pria yang bernama asli Helarius Daru Indrajaya itu.

***

Selain lirik yang selalu kuat dan padat, di balik Ndarboy selalu ada sosok krusial pada bagian aransemen musik. Adalah Rijal Pamungkas, sahabat lama Ndarboy, sekaligus pemain bass Genk Band, yang bertanggung jawab membuat lagu-lagu Ndarboy punya karakter yang kuat sampai saat ini.

Menurut Ijal, sapaan akrabnya, lagu 'Penting Yakin' ini diakuinya punya aransemen yang cukup kompleks, dan berbeda dengan lagu-lagu Ndarboy sebelumnya. Pada lagu ini, Ijal mengaku harus mengaplikasikan teori-teori gamelan yang sudah dipelajarinya ketika kuliah dulu.

Kemegahan lagu 'Penting Yakin' ini menggunakan beberapa instrumen musik yang memadukan beberapa unsur daerah, seperti suling Sunda, kendang sabet perangan Jawa, dan imbal saron khas Banyuwangi, kemudian dijadikan satu kesatuan dalam sebuah lagu dangdut yang sejak awal sudah terlihat mewah dan terasa 'Jawa banget'.

"Aku juga mencoba memberi sedikit pemanis seperti suara sinden di intro lagu dan gerong di interlude lagu ini, dengan harapan bisa membuat unsur musik di lagu ini terasa komplet dan megah," kata Ijal.

Ndarboy Tur Mandiri © 2022 brilio.net

Rijal Pamungkas (pemain bass, arranger)
© 2022 brilio.net/Bayu Atha - Stagedoc

Bukan hanya soal faktor kemegahan, Ijal juga tetap mempertimbangkan lirik lagu 'Penting Yakin' yang isinya soal perjuangan dan keyakinan. Saat mengaransemen, Ijal membayangkan adanya gonjang-ganjing dalam hubungan asmara dan melampiaskan emosi tersebut pada detail aransemen pada sepanjang lagu. Alhasil 'Penting Yakin' terasa sangat dinamis dari awal sampai akhir lagu.

"Saat mulai mengaransemen aku juga membayangkan adanya cerita tentang Rahwana dan Sinta, bumi gonjang-ganjing seperti cerita-cerita pada pewayangan," pungkas Ijal.

"Lagi-lagi ini jadi 'PR' kami, Ndarboy dan Genk Band, yang sejak awal berkomitmen ingin membuat dangdut menjadi musik yang tetap punya kualitas, bukan melulu musik kampungan dan dipandang sebelah mata. Kami akan terus berjuang membuat musik dangdut 'naik kelas' dan semakin mendunia. Ojo isin ndangdutan. Jowo iso!" ujar Ndarboy menimpali.

Ndarboy Tur Mandiri © 2022 brilio.net

Ndarboy Tur Mandiri
© 2022 brilio.net/Bayu Atha - Stagedoc

 

Lagu 'Penting Yakin' ini dirilis pada Rabu 9 Februari 2022, bertepatan dengan Hari Pers Nasional (Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia). Menurut Ndarboy, momen ini bukan suatu kebetulan belaka.

"Dari lubuk hati yang paling dalam, Ndarboy beserta tim sangat mengapresiasi dan berterima kasih pada profesi wartawan, terutama bagi mereka yang selalu pontang-panting bekerja di lapangan mencari bahan berita, mengumpulkan data, dan berusaha membuat kabar yang informatif dan jujur. Secara tidak langsung, beberapa lirik lagu 'Penting Yakin' sebenarnya juga sangat relate dengan mereka, yang selalu meyakini dan mencintai pekerjaan mereka sebagai wartawan dengan sepenuh hati, meski masih ada yang menganggap profesi mereka tak begitu penting dan dianggap remeh," papar Ndarboy.

Selain itu, video seri musikal 'Penting Yakin' ini juga masih dibuat oleh Bagoes Kresnawan dari GAS.ID. Mulai Rabu 9 Februari 2022, 'Penting Yakin' sudah mengudara dan bisa dinikmati di gerai-gerai musik digital dan tentu saja di channel YouTube Ndarboy Genk. Selamat menikmati lagu dangdut megah dengan perpaduan instrumen daerah Nusantara. Penting Yakin!

***

Informasi tambahan, Ndarboy sudah merampungkan #MyTourSuwun, tur promo album kedua Cidro Asmoro yang dilakukan selama Januari. Tur mandiri ini berhasil menjelajah panggung-panggung musik 18 kota, dari Jawa, Bali, hingga Papua.

Tapi apakah cuma sampai di situ saja?

"Jadi untuk Februari rencananya kami akan istirahat dulu, kembali ke Jogja, berkumpul dulu dengan keluarga masing-masing setelah kita tinggal selama satu bulan. Kalau tidak ada halangan, #MyTourSuwun akan kembali kami lakukan mulai Maret. Kalau Januari kemarin kita ke timur, untuk Maret besok kita akan coba ke arah barat, tidak menutup kemungkinan sampai Sumatera. Naik bus lagi, bareng-bareng satu tim 'hidup di jalan'," kata Ndarboy membocorkan sedikit rencananya ke depan.

-

 

Wawancara eksklusif Ndarboy tentang album Cidro Asmoro

Ndarboy Tur Mandiri © 2022 brilio.net

Ndarboy Tur Mandiri
© 2022 brilio.net/Bayu Atha - Stagedoc

Di penghujung 2021, Ndarboy yang bernama asli Helarius Daru Indrajaya (Daru) itu merilis album penuh keduanya bertajuk Cidro Asmoro. Berbeda dengan album pertamanya Pusakarya (2019) yang hanya dirilis secara digital, kali ini Cidro Asmoro dikemas secara spesial dengan rilisan terbatas berbentuk boxset album fisik.

Menurut Ndarboy, lirik dan lagu Cidro Asmoro sudah ditulisnya selama dua tahun. Album 10 lagu yang berasal dari kisah nyata itu mengangkat perjalanan kisah asmara yang cedera dan merana, lalu dibawakan dengan lirik serta aransemen pop dangdut Jawa (campursari) ala Ndarboy yang khas.

Berikut wawancara eksklusif brilio.net dengan Ndarboy di kediamannya, Markas Besar Balungan Kere (Mabes Balker), Pandak, Bantul, Yogyakarta, Selasa (11/1).

-

Target konser Ndarboy ingin diselenggarakan di mana?
"Target konser saya penginnya di Suriname, Belanda. Ya napak tilas lah, perjuangannya almarhum Didi Kempot yang menyambung silaturahmi orang-orang Jawa di sana dengan di Indonesia. Itu kan, kenapa nggak di kota-kota yang mewah, New York dan lain-lain tapi Pak Didi memilih di Suriname. Karena di sana masih banyak saudara-saudara kita, makanya saya penginnya ke Suriname, setelah itu Belanda terus ke yang lain-lainlah. Tapi sebetulnya udah mau berangkat ini di serangkaian tour Album Cidro Asmoro ini, kan Jawa-Bali-Papua sama Sumatera. Kalau Sumatera tanggalnya baru dirundingkan. Kalau kita berangkat 'gongnya' di Suriname pun bisa, tapi kalau kita pulang kita harus karantina."

-

Siapa penyanyi yang ingin Ndarboy ajak kolaborasi tapi belum terwujud?
"Almarhum Didi Kempot, dulu sebetulnya itu udah mau berkolaborasi. Intinya sudah ketemu sudah mau berkolaborasi. Aku mau sowan (berkunjung) untuk memastikan itu semua, liriknya, nadanya dan lain-lain. Rencana minggu depan, terus di minggu depan itu, rencana besok pagi. Aku udah bilang itu, 'Bu, aku mau ke Ngawi belikan batik'. Ya udah, untuk memberikan baju Pak Didi Kempot, saya mau sowan (berkunjung). Moga-moga bisa fix berkolaborasi.

Keesokan harinya pas ibuku baru cari batik, aku dibangunin ibu, 'Nak, nak, Pak Didi meninggal dunia..' gitu. Saya nulislah lagu yang judulnya Kembang Mawar. 'Dudu klambi anyar sing tak gowo, tapi kembang mawar sing tak tabur ning pesarean', ya bener kan? Aku niatnya mau bawa baju baru, tapi malah bunga mawar yang tak bawa seperti itu.

Tapi kalau sekarang ya, sekarang mau buanget Sheila On 7, aku ngefans banget. Kemarin Mas Duta live itu sampai aku spam terus, nggak dibaca-baca to, terus mau akhir-akhir live itu Mas Duta bilang, 'Ndarboy, semangat ya!'. Gitu doang, itu juga sueneng aku. Musisi yang berproses dari nol to, setahu saya itu dari SMA apa dari muda dia udah main musik, sampai sekarang dan karya-karyanya sungguh luar biasa dan dia juga dari Jogja. Semoga terealisasikan, amin.

Terus yang kedua, Endank Soekamti, karena Endank Soekamti itu jiwa membaraku ya. Ya maksudnya yang membuat aku punya boxset ini, sampai aku punya cita-cita besok aku bakal punya boxset, aku bakal punya CD, aku harus punya rilisan fisik dan lain-lain. Ya karena melihat proses dari Endank Soekamti, gitu."

-

Apa filosofi di balik tour dan album bertajuk Cidro Asmoro?
"Tour-nya Cidro Asmoro, ya Cidro Asmoro ini nama tajuk albumku kan. Karena saya pengin menyapa teman-teman di kota-kota sana yang saya pikir selama ini mereka cuma mendengarkan laguku. Dengan viewers di YouTube-ku yang puji syukur yang seperti itu, berkat teman-teman penikmat itu. Tapi saya nggak tahu nih, orangnya yang mana, yang nonton siapa, kok viewers-ku bisa jutaan itu beneran atau nggak, kan gitu. Makanya saya pengin tour ini, pengin menyapa mereka dan banyak juga yang ternyata, kayak kemarin di Kebumen, Demak itu mereka tahu lagunya pas konser nyanyi semua, tapi pas aku nongkrong di alun-alun dia nggak tahu orangnya. Padahal itu menurutku hampir 50% orang-orang Batang tahu berita, itulah karena dibantu tim media setempat juga kan. Tapi ya nggak tahu orangnya tapi tahu lagunya, ya itu. Terus kenapa dikasih Cidro Asmoro, banyak orang yang gini 'aku lagi cidro kok', itu kan kesannya aku sedang sakit hati. Padahal cidro itu bukan sakit hati, tapi cidro itu mengingkari janji. Cidro dan Asmoro, jadi suatu harapan yang diingkari, jadinya sakit hati. Kenapa saya memilih Cidro Asmoro itu karena di dalam kehidupan pasti kita akan menemukan asmoro, tapi kita juga akan menemukan cidro. Yang sudah cidro belum tentu tidak bakal menemukan asmara. Terus yang sudah menemukan asmara, belum tentu itu jodohmu dan kamu suatu saat akan cidro jika belum menemukan jodohnya.

Makanya di album ini juga saya menceritakan tentang proses perjalanan mencari jodoh, mencari nasihat orang tua, mencari jati diri lah. Ini jati diri saya ini proses asmara saya dari zaman saya jualan pecel sampai sekarang. Makanya di video klip series-nya pun ceritanya itu cerita real saya dulu. Saya jualan pecel, saya angkat menjadi video klip series yang kemarin yang sudah rilis itu berjudul 'Moro Moro Teko', itu track pertama dan menjadi episode pertama juga. Dari 10 lagu yang serangkaian, saling berkesinambungan, saya pun nulisnya pakai emosi yang apa ya, 'aku bar moro-moro teko', aku flashback lagi, aku dulu pas diputusin gimana rasanya, itu sampai lagu di terakhir 'Selamat Tinggal Kasih'. Dan di sini lagu penguncinya adalah 'Moro Moro Teko' episode satu, 'Teko Lungo' episode lima, terus 'Moro Moro Lungo' episode sembilan. Ceritanya gimana, nanti tunggu saja di channel YouTube-nya Ndarboy Genk, harus mengikuti lah, kalau nggak ya 'blong' pasti. Terus 'Moro Moro Teko' itu kan juga sama, di bulan Januari kita rilis single 'Moro Moro Teko', dan juga konsepnya hampir sama kayak tour sebetulnya di dalam lagu ini. Ndarboy Genk Moro Moro Teko di kota-kotanya saudara-saudara."

-

Harapan Ndarboy dari tour album Cidro Asmoro?
"Harapannya ya, kita mengurus izin, kita mengurus semuanya. Yang dulunya kita manggung, pulang bayaran. Tapi ini kita harus mempersiapkan jualan tiket, kita mempersiapkan promo, kita mempersiapkan perizinan dari promotor dan dibantu juga dari teman-teman semuanya kan, Volcano juga dari teman-teman Jogja. Harapannya adalah biar saya itu mengerti proses. Jujur ya, dulu aku pernah mengalami star syndrome itulah, tapi ternyata aku nggak sadar yang sadar itu orang tuaku, orang-orang di sekelilingku, keluargaku. 'Kamu kok sekarang sombong, kamu kok begini, apa-apa kok ingin dibeli?'.

Mungkin dengan adanya tour ini, harapannya adalah aku, mungkin aku sendiri ya bisa lebih menghormati dan aku bisa lebih mencintai pekerjaanku lagi. Dan ternyata di setiap tour, setiap show itu yang dulunya aku cuma dipanggil manggung, ternyata mempersiapkan aku manggung itu di luar sana itu banyak panitia yang susah payah mencari donatur, mencari sponsor, gimana caranya jual tiket, gimana caranya itu biar ramai. Nah, di tour saya ini jadi mengerti bisa menghormati sebuah proses pertunjukan, itu secara teknis ya.

Tapi kalau secara harapanku pribadi sebagai seniman atau artis atau penyanyi, saya harap teman-teman semua walaupun di masa pandemi ini hampir dua tahun, kita cuma bisa berkarya di digital dan lain-lain menyapa teman-teman dari karya digital. Harapannya, ayo kita berani untuk bergerak walaupun kondisi sedang tiarap. Bergerak dululah, tapi bergerak harus dengan prosedur dan juga aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Maksudnya, kita ngurus perizinan dengan sebagaimana mestinya di situ juga dengan protokol kesehatan. Sepertinya kami sudah melaksanakan itu, dengan Peduli Lindungi, masuk dengan cuci tangan dan lain-lain. Dan di tempat juga sudah ada kursi, sudah ada barikade, ada sekat, ada batas-batasannya, jaga jarak, aturan-aturan dan lain sudah ada. Tapi karena itu tadi, antusias dari teman-teman. Tapi saya nggak menyalahkan teman-teman, karena kerinduan kita akan event itu luar biasa.

Kalau kalian tahu sebetulnya yang di atas panggung yang di foto-foto di sosmed-nya Ndarboy itu di luar masih banyak yang mau masuk, yang sudah masuk pun duduk pengin berdiri pengin loncat-loncat dan lain-lain. Jadi ya nggak bisa disalahkan juga, karena ibaratnya kalau kamu punya pacar LDR, sayang sama pacarnya, kalau ketemu nggak mungkin kamu jaga jarak, tetap pelukan. Seperti itulah maksudnya, rasa kangennya sampai kayak kita kangen sama pasangan kita itu loh. Saya merasakan atmosfer itu dan saya pun juga sudah 'tolong, tolong duduk di tempat, jangan berdiri', nggak bisa itu. Seperti itulah, gambaran perasaan yang saya rasakan di tour ini.

Jadi harapannya ya itu tadi, biar teman-teman bisa bergerak dan juga saya pengin mengobati rasa luka di dalam teman-teman. Yang biasanya orangnya sakit hati nangis di pojokan sendirian mendengarkan laguku. Ya, sekarang ayo nangis bareng-bareng, mengeluarkan apa unek-unekmu. Jadi konsep ambyar, konsep nyenyeh, konsel full cemberut. Itu di dalam konser Ndarboy Genk itu konsep yang bukan maksudnya kamu datang untuk semakin terpuruk, tapi kamu datang ke konser Ndarboy Genk, ayo lepaskan, kita dengan euforia dan semangat dari musiknya dangdut yang 'tung tak dang tak' dengan lirik-liriknya yang menyentuh menjadi soundtrack di hidupnya, dia lepaskan semuanya ya itu namanya diambyarkan, dinyenyehke itu artinya dilunturkan, kamu cemberut di situ tapi setelah dia nonton konser dia pulang, dia mempunyai energi positif lagi.

'Oh ternyata Ndarboy Genk yang nulis lagu loh, yang nulis lagu tentang sedih-sedih ini', yang bisa jadi soundtrack-mu saat kamu sedih aja aku bisa turun panggung dengan bahagia dengan puas bertemu kalian semua, ya kalian juga harus pulang setelah mendengarkan lagu-laguku ya dengan bahagia lagi begitu, konsep panggungnya seperti itu."

-

Di era digital ini, distribusi album Cidro Asmoro ini kenapa pakai boxset? Awal mulanya seperti apa?
"Ndarboy Genk itu berproses dari digital emang, dari YouTube. Jadi dulu saya jualan pecel, saya gitaran, saya rekaman, saya ngutang ke sana-ke sini. Terus saya upload begitu saja di YouTube, sudah aku anggap itu anakku yang besok bisa jadi mandirilah dan ternyata benar. Lama kelamaan memang dunia digital itu mengerikan ya, tanpa kita bisa sentuh, tanpa kita bisa lihat, tapi kita bisa merasakan. Kok tahu-tahu laguku diputer di Indomaret, wah ya suatu kebanggaan. Suatu band lagunya diputer di Indomaret itu sudah senang menurutku, zaman dulu loh. Oh, ternyata laguku bisa diterima ya dari distribusi YouTube sampai sekarang, radio semua dengerin lagu-laguku, terus di YouTube rekomendasi lagu-laguku dan lain-lain.

Sampai di tahun 2020, Ndarboy Genk sampai kapan kita di zona nyaman? Kalau kita nggak keluar dari zona nyaman kita nggak akan lebih kreatif. Menurut saya, selama 2016 itu sampai 2020 saya dari digital itu ternyata juga ada mafianya. Dari master saya dicuri sama orang, masterku dilisensikan oleh orang, dulu nggak tahu kan asal upload. Terus aku mempelajari tentang lisensi itu seperti apa. Terus YouTube-ku kok penghasilannya cuma segini dari adsense, oh ternyata saat kita cuma adsense itu kita cuma jadi ibaratnya honorernya YouTube makanya harus konten ED, kita mempelajari konten ED. Wah, lagu-laguku di-cover orang, yang ngover banyak nggak izin. Mau ngamuk tapi mereka juga memperkenalkan laguku jadi berkah buat mereka, jadi rezeki buat mereka. Dan saya itu tipikal kalau di-cover silakan, karena saat karya itu bisa jadi berkah, saat bisa jadi rezeki buat orang lain berarti anakku berguna untuk orang lain intinya gitu. Tapi kalau nggak izin kan terkadang, hasilnya segini tapi kok nggak izin.

Sedangkan aku, cicilanku banyak nggak bisa bayar zaman segitu maka itu saya mempelajari dunia publishing. Setelah dunia publishing, platform-platform digital, aplikasi-aplikasi karaoke kok nggak izin sama aku, padahal laguku di situ banyak dan mereka dapat uang dan lain-lain. Aku mempelajari tentang hak cipta, terus somasi dan lain-lain. Bagaimana kita somasi orang, ya itulah panjang pokoknya proses perjalananku, proses pembelajaranku di digital itu sudah cukup nih, dasarku udah cukup, aku udah tahu semua. Aku sudah tahu teknisnya dan lain-lain, dan orang-orangnya aku sudah tahu, circle-nya.

Terus di tahun 2020, saya buka rekaman HP saya. Kalau nggak percaya ini sampai sekarang nggak tak ubah-ubah. Ada sekitar 2.300 (lagu) sampai hari ini. Di waktu itu 2020 setahu saya itu nggak sampai 2.300, ini kan tadi malam sudah buat lagu juga, seribu tujuh ratus berapa gitu. Saya kembali buka memo saya, dari zaman dulu saya jualan pecel itu masih ada. Terus ada HP saya yang di sana Android, dulu belum pakai iPhone, pakai Android Oppo, itu masih ada yang merah itu juga ada sekitar seribuan yang saya kelola. Saya dengarkan setiap malam dari 2020 itu untuk menulis lagu-lagu di dalam album Cidro Asmoro ini, serangkaian.

Jadi lagu di dalam album Cidro Asmoro ini sepuluh lagu itu isinya aku pikir serius, aku rasakan beneran. Rasanya seperti apa, proses perjalanan gimana. Setelah jadi sepuluh lagu semuanya, karena dulu Ndarboy Genk itu membuat yang sukses ya, ya yang menurut saya jadi berkah, jadi rezeki, jadi hasilnya itu Trilogi Balungan Kere, Trilogi Lintang Sewengi-Ojo Nangis itu. Sepuluh lagu itu sebetulnya mau tak buat video klip series. Tapi kok sayang, aku digital ya cuma begini-begini aja, aku udah tahu, terus aku memantapkan diri untuk keluar dari zona nyaman biar bisa lebih kreatif. Makanya saya memilih sepuluh lagu itu serangkaian kisah cidro lan asmoro itu, saya kemas menjadi boxset album Cidro Asmoro dan juga CD begitu. Tapi nantinya juga akan dirilis menjadi video klip musikal series bersama mas Bagustikus (Bagoes Kresnawan) itu yang merealisasikan. Jadi, lagu-lagu di dalam sini akan dirilis menjadi video klip musikal series.

Terus ada yang tanya juga, yang idealis banget dia kolektor fisik ya. 'Loh, kenapa kamu jualan fisik kalau kamu bakal rilis lagumu di digital?'. Ya tapi, sah-sah aja, karena kita konsepnya beda loh. Saat kamu lihat di digital ya kamu tahu ceritanya, kamu tahu visualnya, tahu lagunya, dan lain-lain tanpa membeli boxset biasanya. Terus kalau yang membeli boxset, berarti kamu ikut melestarikan dan juga kamu ikut mendukung proses produktivitas seniman tersebut. Jadi menurutku boxset ini juga menjadi jaring, saringan, buat selama ini aku berkarya itu siapa orang yang benar-benar cinta dengan karya-karyaku, cinta dengan Ndarboy Genk, ya yang beli boxset ini. Dan ini mempunyai value yang berbeda, ini boxset pertama dan sekarang harganya Rp 400 ribu, saya percaya suatu saat aku sudah mempunyai album yang ke berapa harga boxset ini kalau sudah habis mungkin dikolektor bisa lebih harganya. Bukan karena harga nilainya tapi karena storynya, ceritanya.

Dan ini menurut saya, di dalam album Cidro Asmoro ini setelah saya review ke teman-teman seniman, musisi-musisi itu pada ngomong 'Kok ini lagunya up semua, emosinya kok bagus semua'. Ya itu tadi kembali ke pembicaraan yang tadi, aku benar-benar melihat asetku untuk saya tulis di sini, pokoknya di dalam sepuluh lagu ini menurutku lagu yang benar-benar andalanku, notasinya, aransemennya dan lain-lain. Padahal biasanya kalau orang atau seniman kebanyakan membuat album itu biasanya dia mementingkan alurnya. Oh, lagu pertama di-der (up), lagu kedua dibuat santai dulu, mungkin dia bisa membuat yang lebih juga tapi mending ini buat album selanjutnya. Mungkin yang Pusaka (album pertama) itu di dalam albumnya itu mungkin cuma ada tiga atau dua lagu, kalau ini semuanya mempunyai arti dan mempunyai makna di dalam kisahku.

Jadi album pertamaku ini kenapa harganya Rp 400 ribu, kok mahal banget? Ya ini aku membuat ini tanpa sponsor aku.. Sedih aku.. Aku manggung nggak bayaran hampir satu bulan lebih, yang penting anak-anak terbayar, aku menabung, terus ada beberapa dari kebutuhan keluarga yang harus aku cukupi dan lain-lain. Aku harus mengeluarkan ini dengan dana pribadi dan menjual pribadi dan ternyata jualan fisik itu sulit. Tapi aku nggak pernah menyalahkan itu, karena konsepku dari awal aku pengin menjaring siapa ini yang senang beneran dengan albumku. Dan mungkin suatu saat aku ketemu sama orang yang membeli itu, aku bakal lebih mengapresiasi seperti kamu mengapresiasi karyaku sebagai aku Ndaru dan kamu yang membeli boxset-ku. Dan aku percaya buat teman-teman yang membeli boxset-ku ini adalah kenang-kenangan terbaikku buatmu."